BELITUNG | SENTRA HOTEL

Jumat, 28 Agustus 2009

BELITUNG | SENTRA HOTEL

Lorin Hotel & Resort
Oleh MANGGALANI R UKIRSARI (National Geographic Traveller)

Cukup jalan kaki 1 menit dan menyeberang jalan raya lengang menuju Pantai Tanjung Tinggi. Begitulah tawaran dari Lorin Hotel & Resort Belitung. Lanskap langit biru serta jajaran granit raksasa seperti menjadi penawar lelah, setelah menempuh perjalanan darat 1 jam dari Bandara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan.

Resort ini terpencil. Tapi justru di sinilah tetamu bisa memanja diri menikmati pemandangan alam pantai nan cantik. Setelah Tanjung Tinggi, bertandanglah ke Tanjung Kelayang menikmati kelapa muda. Atau menyewa perahu ke Pulau Lengkuas. Menapaki mercusuar warisan kolonial Belanda yang masih berfungsi.

Konsep bangunan Lorin Hotel & Resort Belitung berupa cottage, terdiri dari Deluxe Cottage dan Junior Suite. Total kamar 20 unit, terdiri 14 Deluxe da 6 Junior Suite.

Tiap Cottage didesain rumah khas Belitung, berteras lantai kayu. Kamar mandi semi buka, dilengkapi shower air panas dan dingin. Khusus Junior Suite tersedia bathtub.

Soal lokasi resort di Kecamatan Sijuk yang cukup jauh dari bandara tak perlu dirisaukan. “Kami siap menjemput tamu dari bandara sekaligus menawarkan paket Lorin di hall kedatangan,” tukas Rachmad Syarif, Sales Executiv Lorin Hotel & Resort Belitung.

Harga kamar mulai Rp. 450.000 kelas Deluxe Room termasuk sarapan, belum termasuk biaya antar-jemput bandara; 0719 24100, 0852 67849429, 0878 9644 8877; http://lor-in.com/belitung



Read More / Baca Selengkapnya....

KOTA KINABALU | SENTRA HOTEL

Kamis, 27 Agustus 2009

KOTA KINABALU | SENTRA HOTEL

The Pacific Sutera Harbour Resort
Oleh MANGGALANI R UKIRSARI (National Geographic Traveller)

Bisa ditempuh lewat penerbangan Jakarta – Kuala Lumpur, diteruskan ke Kota Kinabalu (KK) di Provinsi Sabah, Borneo.

The Pacifik Sutera dari Sutera Harbour Resort menyediakan 500 kamar pada 12 lantai, dengan dua pemandangan pilihan: Laut China Selatan atau lapangan golf.

“Kami adalah pelopor resort di Asia Tenggara yang menyediakan akomodasi untuk dua tujuan wisata: darat (gunung Kinabalu) dan lautan (taman bahari Tunku Abdul Rahman),” tutur Samantha Siow, Communications Manager Sutera Harbour Resort di KK.

Lokasi The Pacifik Sutera berdekatan The Magellan Sutera, dikelilingi padang golf 27-hole dan dikelola 1 manajemen.

Pemandangan romantis saat matahari tenggelam. Tetamu bisa menikmati dari balkon kamar, pantai milik resort atau jetty, di mana yacht lego jangkar.

Bila menginginkan santap malam seafood di Pulau Gaya, pihak resort bisa menyediakan fasilitas perahu. Juga kalau menginginkan snorkeling atau menyelam ditaman nasional laut Tunku Abdul Rahman yang terdiri dari Pulau Gaya, Mamutik, Sapi, Sulug dan Manukan. Lama perjalanan sekitar 15 menit.

Ada tiga kategori kamar di The Pacifik Sutera yang bisa dipilih: Deluxe Golf Garden atau Sea View, Club Rooms, Suite Rooms dan Presidential Suite.

“Tingkat hunian meningkat saat libur sekolah, Natal, tahun baru dan musim panas,” tambah Samantha. Kategori tamu beraneka. Penyelam, pasangan, pengantin berbulan madu dan keluarga.

Harga kamar mulai USD269 (Rp. 3,5 juta) kelas Deluxe Golf View termasuk sarapan: +60 88303900; http://www.suteraharbour.com/v2/pacific/



Read More / Baca Selengkapnya....

PULAU MOYO | Amanwana | SENTRA HOTEL

Rabu, 26 Agustus 2009

PULAU MOYO | Amanwana | SENTRA HOTEL

Kilauan Tepi Pantai
Pilihan eksotis di lokasi terpencil. Menjamin aktivitas di kebiruan laut bebas hiruk-pikuk dan menjadikan tetirah terasa begitu pribadi. Oleh MANGGALANI R UKIRSARI (National Geographic Traveller)

Ada tiga lokasi akomodasi eksklusif tepi pantai yang kami bidik. Bahkan sebuah pantai pribadi, bila kenyamanan sekaliber itu yang diinginkan. Untuk tenda cantik premium, silahkan bertolak ke pulau Moyo di Laut Flores. Sedangkan bungalow idaman menghadap pantai berpasir putih selembut tepung, cukup siapkan penerbangan ke Belitung. Memadukan snorkeling dan menyelam dengan bermain golf, pilihannya bisa ke kota Kinabalu.

PULAU MOYO
Amanwana

Konsep menyatu dengan alam merupakan menu utama Amanwana, sesuai makna namannya: hutan penuh kedamaian. Pejalan yang menginginkan tetirah sekitar Laut Flores bisa berlabuh kesini. Menikmati hutan hujan tropis serta lautan kaya terumbu karang. “Kami menawarkan keunikan yang tidak bisa Anda dapatkan diberbagai resort di Bali dan sekitarnya,” papar Anjali Nihalchand, Media Communications Manager Amanresorts Press Office di Hong Kong.

Terdapat 20 hunian mewah di Amanwana, yang dibagi dua kategori: Jungle Tents dan Ocean Tents, berdekatan dengan hutan pantai Teluk Amanwana. Setiap tenda dilengkapi kanopi, dipadu lantai kayu dan dinding solid. Tempat tidur berdimensi super, dilengkapi kasa nyamuk. Fasilitas pendukung berupa sofa, kursi malas, pendingin udara, kamar mandi dan teras untuk bersantai.

“Sasaran konsumen kami beragam. Mulai penyelam, pasangan berbulan madu, pesta pernikahan, keluarga sampai grup kecil,”tambah Anjali.

Untuk memanjakan tamu, tersedia ruang santai dan ruang makan terbuka, perpustakaan sampai spa.

Dengan luas pulau hanya 350 m2, hutan kawasan ini dihuni aneka satwa. Seperti rusa, babi hutan, monyet sampai elang. Pendeknya, keasyikan mengapresiasi alam bebas dalam bingkai kemewahan sudah dimulai ketika melangkah ke luar tenda.

Atau menginginkan suasana yang lebih adventurous? Amanwana menyediakan wisata ke Pulau Komodo – kini masuk kandidat New 7 Wonders of Nature - berbasis kapal phinisi Amanika.

Kunjungan tamu ke Amanwana biasanya berlangsung Mei – November, puncaknya pada Juli, Agustus dan Maret. “Dimusim penghujan Januari – Maret, kondisi laut kurang bisa diprakirakan,” kata Anjali.

