Belajar sejarah dari bait-bait puisi Jose Rizal, pilar-pilar gereja Barok dan reruntuhan Perang Dunia II.
”M agandang umaga. Boss, metro ta iyo,” saya menyapa sopir taksi begitu membuka pintu. Bersama sahabat lama yang tinggal di Quezon City, Deepa Mansukhani, kami masuk deepa mengacungkan jempol, mendengar saya ’bergaya’, bicara Tagalog. Padahal maksud saya cuma memaksa pak sopir supaya pakai argo saat mengantar kami kepelabuhan ferry dekat Roxas Boulevard. Hari itu Deepa berulang-tahun dan saya mentraktirnya berwisata ke Pulau Corregidor di Teluk Manila.
FAKTA SINGKAT Berbincang soal taksi, Manila tak ubahnya Jakarta. Mesti piawai memilih kalau tak ingin bayar mahal – karena sopir beralasan lupa menyalakan argo. Kami beruntung, pagi itu tak harus menembus Epifanio De Los Santos Avenue (EDSA). Jalan raya bebas hambatan Metro Manila yang menyerupai setengah lingkaran, menghubungkan Caloocan City di utara, sampai Passay City di selatan. Nadi pertama perekonomian ibukota Filipina ini terdiri dari jalan raya bebas hambatan dua arah, di tambah lajur khusus untuk Metro Rail Transit (MRT). Tiap ruas melayani sekitar 225 ribu kendaraan perhari. Terbayanglah keruwetan di setiap persimpangannya. Kondisi ini, menjadi salah satu alasan pejalan ingin cepat-cepat hengkang dari Manila. Padahal sebagai ibu negeri atas 7, 107 pulau yang tersebar di Laut Pasifik, Laut Filipina. Laut China Selatan sampai Laut Sulu, Lungsod ng Maynila – nama aslinya – menyimpan warisan sejarah.
Awalnya, bangsa Melayu tiba di Pulau Luzon untuk mencari tanah harapan. Manila jadi tumpuan, karena lokasi strategis diapit Teluk Manila dan Sungai Pasing. Tiga kepala pemerintahan beragama Islam; Rajah Sulayman, Rajah Matanda dan Lakandula bertahta disini. Kota itu dinamai ’ Maynilad ’, diambil dari nilad, bunga yang tumbuh sepanjang tepian Sungai Pasing. Pada 1570, bangsa Spanyol dipimpin Miguel Lopez de Legazpi mendarat di Manila, setelah singgah di Cebu (1565). Rajah Sulayman melakukan penyerahan kota secara damai.
Lalu kaum Hispanik membangun kota Intramuros yang berarti ’dalam tembok’, dengan luas 640.000 m persegi, tinggi tembok 6 m dan tebal 3 m. Kini Manila tumbuh menjadi megapolitan seluas 38,55 km2, populasi 1.660.714 orang (sensus 2 tahun lalu) dan menjadi sister city beberapa kota di dunia, termasuk Jakarta.
PEREBUTAN CORREGIDOR –
Dari Manila yang dipenuhi pencakar langit dan tingkat kemacetan sepadan Jakarta, kami bertolak ke Pulau Corregidor. Pelayaran bersama Sun Cruises dimulai dari Hover Ferry Terminal dekat Cultural Center di Roxas Boulevard. Sesampainya di North Dock satu jam kemudian, dijemput tramvia – sejenis bus terbuka agar peserta mudah menyimak peninggalan Perang Dunia II.
Corredigor merupakan pulau kecil di mulut Teluk Manila yang menghadap semenanjung Bataan. Namanya dari bahasa Spanyol, Isla del Corregidor, ”el corregidor” berarti ’koreksi’. Saat penundukan bagsa Hispanik, segala kapal yang masuk mesti berhenti disini untuk pemeriksaan dokumen.
Setelah menjadi bagian koloni kerajaan Spanyol, pada 1836 dibangunlah menara suar pertama dipulau berbentuk kecebong itu. Saat mengalami kekalahan, Spanyol menyerahkan Cuba, Puerto Rico serta kepulauan Filipina pada Amerika berdasar Perjanjian Paris 1898. Tentara Amerika Serikat juga mengambil-alih Pulau Corregidor dan membuat pangkalan militer bernama Fort Mills.
