TIPS : Menyokong Kehidupan TN Laut Bunaken

Jumat, 17 Juli 2009

Menemukan bulu babi dengan wujud duri hitam panjang-panjang dan sepasang mata mengkilat warna putih di pantai liang dan titik-titik lain TNLB? Ini termasuk salah satu pertanda berubahnya ekosistem laut. Asalnya bisa dari serpih-serpih sampah dan ceceran limbah yang bertumpuk membentuk koloni hewan-hewan baru.

Meski demikian, masih terselip kebanggaan karena disinilah di temukan iklan purba Coelacanth (latimeria menadoensis) atau di kenal local sebagai “Raja Laut”. Ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan untuk menyokong kelangsungan TNLB:

1. Membawa kantong plastik sebagai wadah sampah pribadi saat menginap di bungalow, naik perahu dan beraktivitas. Pastikan untuk membuangnya ke tempat sampah atau dibawa pulang kembali (tidak di buang di pulau).
2. Mengenakan pelindung kaki untuk mencegah terkena pecahan beling dan tutup botol dari logam yang kini mudah di jumpai di sepanjang pesisir, serta membawa kantong plastik untuk menampung benda-benda berbahaya itu.
3. tidak membuang sampah yang sulit terurai secara alami selagi tinggal di pulau. Seperti aneka plastik pembungkus dan baterai kamera atau senter.
4. Hemat pemakaian air selagi tinggal di pulau, baik untuk mandi atau mencuci pakaian.
5. Tidak membuang puntung rokok sembarangan, termasuk ke laut.
6. Tidak menginjak koral selagi snorkeling atau menyelam, termasuk menyentuhnya dengan tangan apalagi memetiknya.

Oleh MANGGALANI R. UKIRSARI
National Geographic Traveller Vol. 1 No. 3 2009




Read More / Baca Selengkapnya....

Bunaken Bebas Sampah

Arus dan gelombang mengantar buangan darat dan perairan ke taman nasional laut. Perlu dipertanyakan lagi, nilai-nilai ekosIstem, etika sampai estetika.

Tengah malam menjelang perayaan Natal 2008, muka air laut di pantai Liang, Pulau Bunaken, surut Hingga jauh ke tengah. Beberapa orang menandai peringatan tibanya musim barat dan hari istimewa itu dengan membuat api unggun. Materinya diambil dari sampah-sampah yang tercecer sepanjang garis pantai. Dikumpulkan menjadi beberapa onggokan,lalu disulut korek nyala.
Toh, ketingian ’bukit sampah’ yang dihasilkan tadi belum seberapa. Sehari kemudian, hujan menderas hingga dua hari berturut-turut, Cuma reda sejenak dan sesudahnya air kembali mengguyur. Muka air laut meninggi, ombak berbuih putih kelabu, susul-menyusul menggempur pantai sembari mengirim limbah. Mulai plastik hingga potongan kayu.

Badai itu sendiri dasyat, terlebih saat perahu para penyelam tak bisa lego jangkar dipantai Liang, Juga di dermaga pintu masuk Tanaman Nasional Laut Bunaken (TNLB). Mereka mesti putar arah dan berlabuh di Alung Banua yang berhadapan dengan Manado Tua.

Hari ketiga, hujan merintik dan muka air laut berangsur normal. Kaki-kaki kami bisa kembali menjejak pasir pantai Liang – sebelumnya hanya berkelana keperkampungan tengah pulau akibat pasang naik berhari- hari. Pemandangan onggokan sampah berjejalan di pesisir, melebihi kondisi malam natal 2008.

Beberapa anggota masyarakat sekitar mulai membersihkan sampah ”Look, They put the rubbish in wheel-barrow and then dump it in the woods behind the beach!” cetus pejalan asing. ”Of course, it’s so simple,” balas Alos Aurelle, rekan pelancongan kami, dalam logat perancis kental.

Nyatanya, perkara sampah dimasukkan dalam gerobak beroda dan timbul ke rerimbunan belakang pantai tak berakhir begitu saja. ”Kami di Bunaken dan di pulau-pulau sekitar dianjurkan membakar sampah dan tidak boleh dibuang ke tepi pantai,” papar Ester Kasehung, manager Panorama Bunaken Indah Resort And Diving Center. “bila lalai, kami dikenakan denda pemerintah desa.”