Pejalan dapat memilih penerbangan Bali – Moyo dengan pesawat apung Cessna Caravan (8 penumpang) atau helikopter Bell 206B Jetranger (2 orang), mendarat langsung di lingkungan resort. Sedang transportasi umum dilayani pesawat Trans Nusa tujuan Bali – Sumbawa diteruskan jemputan kapal dari resort.

Paket menginap mulai USD700++ (Rp 8,4 juta) di kelas Jungle Tent untuk 2 orang; 0371 22233; http://www.amanresorts.com/amanwana/resort.aspx.




Read More / Baca Selengkapnya....

PATUT DIINGAT KETIKA AKAN MENGINAP | Berpaling dari Kemewahan

Selasa, 25 Agustus 2009

Bicara soal menginap di hotel, tinggal dengan cara berhemat merupakan tren terbaru yang terjadi dalam induistri perhotelan. Para pejalan di masa resesi saat ini khususnya para pejalan bisnis telah meninggalkan jaringan-jaringan ultra mewah separti Four Seasons dan Ritz Carlton dan sebagai gantinya mereka menginap di kamar-kamar bertarif lebih rendah yang termasuk jaringan hotel seperti Kimpton dan JW Marriott.

``Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menikmati kemewahan berlebihan,’’ papar konsultan industri pelayanan (hospitality) dari San Francisco, Andrew Freeman. Tapi apakah pendapat ini mewakili kondisi yang sesungguhnya ? kini banyak jaringan hotel tingkat menengah yang menyediakan selimut bulu angsa, sarana kebugaran dan perawatan tubuh, serta perlengkapan tempat tidur dari bahan-bahan yang berkualitas tinggi.

Sementara di saat yang sama, hotel-hotel bintang lima tengah dibelenggu tiga permasalahan : tamu-tamu yang mendadak miskin hingga tidak mampu lagi membayar segala macam tagihan. Termasuk dalam golongan itu adalah para pejalan bisnis, yang tidak ingin terlihat seakan mereka masih bergelimang kekayaan dan menghindari hotel-hotel ultra mewah dan berpaling ke hotel jaringan menengah.

Bagaimana sebaiknya menyikapi kondisi itu? Hotel-hotel eksklusif bisa saja menurunkan tarif, tapi tidak akan merusak citra dan keberadaanya. Jadi, kita perlu rajin mencari jaringan hotel yang mencoba manawarkan kemewahan tanpa perlu membayar mahal. ANDREW NELSON.


From :
National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

TIPS Menjadi Hotel yang Diidamkan

Senin, 24 Agustus 2009

Selain melakukan investasi terhadap seluruh bangunan, perabot hotel dan semua perangkat rumah tangga, pihak hotal juga melakukan investasi tenaga kerja terlatih dan pilihan. Pihak manajemen melaksanakan pelatihan kepada seluruh karyawan terutama dalam hal safety, security dan service.

Karyawan baru akan mendapat pelatihan pengenalan produk serta berbagai hal berkait etika. Di antaranya yang disebut berikut ini:

• Tata cara berhadapan dengan tamu di meja resepsionis.
• Cara menerima telepon.
• Memberi salam kepada tamu yang datang.
• Menyapa tamu dengan memanggil nama.
• Cara meminimalisasi kesalahan saat memberikan layanan kepada tamu.
• Cara mengatasi komplain.

Anda dapat turut membantu pihak manajemen menjadikan hotelnya sebagai tempat idaman, dengan memberikan komentar pada lembar `kritik, pujian dan saran’ yang terdapat di kamar atau meja resepsionis. Tulislah nama petugas yang sangat membantu Anda, tulis pula bagian paling menyenangkan di hotel agar dapat terus dipertahankan kondisinya.


From :
National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

ETIKA Tamu yang Disegani

Minggu, 23 Agustus 2009

Hotel merupakan tempat umum yang terdiri atas berbagai macam tipikal orang. Untuk tinggal di sana, kita harus memiliki kontrol diri dan berpijak pada etika. Ikut menjaga agar keselarasan hunian senantiasa tercipta. Beberapa contoh:

• Sejak masuk lobby, biasakan berbicara dengan pelan dan budayakan antri.
• Taati semua peraturan yang berlaku, seperti peraturan check in dan batas waktu check out. Apabila ingin mengulur waktu check out harus memberitahu petugas yang berwenang.
• Tidak membawa pulang barang-barang hotel yang tidak bertuliskan `compliment’.
• Bila memiliki kebiasaan merokok, pilih kamar smoking.
• Siapapun yang melayani mulai memasuki halaman hotel, sudah selayaknya disapa dengan bahasa tubuh serta tutur bahasa yang positif. Semua manusia pada strata apapun memiliki tujuan dan keinginan utama agar dihormati. Apabila ingin dihormati orang lain, kita juga harus bisa menghormati orang lain lebih dulu.


From :
National Geographic Traveller Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

Etika Hotel | Layanan hotel

Sabtu, 22 Agustus 2009

Etika Hotel
Layanan hotel tak henti diperbincangkan. Tapi sudahkah melongok diri sendiri selaku tamu atau pengguna jasa?
Oleh UKIRSARI R. MANGGALANI.


Peristiwa menjengkelkan ini terjadi sekitar lima bulan lalu. Di sebuah hotel berbintang kota Manado. Karena tidak merokok, kami pesan ‘non smoking room’. Fasilitas dari hotel sungguh mendukung pilihan itu; tamu yang memesan kamar jenis ini akan ditempatkan dilantai tersendiri. Artinya, tak hanya sebatas kamar. Sepanjang koridor sampai depan elevator ditulis larangan bebas asap rokok.

Tapi kegembiraan ini tak berlangsung lama. Ketika hendak turun ke lobby, seorang pria tampak mondar-mandir dengan sigaret menyala di tangan. Lebih ironis, ia lantas menyandar di dinding menghadap kamera CCTV, berdekatan elevator yang jelas-jelas bertuliskan ”Non smoking floor” (bukan sebatas ’room’ lagi).

Saya dan pasangan tersenyum kecut dan membaca pelan-pelan tulisan yang terpampang di samping sang pria. Tak dinyana, dia berbalik dan memaki-maki, bahkan –maaf-mengeluarkan kata-kata f**k you, f**k you, sembari menunjuk-nunjuk kami dengan jemari yang masih membawa rokok nyala, menjentikkan abu ke dailypack kami.

Kami ternganga, seiring dengan terbukanya elevator. Sepasang suami isteri dengan dua anak di atas balita menjengukkan kepala dari pintu yang terkuak. Kami masuk elevator. ”Astaga,” tutur si ibu didalam. ”Bagaimana mungkin pihak hotel mau menerima tamu seperti itu? Tidak punya etiket, ya.”

Sampai di lobby, kami melaporkan kejadian tak mengenakkan tadi. Tentu saja, dengan sopan saya kembali menegaskan arti ’lantai bebas rokok’; berlaku untuk lantai yang dimaksud atau sebatas dalam kamar. Tanpa mengurangi keramahannya, sang resepsionis menjelaskan bahwa pemahaman kami benar. Seluruh penjuru lantai tempat kami menginap tidak diperkenankan menyalakan sigaret.

Setelahnya, kami laporkan perbuatan tak mengenakkan dengan tamu tanpa etiket itu. Resepsionis memanggil kepala keamanan untuk turut mendengarkan laporan kami. ”Kami pastikan masalah ini ditangani serius,” imbuh kepala keamanan. ”Apa lagi ada saksi kamera CCTV.”