Sepanjang Perang Filipina (1941–1942), jendral Douglas MacArthur menggunakan Corregidor sebagai markas Tentara Sekutu. Pemerintah darurat Filipina juga dijalankan dari sini. Pelantikan Presiden Manuel L. Quezon dan wakilnya, Sergio Osmena dilakukan diluar Malinta Tunnel – yang menjadi pusat perlindungan. Perebutan kembali Corregidor oleh tentara pembebasan Amerika – Filipino berlangsung sengit selama 10 hari (16 – 26 februari 1945) dan Jepan harus menerima kekalahan.
Dalam tur ke Corregidor, secara sistematis pemandu wisata membawa tramvia menyusuri bagian-bagian pulau, dari Bottomside, Meddleside, Topside. Tail End dan Malinta Hill. Landmark terkenal dikawasan ini antara lain patung Jendral MacArthur ditambah komentar kondangnya, ”I shall return”. Kemudian makam para tentara berdasar religi, Filipino Heroes Memorial, MacArthur Park, Filipino – American Friendship Park, The Mile-Long Barracks, Middleside Barracks Parade Ground, Pacific War Memorial, rumah sakit, markas komando, landasan pesawat, ’Cine’ – gedung bioskop para tentara yang tinggal reruntuhan – , lokasi pendaratan pembebasan Corregidor oleh pasukan Para 503 Amerika Serikat dan relic peperangan berupa meriam, pelontar roket ditambah lorong-lorong perlindungan bagi tentara petugasnya. Serta menara suar yang merupakan warisan Spanyol.
Di luar reruntuhan dan puing peninggalan perang, karya arsitek untuk Pacific War Memorial terasa mengetuk hati para pengunjung. Kubah putih disentral kompleks dibuat berongga dan setiap 6 mei, sinar surya tengah hai akan jatuh menerangi altar dibawah kubah. Inilah saat hening sejenak, mengenang penyerahan tentara Amerika dan Filipina di Corregidor kepada Jepang.
TEMBOK INTRAMUROS –
Melongok pertumbuhan Manila yang begitu cepat, saya mengagumi semangat revitalisasi kota tua oleh pemerintah setempat. Perompak Laut Sulu, kaum China, Belanda, Inggris sampai tentara Jepang dan Amerika silih berganti memporakporandakan kawasan ini, hingga cuma menyisakan San Agustin Church sebagai satu-satunya gereja yang bertahan dalam kompleks. Satu hari bisa dibelanjakan disini, bertandang ke Fort Santigo, Rizal Shrine, San Agustin Church dan museumnya serta Manila Cathedral.
Namun Fort Santigo yang dilengkapi penjara bawah tanah tak terlupakan dalam sejarah Revolusi Filipina, karena pejuang revolusi institusional dalam bentuk damai, Dr Jose Protasio Rizal Mercado y Alonso Realonda atau lebih dikenal sebagai Jose Rizal pernah ditahan disini (1896). Pria berusia 35 yang terkenal sebagai penulis novel, jurnalis, ahli bedah, ahli mata, pelukis, pematung dengan kecakapan berkomunikasi lebih dari 20 bahasa itu menjadi target pemerintah Spanyol karena novelnya berisi kritik.
Rizal Shrine terletak di ujung Fort Santiago, menghadap Sungai Pasing dan terletak disebelah kiri Plaza Almas. Pada lobby, terdapat mural yang menggambarkan kondisi Rizal saat menghadapi regu tembak. Ruang pertama dinamai Chamber of Text. Isinya berbagai kutipan Rizal yang terkenal, seperti kebanggaan berbahasa, cinta tanah air hingga cinta kebenaran. Seluruhnya ditatah pada lempeng logam, menggunakan berbagai bahasa, merujuk pada kecakapan Rizal berbahasa. Juga terdapat koleksi buku-buku miliknya, puisi-puisi serta dua novel karyanya; Noli Me Tangere dan El Filibusterismo.
Ruang berikutnya, Contemplation Room. Tempat dimana Rizal menghabiskan hari-hari menunggu eksekusi. Ruang tahanan nya dulu digunakan sebagai gudang makanan dan pantry. Selanjutnya, terdapat Stairway Gallery yang mengantar ke lantai dua. Berbagai lukisan menggambarkan detik-detik kehidupan pahlawan nasional Filipina dipajang. Pintu keluar museum kecil itu menuju ke penjara bawah tanah dekat Sungai pasing.