Sampah telah menjadi ganjalan dan keperihatinan para pejalan sekaligus penduduk Bunaken. Tidak sedap di pandang mata, mengganggu aktivitas Snorkeling dan penyelaman, sekaligus membuat suram pesona TNLB di mata dunia.

Keresahan soal sampah tak kunjung usai ini disampaikan berbagai pihak, termasuk sekjen Depbudpar, yang kini menjabat sebagai Dirjen Pemasaran, petikan DR. sapta Nirwandar dalam situs Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata, dua tahun silam berbunyi. ”banyak daerah kawasan wisata bahari yang dulunya menarik wisatawan, karena terumbu karang dan biotanya yang masih terjaga, kini terancam kelestarianya akibat sampah dan limbah industri. Kawasan wisata bahari di Bunaken, Manado, sebagai contoh, kini dihadapkan pada masalah sampah yang cukup memperihatinkan.”

Pembangunan yang berlangsung marak dikawasan boulevard, jalan Piere Tendean, Manado, termasuk reklamasi pantai - dengan luas mencapai 8 hektar menurut Harian Kompas - menjadi salah satu sumber permasalahan. ”Sampah-sampah di Bunaken berasal dari Manado, tidak mungkin berasal dari sini atau pulau-pulau sekitar,” tambah Ester.

Pernyataan perempuan yang bermukiman 27 tahun di desa Bunaken itu beralasan. Seperti disebut tadi, penduduk Bunaken dan sekitarnya dikenai denda bila membuang sembarangan. Tambahan lagi, “Pemerintah setempat memberikan sarana berupa tempat sampah dan penyuluhan untuk membakar sampah.”

Dari pengamatan visual saat pelancongan di pulau Bunaken. Terlihat kepedulian masyarakat setempat akan tempat bermukim mereka. Semisal, di Desa Alung Banua, jalanan disemen, rumah-rumah ditata rapi dilengkapi tempat-tempat sampah dari kayu.

Namun keelokan itu tak tertahan, ketika mendekati pesisir pantai, seperti Liang dan Pangalisang. Aneka plastik bekas makanan instant, sabun cuci , potongan sampah kayu dan dahan terlihat mengapuk di permukaan taman nasional yang luasnya mencapai 89.065 hektar.

Basis data kawasan konservasi laut Indonesia mendeskripsikan kondisi oseanografi perairan Bunaken demikian, “arus permukaan laut mengalir ke arah timur laut sepanjang tahun, sejajar dengan pantai utara Sulawesi. Arus lokal yang dimotori pasang surut dan angin sangat komplek untuk dipetakan. Pada saat dan tempat tertentu terdapat arus yang kuat dan putaran arus.”

Kuatnya arus dan adanya perubahan fisik sepanjang pantai Manado, turut memberi andil terhadap pola arus lokal yang memuluskan pengiriman sampah ke TNLB. United Nations Environment Programme (UNEP) juga menyebutkan bahwa sampah lautan bisa tertiup ke jarak yang begitu jauh oleh angin, terapung di permukaan, terhanyut di kolom air sampai ke perairan dalam akibat arus hingga akhirnya tenggelam di dasar laut.

Mengkaji ulang keberadaan TNLB yang diresmikan pada 1991, area ini merupakan satu dari kawasan laut paling strategis di dunia, menurut sigi lokasi yang di lakukan Erdmann dan Meririll, Bunaken berdekatan dengan segitiga koral Papua Nugini, Indonesia dan Filipina yang merupakan kawasan dengan keberagaman hayati lautan terkaya di pasifik barat. TNLB juga menjadi penyokong kehidupan lebih dari 30 ribu penduduk sekaligus penyumbang sekitar 4,4 juta dolar AS pertahun di bidang pariwisata Tanah Air.

Jadi alangkah ironis bila nasibnya berkhir sebagai tempat sampah raksasa.


Oleh MANGGALANI R. UKIRSARI
National Geographic Traveller Vol. 1 No. 3 2009


Read More / Baca Selengkapnya....