Menurut Indayati Oetomo, International Director John Robert Powers (JRP), tindakan itu merupakan bagian dari profesionalisme pihak hotel.

”Bila terjadi pelanggaran yang dilakukan tamu hotel - apalagi mengakibatkan ketidak nyamanan tamu lain - maka sah-sah saja pihak manajemen hotel memperingatkan tamu dimaksud secara sopan,” ungkap Indayati yang berkantor di JRP Jalan Kayun, Surabaya. ”Bila tidak ditanggapi dengan baik, pihak hotel boleh mengambil tindakan yang sudah dituangkan terlebih dahulu dalam tata tertib hotel. Alasan hotel melakukan sanksi dikarenakan pihak hotel lebih memikirkan kepentingan orang banyak, yang telah dirugikan akibat pelanggaran tamu dimaksud.”

Senada penuturan Rosana Rotani Tamin, Director of Sales Hotel Santika Premiere Jakarta. Merujuk pada tagline tampatnya bekerja, ’Hospitality from the Heart’, pihaknya selalu berusaha memberikan keramah-tamahan tulus, juga layanan terbaik bagi seluruh tamu. Bila terjadi permasalahan seorang tamu mengganggu kenyamanan tamu lain, akan diupayakan komunikasi yang baik dengan memohon pengertian serta dibantu solusi. ”Soal rokok, manjemen hotel sudah memasang signage larangan merokok di area tertentu,” tukasnya. ”Untuk mengatasi, disediakan area khusus dimana tamu boleh merokok dan smoking room disiapkan bagi tamu menginap yang perokok.”

Dengan kata lain, para tamu dengan kebiasaan merokok tetap bisa menikmati layanan tinggal di hotel, tanpa mengurangi kenyamanan tamu lain yang memiliki kebiasaan berbeda.

Masih menyoal sigaret, Roy James Dohne, seorang make-up artist dan pelukis asal Belanda menyatakan keluhan. ”Saya banyak jumpai furnitur hotel-hotel di Indonesia disundut rokok. Bisa dimaafkan bila kelasnya penginapan sederhana, dengan kondisi ala kadarnya. Tapi bila menyangkut hotel berbintang, saya tidak suka,” tukas pria yang pernah mendandani Priscilla Presley untuk majalah Vogue, juga berkarya di berbagai majalah Fashion Eropa, seperti Harper;s Bazar, Marie Claire dan Elle. ”With money, some people think they can do anything. That’s wrong.”

Pandangan Roy James bisa dimengerti. Masuk kamar menjumpai perabot belang disana-sini akibat tersundut sigaret-juga karpet berlubang karena hal sama tidaklah menyenangkan. Bukan soal estetika semata, tapi menyangkut ’warisan’ dari tamu sebelumnya. Meninggalkan kamar seenak hati, karena merasa sudah membayar dan membiarkan tamu sesudah dia menikmati bekasnya.

Di sisi lain, segala perabot kamar termasuk dalam nilai investasi pihak hotel. Mereka merancang, mengagendakan pengadaan barang serta melakukan perawatan. Sayangnya, waktu pakai dan nilai estetika menyusut karena ulah tamu tanpa etika seperti dituturkan Joy James.

Indayati dari JRP mengungkap, ”Dalam melakukan etika sebenarnya kita sedang ’mengomunikasikan’ siapa diri kita. Jadi sudah seharusnya, sebagai pribadi yang memiliki citra diri yang positif, melakukan kebiasaan untuk selalu peduli dengan orang lain.” Dalam kaitan tinggal di hotel, menaruh perhatian soal perabot dengan cara tidak meletakkan sigaret nyala di atasnya, masuk kategori ini. Bersimpati terhadap kenyamanan tamu lain, meski tidak tinggal pada waktu bersamaan.

Begitu pula yang disampaikan Rosana Rotani Tamin dari Hotel Premiere Santika. ”Kami membutuhkan respon positif dari para tamu untuk membaca klausul hotel dengan benar dan mematuhi peraturan yang diterapkan hotel.”

Memang sudah pada tempatnya, ada keseimbangan tercipta antara pemberi jasa hotel dan penerima jasa hotel. Saling menerapkan etika agar bisa menjadi tamu dan tuan rumah terbaik.


From :
National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Sesuai, Lokasi Keliru

Jumat, 21 Agustus 2009

Hotel Sesuai, Lokasi Keliru
Kamar yang dipilih ternyata tidak seperti yang diharapkan.
Bisakah minta pengembalian uang?
Oleh CHRISTOPHER ELLIOT

Saya mengalami masalah pemesanan kamar hotel dimana kenyataan ternyata tidak sesuai dengan harapan. Saya dan pasangan memutuskan pergi ke San Francisco untuk merayakan lima tahun kebersamaan kami dan memesan kamar hotel melalui Priceline.com. Saya melakukan beberapa pilihan di area-area yang kami inginkan. (Pricelines membagi kota ke dalam area-area, dan Anda menentukan pilihan untuk lokasi di area yang diinginkan.)

Saat menjatuhkan pilihan terakhir, terjadi keanehan. Entah bagaimana, terjadi pilihan hotel di area yang keliru. Saya hubungi Priceline untuk kesalahan ini, tapi agen mereka bersikeras bahwa itu pilihan saya sendiri dan saya sedang sial. Jika Anda melihat catatan pilihan yang saya lakukan, Anda akan melihat saya tidak pernah memilih area hotel yang ditetapkan oleh Priceline dan terpaksa kami tinggali.- L. Vu, San Jose, California.

J: Seharusnya Priceline tidak memaksa Anda membayar kamar hotel di area yang tidak dipilih. Mengatakan Anda ”sedang sial” juga bukan layanan yang baik.

Saat Anda melakukan pemesanan kamar hotel melalui pilihan ”Name Your Own Price” (Tentukan Sendiri Tarifnya) di situs Priciline, nama hotel tidak akan muncul sampai penawaran Anda terima. Itulah sebabnya mengapa Priceline seringkali disebut sebagai situs perjalanan ”tidak transparan” karena pemesanan hotel yang Anda lakukan tidak terperinci dan dijelaskan secara lengkap.

Saya sering mendengar keluhan dari para pejalan yang telah menentukan satu pilihan tetapi pada kenyataannya berakhir dengan kamar berbeda dengan pilihan mereka.

Saya tanyakan kepada Priceline mengenai transaksi Anda, dan seorang agen mereka tidak menyangkal. Kabar beik untuk Anda, tetapi bagaimana dengan pelanggan berikutnya yang terjebak di area kelabu ketidaktransparanan milik Priceline? Respon yang lebih tepat, melakukan penelaahan menyeluruh terhadap situs mereka, termasuk cara mereka menampilkan area-area pilihan dan menentukannya sebagai pilihan terakhir pelanggan. Anda bukan orang pertama yang bingung dan terkecoh, dan pastinya bukan yang terakhir. Sebaiknya lebih berhati-hati dan cermat saat berurusan atau melakukan transaksi dengan sang negosiator. Pembacapun sebaiknya begitu.