Dari Fort Santiago, keanggunan gereja San Agustin (1604) yang mengantongi gelar situs warisan dunia UNESCO 1994 mengajak kaki mendekat. Desain Barok dengan pilar-pilar tinggi serta susunan batunya menyiratkan betapa banyak peristiwa sejarah dalam kawasan Intramuros sudah ia saksikan. Mural di dinding menyiratkan kedamaian, dipadu tempat lilin buatan abad ke - 14 yang tergantung dilangit-langit. Miguel Lopez de Legazpi dan para jendralnya, seperti Juan de Salcedo, Martin de Goiti dan Guido de Lavezaris dimakamkan disini.
San Agustin museum berseberangan dengan gerejanya. Pengunjung tidak diperkenankan memotret diruang pamer. Lantai pertama, Sala De La Capitulacion merupakan ruang pembuatan surat penyerahan Filipina kepada Amerika (1898). Diruang Sacristy, terdapat altar berlapis emas buatan 1650. Lalu ruang Sala Profundis, berfungsi sebagai mausoleum dengan langit-langit berhias fresco. Koleksi potret-potret tua San Agustin Church serta seluruh gereja ordo Agustinian di Filipina berada dilantai dua, lewat tangga batu granit dari Canton (dipasang 1780).
Manial Cathedral merupakan bangunan megah dengan kubah menjulang tinggi. Dibangun uskup Domingo de Salazar dibawah advokasi gereja Immaculate Conception og the Blessed Virgin Marry yang ditahbiskan Paus Gregorius XIII (1579). Setelah melewati berkali-kali gempa bumi, Manila Cathedral menjadi sasaran Revolusi Filipina, Perang Filipino – Amerika (1898-1902) dan pembebasan Manila Atas Jepang (1945). Yang bisa disaksikan kini merupakan rekonstruksi setelah rusak parah akibat peperangan.
MABUHAI FILIPINO
Rizal Park terletak diluar kompleks cagar budaya Intramuros. Disatu titik ditaman inilah Rizal dieksekusi, dinamai Bagumbayan. Rumput taman terlihat rapi, terdapat air mancur, dua taman (Chinese dan Japanese Garden) serta monumen Rizal Memorial, yang dijaga prajurit 24 jam. Puisi Mi Ultimo Adios yang ditulisnya menjelang detik-detik eksekusi dipahat di satu sisi.
Sungguh, sebuah wacana sejarah yang membuat pejalan mengerti lebih banyak sisi historis Filipina. Deepa menjemput saya di ujung taman, untuk tanghalian atau santap siang ke SM Megamall. Resto Kamayan merupakan pilihan jitu merasai kuliner kegemaran Pinoy. Ada chicken atau pork adobo (mirip semur), kare-kare (buntut sapi tumis saus kacang), lechon sa kawali (goreng babi), menudo (potongan daging babi disetup dengan kentang dan sayuran), camaron rebusado (udang goreng), dan tentu saja favorit saya, inihau na bangus – bandeng panggang tanpa tulang dicelup saus bawang putih dan cuka – dan sinigang na hipon (sayur asam udang).
Malam terakhir di Manila, menjelajahlah kami ke Remedos Circle, daerah malate. Sebuah lokasi hang out bagi pejalan lokal, pejalan asing, para pelaku seni, musisi sampai para penulis. Tersedia deretan Resto, Kafe, Bar sampai diskotek. Ya, diskotek yang marak di era 1980 –an serasa di hidupkan kembali.
Cafe Adriatico disebut-sebut sebagai ’kafe Filipina asli pertama’. buka sejak 1979, material kayu menjadi aksen interior, ditambah berbagai memorabilia. Tak boleh dilewatkan disini, meneguk Chocolate Eh! Namanya sudah di patenkan. Berupa coklat panas kental ala Sepanyol dari kakao asli yang dihidangkan dalam cangkir espreso. Bila megiginkan versi cair, tersedia Chocolate ah ! dan eh maupun ah, seolah mewakili kehangatan sambutan manila sebagai salah satu gerbang menuju kepulauan Filipina. Begitu bersahabat dan hidup. Seperti sapaan has para pinoy, ’mabuhay’; hiduplah.
National Geographic Traveller Indonesia
Read More / Baca Selengkapnya....