Ragam Lingkungan Hidup dan Lautan Indonesia

Selasa, 07 Juli 2009

Kepulauan Indonesia memiliki surga bawah air yang tak perlu diragukan lagi. Posisinya pun strategis, di antara segitiga terumbu karang (the Coral Triangle) dengan keanekaragaman hayati melimpah. Status lautan, isinya serta kawasan sekitarnya dikategorikan sebagai :
Cagar Alam (CA),
Cagar Alam Laut (CAL),
Taman Wisata (TW),
Taman Wisata Alam (TWA),
Taman Wisata Laut (TWL),
Taman Wisata Alam Laut (TWAL),
Taman Nasional (TN),
Taman Nasional Laut (TNL),
Taman Laut (TL),
Suaka Margasatwa Laut (SML).

Berikut status yang disandang oleh pusat-pusat kekayaan dan keanekaragaman hayati Indonesia :
TL Pulau Weh,
TWA Pulau Banyak,
TWA Pulau Pieh dan sekitarnya,
CAL Bukit Barisan,
CAL Pulau Anak Krakatau,
TWA Pulau Sangeang,
TNL Kepulauan Seribu,
CAL Kepulauan Karimata,
CAL Leuweung Sancang,
CA / TW Pangandaran,
TN Krimunjawa,
TL Pulau Sangalaki,
TWA Kapoposang,
TWL Gili Air, Gili Meno, Gili Trawangan,
TL Pulau Moyo,
TWA Tujuhbelas Pulau,
TN Taka Bonerate,
TWA Teluk Lasolo,
TN Bunaken,
TN Wakatobi,
TWAL Teluk Maumere,
TWL Teluk Kupang,
TW Pulau Pombo,
TWA Gunung Api Banda,
CA / TL Banda,
TN Teluk Cedrawasih,
CAL Kepulauan Aru Tenggara,
SML Pulau Semama,
SM Pulau Kasa,
TWL Pulau Padaido.

Sumber :
Majalah National Geographic Traveller edisi Mei 2009



Read More / Baca Selengkapnya....

Lorin Hotel & Resort - BELITUNG - SENTRA HOTEL

Cukup jalan kaki 1 menit dan menyeberang jalan raya lengang menuju Pantai Tanjung Tinggi. Begitulah tawaran dari Lorin Hotel & Resort Belitung. Lanskap langit biru serta jajaran granit raksasa seperti menjadi penawar lelah, setelah menempuh perjalanan darat 1 jam dari Bandara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan.

Resort ini terpencil. Tapi justru di sinilah tetamu bisa memanja diri menikmati pemandangan alam pantai nan cantik. Setelah Tanjung Tinggi, bertandanglah ke Tanjung Kelayang menikmati kelapa muda. Atau menyewa perahu ke Pulau Lengkuas. Menapaki mercusuar warisan kolonial Belanda yang masih berfungsi.

Konsep bangunan Lorin Hotel & Resort Belitung berupa cottage, terdiri dari Deluxe Cottage dan Junior Suite. Total kamar 20 unit, terdiri 14 Deluxe da 6 Junior Suite. Tiap Cottage didesain rumah khas Belitung, berteras lantai kayu. Kamar mandi semi buka, dilengkapi shower air panas dan dingin. Khusus Junior Suite tersedia bathtub.

Soal lokasi resort di Kecamatan Sijuk yang cukup jauh dari bandara tak perlu dirisaukan. “Kami siap menjemput tamu dari bandara sekaligus menawarkan paket Lorin di hall kedatangan,” tukas Rachmad Syarif, Sales Executiv Lorin Hotel & Resort Belitung.

Harga kamar mulai Rp. 450.000 kelas Deluxe Room termasuk sarapan, belum termasuk biaya antar-jemput bandara; 0719 24100, 0852 67849429, 0878 9644 8877; http://lor-in.com/belitung

Sumber :
Majalah National Geographic Traveller Mei 2009



Read More / Baca Selengkapnya....

The Pacific Sutera Harbour Resort - KOTA KINABALU - SENTRA HOTEL

Bisa ditempuh lewat penerbangan Jakarta – Kuala Lumpur, diteruskan ke Kota Kinabalu (KK) di Provinsi Sabah, Borneo.

The Pacifik Sutera dari Sutera Harbour Resort menyediakan 500 kamar pada 12 lantai, dengan dua pemandangan pilihan: Laut China Selatan atau lapangan golf.

“Kami adalah pelopor resort di Asia Tenggara yang menyediakan akomodasi untuk dua tujuan wisata: darat (gunung Kinabalu) dan lautan (taman bahari Tunku Abdul Rahman),” tutur Samantha Siow, Communications Manager Sutera Harbour Resort di Kota Kinabalu.