From :
National Geographic Traveller Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Keluarga

Kamis, 20 Agustus 2009

Hotel Keluarga : ‘Spesies’ Langka?
Menjaga properti unik terus beroperasi bukanlah hal mudah dan sederhana.
Oleh MARGARET LOFTUS


Kelihaian mengelola bisnis hotel mengalir deras dalam darah keluarga Beach. Sudah berlangsung lebih dari seabad, dimulai tugas Ardelia Beach sebagai induk semang bagi para pelancong berwisata musim panas di peternakan keluarga, Lake Champlain, Vermont.

Kemenakan lelaki sekaligus pegawainya, A.P., kemudian membeli properti itu dan menambahkan padang golf 9-hole serta beberapa pondok wisata. Anak-anaknya meneruskan estafet bisnis yang ia lakukan dan kini, kakak-beradik generasi keempat Pennie dan Bob Beach memandori lebih dari 74 pondok dan lahan pedesaan seluas 325 hektar, bernama Basin Harbor Club. “Banyak keluarga secara turun –temurun menjadi langganan kami,” kata Bob.

Namun, tempat-tempat seperti Basin Harbor Club saat ini makin jarang ditemukan. Lebih dari sepertiga bisnis milik keluarga yang diwariskan oleh generasi kedua menuai kesuksesan dan hanya sekitar 16% berhasil diturunkan ke generasi ketiga. Sementara angka spesifik mengenai jumlah pengusaha hotel sejenis ini tidak tersedia.

Keluarga Beach dan pelaku bisnis perhotelan keluarga lainnya mengatakan, tantangan yang dihadapi untuk menjaga agar properti ini tetap menjadi milik keluarga sangat berat, dan ini disebabkan faktor seperti menggelembungnya pajak dan biaya perawatan, serta tekanan untuk menjual properti ke pengembang. Beberapa bahkan khawatir properti-properti penting dan bernilai ini akan lenyap seperti toko-toko kecil yang dikelola pasangan suami isteri, tergusur oleh toko-toko yang menempati bangunan beton besar dan menjulang. Pada akhirnya, sebuah warisan yang sangat bernilai dipertaruhkan, debat Thierry Roch, direktur eksekutif Historic Hotels of America, ”Ini bukan sebatas arsitekturnya, namun tentang hubungan dan momentum. Tentang rasa keterikatan pada sebuah tempat, kebersamaan, dan kenangan dalam hidup seseorang.”

Ironisnya, di sebuah era dimana keinginan para pejalan untuk mendapatkan hal-hal yang alami dan otentik semakin meningkat, kita justru berisiko kehilangan jenis penginapan yang paling otentik dan asli dari semua yang ada. ”Hotel-hotel keluarga ini telah menjadi bagian dari kehidupan para tamunya,” kata Marry Billingsley, direktur hubungan masyarakat Historic Hotels. ”Mereka selalu kembali, tahun demi tahun, berharap untuk bertemu pemiliknya. Ini tak terjadi pada hotel besar umum.”

Walaupun kini banyak jaringan hotel-hotel mewah memiliki hotel butik, sentuhan pribadi dan rasa berbeda makin sulit didapatkan. ”Ada nilai nyata jika pemiliknya hadir dan terjun langsung mengelola setiap hari,” kata Dan Musser, yang keluarganya memiliki Grand Hotel di Mackinac Island, Michigan, sejak 1932. ”Jika ada tamu melihat ayah saya memungut secarik kertas di ruang tamu, mereka memberikan apresiasi berbeda.”

Sebagian daya tarik hotel keluarga adalah kebiasaan-kebiasaan khusus dan unik. Contohnya, Basin Harbor masih mengharuskan para tamu pria mengenakan jas saat makan malam. Di Mohonk Mountain House yang terletak di Hudson Valley, New York, dan kini berada dibawah pengelolaan generasi keempat keluarga pemiliknya, paket khas Amerika, tarif kamar perhari termasuk tiga kali makan-masih berlaku. ”Di dunia yang berubah dengan sangat cepat, manusia mencari sesuatu yang tidak berubah,” kata direktur marketing Mohonk, Nina Smiley, yang menikah dengan Albert Smiley, keturunan yang memiliki nama keluarga sama dan merupakan buyut keponakan laki-laki pendirinya.

Namun, ada batasan jelas antara hotel keluarga bergaya kuno penuh pesona, dengan yang membosankan dan kusam. Salah satu perjuangan terberat para pemilik hotel keluarga adalah membuat tamu dari generasi baru tertarik datang yang kebanyakan berharap mendapat fasilitas modern seperti WiFi, Vodka Grey Goose di ruang duduk sekaligus tetap menyenangkan hati para pelanggan lama yang kemungkinan tersinggung jika ada perubahan, walau sedikit, pada rumah kedua tercinta mereka. Salah satunya, pelanggan lama kerap mempertanyakan menu legendaris.

Antisipasi agar tamu tetap mengalir, ”Kami melakukan penyeimbangan,” kata Smiley. Mohonk telah melakukan beberapa penambahan fasilitas, seperti ring seluncur es dan spa. Di Colony Hotel dan Cabana Club yang terletak di Del Ray, Florida, pemiliknya Jestena Boughton menambahkan TV layar datar.

Mengapa tidak banyak keluarga yang berhasil mempertahankan bisnis hotel mereka? Musuh nomor satu adalah kurangnya perencanaan suksesi/serah terima tampuk pengelolaan. ”Keadaan menjadi sangat rumit saat kematian generasi pertama terjadi,” Alfred Peguero, seorang rekanan di Pricewaterhouse Cooper bagian Layanan Perusahaan Swasta menjelaskan, ”Negara Amerika Serikat dapat mengambil alih kepemilikan usaha 45%. Saat sang kepala keluarga meninggal, pajaknya dapat membuat usaha tutup.” Tanpa perencanaan kepemilikan properti yang baik dan tepat, kata Peguero, para pewarisnya kemungkinan terpaksa harus menjual properti hanya untuk membereskan kewajiban pajaknya. Juga, ada beberapa biaya dan konsekuensi yang harus dipertimbangkan. Biaya untuk menjaga dan merawat sebuah properti bersejarah juga dapat menjadi penghalang.

Di Baltimore Estate di Asheville, North Carolina, yang dibangun oleh George W. Vanderbilt pada 1895 dan saat ini dikelola cicitnya, Bill Cecil, Jr., biaya konservasi dan pemaliharaanya saja sudah mengambil porsi besar dari anggaran tahunan. Bahkan, banyak properti milik swasta berakhir dengan disumbangkan atau dijual ke negara karena pemiliknya tidak mampu membayar pajak dan biaya pemeliharaan. ”Pemerintah suka mengambil alih kepemilikan,” kata Cecil. ”Tapi pemeliharaan rutinnya diabaikan.”

Meski demikian, lebih sering para pengembanglah yang menikmati dan mengambil keuntungan dari properti yang sebagian besar merupakan properti bernilai tinggi. Di Montana, dimana daya beli selebritas Hollywood berperan menjulangkan harga tanah sebelum akhirnya kembali stabil dalam beberapa tahun terakhir ini, pengusaha Kim Kelsey mengakui, ia mendapatkan sekitar dua surat penawaran setiap minggu untuk peternakan Nine Quarter Circle Ranch milikya. ”Anda bisa mendapatkan kuntungan cukup besar jika menjualnya secara utuh atau hanya sebagian.” Mengurus sebuah peternakan penginapan dan mencoba membuatnya mandiri secara finansial bukanlah tantangan mudah. Setelah mencoba bertahan selama 20 tahun, sejumlah keluarga menjual atau melepas properti dan tanah mereka.

Kembali ke wilayah Pantai Timur Amerika Serikat, harga lahan di sekeliling Basin Harbor Club telah naik setidaknya empat kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Namun keluarga Beach siap menempuh perjalanan panjang. ”Bisa terus eksis sangat penting, bukan melulu mengenai angka di neraca keuangan setiap triwulannya,” kata Pennie.

Musser setuju bahwa komitmennya yang tinggi disebabkan karena faktor peninggalan keluarga dari pada keuntungan finansial. Para pengusaha hotel keluarga dikaruniai loyalitas tinggi. ”Anda ke Ritz Carlton, semua pelayanannya baik. Tapi yang demikian bisa Anda dapatkan dimana saja,” kata Beach. ”Hotel keluarga lebih istimewa; Anda tidak bisa mendapatkannya dimanapun, hanya di satu tempat saja.”

From : National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Survei Online Hotel Favorit | National Geographic Traveler Indonesia

Rabu, 19 Agustus 2009

Selaras dengan sarasehan hotel terbaik yang kami gelar dengan mengundang para pakar public figure dan pejalan dari berbagai latar–belakang, kami juga membuka survey hotel terbaik 2009 yang dilakukan secara Online. Dapat ditemui di tautan http://nationalgeographic.co.id/survey/. Disini, para pembaca dan pemerhati dapat memberikan suara serta memilih hotel terbaik versi masing-masing, berdasar daftar dari sumber data National Geographic traveler yang di susun secara geografis.

Hanya, sedikit berbeda di banding sarasehan hotel terbaik yang kami gelar, pada versi online pihak Litbang National Geographic Traveler memberi batasan umum terhadap segi–segi yang dinilai, yaitu ;
• Kondisi kamar
• Keamanan dan keselamatan
• Makanan
• Pelayanan (service)
• Fasilitas
• Pemesanan via internet
• Segi arsitektur, pemandangan hotel
• Lokasi dan kemudahan akses
• Keramahan sosial dan lingkungan
• Nilai kepuasan di bandingkan harga

Silahkan terus memantau hasil survey hotel terbaik National geographic Traveler 2009 di situs kami dan edisi mendatang.

Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih kepada para pembaca National Geographic Traveler versi cetak maupun online yang telah meluangkan waktu untuk memberikan voting atau penilaian terhadap tempat–tempat menginap di tanah air. Harapannya, dengan penilaian ini di peroleh kondisi realistis dari tempat yang bersangkutan dan memberikan bantuan terhadap para pejalan soal akomodasi komersial.

Beberapa komentar dari pengisi survey dapat memberikan deskripsi atau gambaran kondisi ideal atau yang diinginkan oleh para pejalan serta pelaku bisnis dalam mencari penginapan. Seperti penuturan Junaidi Kurniawan dari Jawa Timur. Pilihannya jatuh pada hotel Shangrila, Surabaya. “memiliki sajian masakan enak, pelayanan memuaskan serta lokasi strategis (dalam kota).”

Senada pendapat Mazri Tanjung dari Padang, Sumatera Barat. Ia memfavoritkan Aston Rasuna, Jakarta dengan pertimbangan dekat Sentra Bisnis. ”Ekspektasi melebihi harga dan aksesnya sangat strategis, berada di segitiga Emas Jakarta. Keamanannya bagus.”

Lain lagi kecenderungan para pejalan atau peserta survey yang menginginkan suasana lepas dari bungkus kota besar, tengah kota atau sentra bisnis. Seperti komentar Febi Jonatan, Bekasi Timur. Ia berikan catatan khusus untuk Novotel Kuta, Lombok. ”Letak di area terpencil dengan pantai pribadi serta resort yang nyaman ditunjang harga bagus membuat saya memilih hotel ini.”

Selain pilihan hotel di jantung kota hotel tempat terpencil, ada pendapat dari segi historis. Rendra Hertiandhi, Banten menyebut Hotel Majapahit sebagai tempat yang memenuhi kriterianya, ”klasik, antik, eksotis dengan harga sepadan.”


Hotel Favorit
Pilihan Peserta Sarasehan


• Hotel Niagara, Lawang
• Hotel Majapahit, Surabaya
• Roemahkoe Bed and Breakfast, Solo
• Hotel Candi Baru, Semarang
• Pondok SVD, Riung, Florest
• Menjangan Resort, Bali Barat
• Begawan Giri, Ubud, Bali
• Sheraton Timika, Papua Barat
• ECO Hotel, Lembah Harau, Bukit Tinggi, Sumatera Barat
• The St Regis, Nusa Dua, Bali
• The Mansion, Ubud, Bali
• Java Cove, Pangandaran, Jawa Barat
• Ritz Carlton, Bali
• Kima Bajo, Manado, Sulawesi utara
• Kampong Sampireun, Garut, Jawa Barat
• Lava View Lodge, probolinggo
• Sabang Guesthouse, Sabang, Naggroe Aceh Darussalam
• Hotel Santika Premiere, Manado, Sulawesi Utara
• four Season, Jimbaran, Bali
• alila Icon, Kemang, Jakarta
• Hotel Maya, Ubud, Bali
• Eco Resort, Raja ampat, papua Barat
• Novotel, Kuta, Lombok NTB
• Hotel Tanjung Sari, sanur, Bali

National Geographic Traveller Indonesia

Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : PENGINAPAN DENGAN LOKASI YANG BEDA ATAU TIDAK BIASA

Selasa, 18 Agustus 2009

Soal pilihan tinggal di penginapan dengan konsep hijau dan dekat dengan alam sebagai rujukan, para peserta sarasehan mengungkapkan bahwa letak si hotel atau tempat tinggal sementara tidak harus berada di atas luasan tanah untuk mendapatkan predikat terbaik. Tempat menginap alternatif yang bukan berupa bangunan masih juga disukai, karena mendatangkan rasa kedekatan dengan alam dan lingkungan hidup. Dalam hal ini, tenda dan wahana terapung di atas sungai dan laut dimasukkan sebagai kategori khusus. Tetap bisa mendapatkan predikat terfavoit, khususnya untuk pencinta alam bebas dan kegiatan outdoor.

Heryus saputro mencontohkan live aboard untuk pariwisata bahari yang dikemas khusus. Contohnya yang ia alami saat berada di kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. ”Penginapan di atas laut ini bisa dikemas khusus atau ’dijahit’ sesuai keinginan anda, termasuk dengan merancang sendiri makanan yang ingin disantap selama perjalanan. Lalu bahan-bahan di bawa ke atas kapal dan dimasak,” tukasnya merespon William Wongso selaku pakar kuliner. Hingga perjalanan bahari terasa makin bermakna dan sesuai dengan kemauan pejalan.

Untuk perairan sungai, Riyanni Djangkaru menyorot ekowisata Sungai Sekonyer di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah bisa dikemukakan sebagai salah satu kandidat untuk meraih predikat terobosan menggelar akomodasi. ”Pejalan diajak menyusuri sungai dengan perahu, bermalam pakai matras dan kelambu di bawah langit terbuka serta disuguhi masakan yang dibuat oleh awak perahu sendiri.Tentunya hal ini sebuah pengalaman menarik. Apalagi sesudahnya, bisa bertandang ke Camp Leakey menengok orangutan.”