Lokasi The Pacifik Sutera berdekatan The Magellan Sutera, dikelilingi padang golf 27-hole dan dikelola 1 manajemen.

Pemandangan romantis saat matahari tenggelam. Tetamu bisa menikmati dari balkon kamar, pantai milik resort atau jetty, di mana yacht lego jangkar.

Bila menginginkan santap malam seafood di Pulau Gaya, pihak resort bisa menyediakan fasilitas perahu. Juga kalau menginginkan snorkeling atau menyelam ditaman nasional laut Tunku Abdul Rahman yang terdiri dari Pulau Gaya, Mamutik, Sapi, Sulug dan Manukan. Lama perjalanan sekitar 15 menit.

Ada tiga kategori kamar di The Pacifik Sutera yang bisa dipilih: Deluxe Golf Garden atau Sea View, Club Rooms, Suite Rooms dan Presidential Suite.

“Tingkat hunian meningkat saat libur sekolah, Natal, tahun baru dan musim panas,” tambah Samantha. Kategori tamu beraneka. Penyelam, pasangan, pengantin berbulan madu dan keluarga.

Harga kamar mulai USD269 (Rp. 3,5 juta) kelas Deluxe Golf View termasuk sarapan: +60 88303900; http://www.suteraharbour.com/v2/pacific/

Sumber :
Majalah National Geographic Traveller Mei 2009




Read More / Baca Selengkapnya....

AMANWANA PULAU MOYO - SENTRA HOTEL

Amanwana

Konsep menyatu dengan alam merupakan menu utama Amanwana, sesuai makna namannya : Hutan Penuh Kedamaian. Pejalan yang menginginkan tetirah sekitar Laut Flores bisa berlabuh kesini. Menikmati hutan hujan tropis serta lautan kaya terumbu karang. “Kami menawarkan keunikan yang tidak bisa Anda dapatkan diberbagai resort di Bali dan sekitarnya,” papar Anjali Nihalchand, Media Communications Manager Amanresorts Press Office di Hong Kong.

Terdapat 20 hunian mewah di Amanwana, yang dibagi dua kategori : Jungle Tents dan Ocean Tents, berdekatan dengan hutan pantai Teluk Amanwana. Setiap tenda dilengkapi kanopi, dipadu lantai kayu dan dinding solid. Tempat tidur berdimensi super, dilengkapi kasa nyamuk. Fasilitas pendukung berupa sofa, kursi malas, pendingin udara, kamar mandi dan teras untuk bersantai.

“Sasaran konsumen kami beragam. Mulai penyelam, pasangan berbulan madu, pesta pernikahan, keluarga sampai grup kecil,” tambah Anjali.

Untuk memanjakan tamu, tersedia ruang santai dan ruang makan terbuka, perpustakaan sampai spa.

Dengan luas pulau hanya 350 m2, hutan kawasan ini dihuni aneka satwa. Seperti rusa, babi hutan, monyet sampai elang. Pendeknya, keasyikan mengapresiasi alam bebas dalam bingkai kemewahan sudah dimulai ketika melangkah ke luar tenda.

Atau menginginkan suasana yang lebih adventurous? Amanwana menyediakan wisata ke Pulau Komodo – kini masuk kandidat New 7 Wonders of Nature - berbasis kapal phinisi Amanika.

Kunjungan tamu ke Amanwana biasanya berlangsung Mei – November, puncaknya pada Juli, Agustus dan Maret. “Dimusim penghujan Januari – Maret, kondisi laut kurang bisa diprakirakan,” kata Anjali.

Pejalan dapat memilih penerbangan Bali – Moyo dengan pesawat apung Cessna Caravan (8 penumpang) atau helikopter Bell 206B Jetranger (2 orang), mendarat langsung di lingkungan resort. Sedang transportasi umum dilayani pesawat Trans Nusa tujuan Bali – Sumbawa diteruskan jemputan kapal dari resort.

Paket menginap mulai USD700++ (Rp 8,4 juta) di kelas Jungle Tent untuk 2 orang;
0371 22233;
http://www.amanresorts.com/amanwana/resort.aspx.

Sumber :
Majalah National Geographic Traveller Mei 2009




Read More / Baca Selengkapnya....