Kembali ke panorama alam yang ada di daratan, tinggal di tenda merupakan bagian dari pertualangan mengasyikkan. Bila tolak ukurnya adalah resor atau jaringan perhotelan ternama, Amanwana di Pulau Moyo bisa dikemukakan sebagai contoh. Ada dua pilihan dari tenda eksklusif yang ditawarkan ; menghadap laut flores atau menghadap ke arah hutan.

Riyanni dengan antusias menambahkan, salah satu pilihan berkemah dengan fasilitas lima bintang bisa didapat di Rakarta, Tanakita Campground. Lainnya, menginap pakai tenda di camping ground yang disediakan Taman Safari Indonesia, Sukabumi. Tidur dengan matras dan sleeping bag, disuguhi bajigur dan aneka makanan tradisional, dengan kesempatan mengintip harimau sumatera terlelap. ”Mungkin terkesan tidur kita jadi kurang nyaman dengan peranti sederhana. Tapi hal ini bisa ditawarkan pada para keluarga yang ingin mengajak anak-anaknya lebih mengenal lingkungan hidup dan aneka satwa.” Dan hal ini, tentu saja sebuah nilai khusus bagi penyelenggara akomodasi itu.

National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : KEPEDULIAN PENGELOLA DALAM MEMBERDAYAKAN SDM SETEMPAT, SERTA AJAKAN PEDULI PADA TAMU HOTEL

Senin, 17 Agustus 2009

Keterlibatan para investor asing dalam pengelolaan destinasi wisata tidak mengusik Riyanni Djangkaru. ”Sejauh mereka melibatkan sumber daya manusia warga setempat, seperti sebuah eco-resort di Raja Ampat, Papua. Owner-nya berada di tempat penginapan dan melibatkan keluarga lokal sebagai karyawannya,” kata presenter cantik ini, tentang tempat penginapan yang interiornya didominasi rotan dan bambu. Selain itu, Riyanni mengaku merasa lebih senang jika owner tempat penginapan juga turut andil dalam menggalang kepedulian bersama tetamu untuk turut menjaga kelestarian dan kebersihan alam sekitar.

Terlebih destinasi wisata seperti Raja Ampat yang memiliki keindahan flora dan fauna – salah satunya, Burung Cenderawasih – serta lokasi penyelaman terbaik se–Indonesia. Seperti yang telah di kupas dalam survey yang dilakukan tim riset Majalah National Geographic Traveler sebagaimana dimuat dalam edisi 3/Mei Juni 2009 bertema wisata bahari.

Kepedulian pengelola tempat menginap akan pemberdayaan tenaga kerja setempat juga mendapat nilai bagus.

National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : KELENGKAPAN KHUSUS YANG DIMILIKI PENGINAPAN, SEPERTI MENYEDIAKAN JASA PEMANDU ATAU PEMESANAN TIKET DENGAN CEPAT

Minggu, 16 Agustus 2009

Layanan pihak Hotel atau penginapan tidak saja terbatas pada hal-hal umum seperti membersihkan kamar atau menyedikan santapan bagi para tetamu. Tapi juga bisa di perluas seperti pemesanan dan konfirmasi keberangkatan dengan pesawat atau wahana transportasi lain. Juga menyediakan jasa pemandu yang laik atau memiliki klasifikasi tertentu. Jay Subyakto menyatakan, ada beberapa hotel belum bisa membantunya untuk melakukan pemesanan tiket pesawat ke berbagai daerah Indonesia Timur. Hampir mirip, hal yang dikemukakan Ade Purnama atau Adep. ”Ada yang ’jago’ dalam meletakkan berbagai booklet dan brosur tempat wisata. Tapi begitu di pesan, jasa layanannya tidak ada.”

Hal demikian, tentu saja perlu mendapat perhatian pihak pengelola penginapan. Beberapa hotel berkerja sama dengan agen pemesanan tiket maupun tur dan travel, sehingga tetamu bisa mendapatkan pelayanan lebih. Bila mereka puas, tentu saja akan memberikan imbas positif. Para konsumen bisa merekomendasikan nama penginapan kepada para kenalannya, karena kelengkapan layannya.

Atau dapat juga pihak hotel memiliki tenaga outsourcing terpercaya untuk menjadi pemandu para tamu yang ingin wisata berbeda di banding yang di tawarkan agen wisata-disebut Tailored-Made Tour. Bila tamu penginapan puas dengan sajian wisata atau layanan khusus yang diberikan pihak hotel, tentu akan di sampaikan kepada para kerabat dan calon konsumen lainnya. Jadilah hotel ini juga memiliki sentuhan pribadi yang humanis.

National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : LAYANAN DAN KERAMAH-TAMAHAN, TIDAK MEMBEDAKAN TETAMU

Sabtu, 15 Agustus 2009

Jay Subyakto geram pada dirinya di tolak masuk oleh petugas sebuah hotel yang menjadi langganan wisatawan mancanegara. Menurut Jay, di tengah dunia yang gencar mendengungkan kesetaraan, seharusnya di berlakukan aturan guna menertibkan sikap negatif semacam itu. Setiap manusia -wisatawan lokal maupun mancanegara - layak di perlakukan secara adil dan di berikan kepedulian setara. ”Jangan melakukan pembodohan,” ungkap Jay, sembari berharap perlakuan rasis yang pernah ia alami, tak akan terulang lagi.

Bagi Jay, keramah tamahan yang mengesankan yang ia rasakan saat menginap di pondok Riung SVD di Florest, Nusa Tenggara Timur. Selain unsur Hospitality, tempat penginapan ini juga menyajikan makan higienis, serta menawarkan lanskap cantik. Lainnya, Jay juga terkesan dengan Hotel Tanjung Sari, Sanur, dan Menjangan Resort di Bali, yang Eco-Friendly dan bernuansa klasik.

Sementara peserta diskusi yang lain menjagokan hotel Mercure Jakarta, Novotel Kuta Lombok, Hotel Majapahit Surabaya dan Hotel Santika, sebagai tempat penginapan yang memberi pelayanan dan keramah tamahan yang memuaskan, dan tidak berlebihan. Berbeda pendapat pada yang lain, William Wongso lebih menyukai keramah tamahan yang di tunjukkan resort dengan personality yang membuatnya serasa berada di rumah, bukan di Hotel berbintang lima.

Konsep sebuah hotel Lido Lakes dengan ruang-ruang hijau yang menyebar di sekeliling Hunian. Memberi kesegaran badan dan Rohani. Bagan-bagan bambu menghadirkan sentuhan tersendiri.
Front Desk Grand Kemang, yang menyajikan gaya Futuristik.

National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : KEUNIKAN LATAR BELAKANG, NILAI HISTORIS DAN BUDAYA

Jumat, 14 Agustus 2009

Nilai historis dan arsitektur lama yang dipertahankan oleh pengelola hotel mendapat sambutan positif dari peserta sarasehan kami.

Para reserta sarasehan segera melontarkan nama penginapan favorit yang mengerucut nyaris sama, saat membahas tentang keunikan hotel ditinjau dari sisi historis dan budaya. Nama Hotel Niagara (Lawang, 1918), Candi Baru (Semarang, 1919), Majapahit (Surabaya, 1910) dan Roemahkoe (Solo, 1938) masuk dalam catatan paling atas. ”Prinsipnya, arsitektur bangunan jangan merusak kondisi yang sudah ada,” tukas Jay Subyakto seraya menambahkan, Hotel Niagara merupakan pilihannya. ”Meski ada kisah misterius dan gaya penjaga Hotel serasa turut mengarahkan pada keangkeran, tapi keindahan bangunannya mengalahkan semua itu.”

Sedang William Wongso menyebut, memasuki dan tinggal di Hotel Majapahit serasa masuk museum. ”Kondisi tetap terjaga dan latar belakang sejarah serta peristiwa heroik membuat tempat menginap ini istimewa,” demikian pendapatnya.

Dari Ade Purnama atau biasa di sapa Adep, Hotel Candi Baru yang dulunya dikenal sebagai BELLEVUE menjadi pilihan utama. Apalagi, harga kamar masuk dalam kategori hemat atau sesuai budget. ”kamar-kamarnya sangat luas. Bahkan untuk kelas Suite di lengkapi ruang kerja dan meja.”

Sedang Burhan Abe menjatuhkan pilihan pada Roemahkoe karna upaya sang empunya dalam melestarikan Budaya Lokal. Utamanya soal lokasi di Sentra Batik Laweyan, hingga tetamu bisa dengan mudah berjalan-jalan ke berbagai gang yang menyediakan Batik Tulis. ”Tamu juga bisa minta disediakan kelas membatik saat tinggal disana,” imbuhnya.

Sekedar catatan dari redaksi, Hotel Candi Baru terletak di jalan Rinjani no.21, Semarang. Merujuk pada namanya sekarang, Hotel ini terletak di kawasan Candi yang terletak di perbukitan, hingga pejalan dapat menyaksikan Lanskap Kota. Arsitekturnya bergaya kolonial warisan Belanda, dengan kedai kopi jaringan Internasional terletak berseberangan.

Sedang Hotel Niagara, mudah di temukan pengunjung saat akan masuk kota Lawang, dari arah Surabaya. Bangunan di jalan Soetomo no.63, Lawang yang kini berwarna kemerahan menyeruak di kanan jalan. Sang arsitektur, Fritz Joseph Pinedo asal Brazil membuat bangunan ini sebagai tempat tetirah pribadi keluarga china terkemuka, bersentuhan art nouveau.

Hotel Majapahit merupakan satu dari bangunan warisan Sarkies bersaudara yang merupakan pengusaha jaringan Hotel Kolonial dan bersejarah di kawasan Asia Tenggara (baca artikel Rehat Bersejarah Warisan Serkies di halaman 59-61). Penginapan di jalan Tunjungan no.65 Surabaya ini terkenal karna peristiwa bersejarah perobekan Bendera Belanda oleh para pemuda Surabaya yang berlanjut dengan perang 10 November 1945.

Di banding ketiga Hotel di atas, Roemahkoe yang mengklasifikasikan keberadaannya sebagai Bed and Breakfast tergolong bangunan paling kecil. Terletak di jalan Dr. Radjiman no.501 Laweyan, Solo, bangunan bergaya Art Deco ini tadinya merupakan rumah dari pedagang batik terkemuka.

National Geographic Traveller Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : TIDAK MENGEDEPANKAN SUATU HAL TERTENTU YANG DILARANG DALAM PROGRAM PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN SATWA LANGKA

Kamis, 13 Agustus 2009

Berbagai seruan dan komentar mengalir deras saat topik membahas soal tempat menginap yang restorannya menyediakan material satwa langka atau di lindungi sebagai daya tarik utama bagi para tamu, baik yang menginap atau tidak. Terlebih bila promosi diadakan besar-besaran hingga tampil di media cetak atau papan pariwara pinggir jalan.

Sebagai seorang pakar kuliner, William Wongso menyatakan keprihatinan mendalam. ”Apalagi, bila masakan ini didasarkan pada kepercayaan atau believe,” tandasnya. Mulai manfaat sebagai obat keperkasaan sampai penunjang kesehatan diyakini dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari budaya. Ujung-ujungnya, tentu saja kepunahan bagi satwa tertentu. ”Padahal dari segi citarasa pun tidak bisa dipertanggungjawabkan, karena pertunjukannya bukan bahan pangan.”

Senada, Heryus Saputro menyatakan bisa saja bahan pangan yang dimaksud tidak termasuk kategori langka atau dilindungi, tapi cara untuk mendapatkannya dilalui dengan cara khusus yang merusak alam. Tindakan demikian, tidak dibenarkan.

Sementara Muhammad Gunawan menambahkan, ”Dalam hal ini dibutuhkan kearifan kita sebagai pengguna atau calon pengguna kearifan kita sebagai pengguna atau calon pengguna penginapan. Cara menyikapi tergantung pada individu, tapi sebaiknya memang tidak merekomendasikan hotel dengan ’Keterampilan’ mengolah bahan masakan dari materi langka yang dilindungi atau terancam kepunahan.”

Pihak pengelola hotel diminta lebih peduli soal lingkungan hidup, dengan cara ikut aktif membaca atau mencari informasi berbagai satwa dan bagian lalam yang dilindungi atau hanya dapat digunakan dalam jumlah terbatas, demi mendukung keutuhan dan keseimbangan alam. Dengan memiliki daftar, usaha perluasan pemasaran satwa dilindungi pun bisa direndam sedikit demi sedikit. ”karena sebuah pasar terbentuk, bila ada permintaan dari konsumen,” imbuh Heryus. ”Bila pihak hotel menyediakan tapi tidak ada tamu yang berminat atau tertarik, nanti juga tidak disajikan lagi.”

Dilain pihak, para peserta sarasehan memberikan dukungan terhadap berbagai penginapan yang menerapkan konsep green living atau usaha-usaha mendukung pelestarian alam. Seperti ajakan kepada para tamu berupa kartu petunjuk di kamar mandi agar tidak setiap hari mengganti handuk, karena pencuciannya melibatkan deterjen dan penggunaan air. Dengan berhemat 2 – 3 hari sekali, pihak penginapan sudah memberi masukan positif terhadap upaya pelestarian.

Demikian pula beberapa tindakan penginapan yang peduli lingkungan, seperti mengganti pemakaian kantong plastik pakaian kotor (laundry bag) dengan kantong kain daur ulang.

National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : MEMILIKI GERAI CENDERAMATA YANG KHAS, PEDULI LINGKUNGAN DAN UNIK

Rabu, 12 Agustus 2009

Bagi sebagian pejalan, berbelanja cenderamata merupakan agenda wajib yang pantang dilewatkan saat melakukan perjalanan. Tentu saja, bukan sembarang cenderamata bertuliskan ”Made In Indonesia”, melainkan hasil kerajinan tradisional yang khas dan unik. Semakin primitif, semakin menarik. Hotel pun punya kesempatan menyajikan gerai cendera mata terbaik. Siti ”Ifa” Kholifah menyukai cenderamata berupa bebatuan mulia khas Sumatera dan Sulawesi, karena tak akan ia temui di daerah lain. Sementara Riyanni mengaku, saat menginap di Hotel Nayak, Wamena, Papua, pernah mendapati souvenir yang meski tidak unik, tapi menarik : koleksi guci oriental. Dalam membeli cenderamata, Riyanni berprinsip, ”Dahulukan membeli cenderamata yang legal daripada ilegal.”

”Tindakan peduli lingkungan bisa dicerminkan lewat ; tidak mencoba masakan dari satwa langka dan tidak membeli cenderamata ilegal.”

National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : KULINER CITARASA OTENTIKAL DAN OTENTIK

Selasa, 11 Agustus 2009

Pisang goreng, nasi timbal dan sambel cobek. Kuliner ”ndeso” dengan cita rasa khas dan cara penyajian sederhana, menimbulkan kerinduan tersendiri di hati pejalan yang terbiasa tinggal di kota besar, seperti Siti Kholifah atau Ifah. Produser acara Koper dan Ransel di salah satu stasiun televisi swasta ini tak bisa di lupakan pengalaman saat menyantap kuliner macam itu di desa Wisata Bumihayu, Subang, Jawa Barat. Ia juga mengaku sangat terkesan saat menginap di ECO-Homestay Kemuning Resort, Sukabumi. Selain tarif murah, kuliner yang di sajikan sangat otentik. Kesan yang sama juga pernah dirasakan oleh Ade Purnama, ”menginap di ECO-Homestay, dan menyantap makanan yang disajikan dari dapur apa adanya, wah, benar-benar nikmat sekali.”

Kuliner ini tetap di buru pejalan, seperti Burhan Abe, meski ia menginap di hotel berbintang sekalipun. Saat menginap di The Mansion atau Royal Pita Maha di Ubud, Bali, juga di Alila, Manggis, Bali, ia menyewa mobil untuk menyusuri perkampungan dan mampir di warung nasi ayam Kedewatan. Tempat menginap yang bagus, sesal Burhan Abe, jarang di lengkapi tempat makan yang memiliki spesialisasi tertentu dengan cita rasa serta cara penyajian yang otentik dan nyambung di indera pengecap. Karena itu, sumbangsih makanan dari masyarakat setempat yang enak senantiasa menimbulkan kerinduan tersendiri, sebagaimana diakui Heryus Saputro. Wartawan senior ini amat terkesan dengan pengalaman mencicipi kuliner tradisional di Sukabumi, usai arung jerang (rafting) bersama Arus Liar.

Menu rumahan yang enak seperti sayur asem dan empal gepuk, diakui Riyanni Djangkaru, sebagai menu teristimewa yang pernah ia cicipi saat berada jauh dari rumah. Tepatnya di sebuah homestay sederhana tanpa pendingin udara di Ijen, sekitar 4 jam waktu tempuh berkendara dari Surabaya, Jawa Timur. Selain itu, Riyanni juga mencicipi menu lain yang citarasanya tak mudah ia lupakan, ”Kopi Arabika dan Luwak, olahan stoberi organik, dan kentang madu-madu kukus dengan saus madu putih dari Lombok.”

Pengalaman menyeruput kopi dan menyantap makanan organik juga pernah di alami Muhammad” Ogun” Gunawan saat berada di sebuah perkebunan organik di Kalibaru, dekat Glenmore, Banyuwangi.” bernostalgia ala Belanda.” tukas Ogun.

William Wongso memaklumi jika kebanyakan pejalan mencari menu otentik di tempat makan sederhana, dari pada restoran di hotel berbintang. Berdasarkan pengalamannya sebagai pakar Kuliner yang sering keliling Indonesia (dan Mancanegara), William mengakui, ”banyak hotel berbintang mengklaim sebagai yang terbaik dari segi lokasi dan arsitektur. Tapi mutu Food and Beverage-nya nol!” William juga sering mendapati beberapa kerabat atau sahabatnya membawa lauk pauk atau makanan sendiri kala berpergian, karna kuatir tak mendapat kecocokan selera dengan sajian restoran di hotel. Menurut William, kebanyakan hotel menjanjikan menu standar seperti American Breakfast, tanpa mengangkat keunikan kuliner tradisional, karena Chef terpaku pada sistem. Tanpa variasi menu dan citarasa yang memadai, tamu hotel akan di landa kebosanan, lalu mencari menu otentik di luar hotel, atau membawa bekal makanan sendiri dari rumah.

Lebih jauh, William mengungkapkan pengalamannya menginap di Gardenia, Tomohon, Sulawesi Utara, yang memiliki sajian Kuliner yang mengesankan. Juga, di Bali, serta di sebuah tempat menginap di Malibaya, Lembang, Jawa Barat, yang menyajikan menu rumahan dengan sentuhan Belanda, di olah oleh koki keluarga, secara turun temurun. Agar lekat di hati tetamu, tegas William, sajian menu di hotel harus memberi apresiasi terhadap kuliner lokal.

National Geographic Traveller Indonesia

Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : PENGINAPAN SEBAGAI ”THE PLACE TO STAY IN”

Senin, 10 Agustus 2009

Kata ‘hotel’ yang selama ini digunakan untuk menyebut akomodasi komersial dirasa kurang tepat. Karena pada dasarnya, tempat menginap tak dapat di klasifikasikan rata atau standar begitu saja. Tapi mesti mengandung keunikan yang membuatnya berbeda, tetap disukai dan ingin dikunjungi atau diinapi kembali.

Penggunaan kata hotel yang saat ini di gunakan, rasanya kurang tepat. William Wongso mengungkapkan, ”Lebih pas adalah penginapan yang memiliki personalitas dan terkesan kita menginap di rumah teman.”

William Wongso mengungkapkan, ”Di masa depan, masyarakat ingin mendapatkan sesuatu yang pribadi. Hingga tempat menginap juga harus memiliki sebuah personality. Bukan sekedar untuk bermalam, juga bukan kategori the best.” Menurutnya, mesti ada semacam kriteria dalam mengedukasi pengguna akomodasi komersial ini. Dan sebaiknya, nama juga bukan ’hotel’ tapi ’tempat menginap’. ”yang diinginkan dari tempat menginap dengan personality itu, akan melahirkan rasa ’seperti menginap di rumah teman atau tetangga yang telah kita kenal’.”

Jadi dalam hal ini, sama sekali tidak ada batasan bahwa nilai eksklusif berbanding lurus dengan kamar harus dalam kondisi prima, serba bagus, serba kelas satu atau mewah. Tempat atau lokasipun tidak dibatasi berada dalam atau luar kota, tapi juga bisa di atas air, seperti pelayaran sungai dan liveaboard.

Bagi Heryus Saputro, hal terpenting yang diinginkan pejalan saat menginap atau bermalam adalah keamanan dan kenyamanan. ”bila unsur ini sudah dipenuhi, maka nilai yang dibayarkan untuk harga hotel bisa ditekan, karena orang akan berpikir ; mengapa harus bayar mahal, bila konsepnya manghabiskan waktu di luar hotel.”

Sedang Jay Subyakto menambahkan, beberapa pejalan atau pelaku wisata, terkesan masih takut keluar dari kenyamanan bila berada di luar rumah. ”padahal, di luar Pulau Jawa, tak semua penginapan bisa menawarkan nilai mewah dan eksklusif. Bisa saja penginapan biasa, tapi atmosfernya menyatu dengan alam sekitar dan masyarakatnya. Model tempat bermalam seperti ini laik mendapat perhatian lebih.”

National Geographic Traveller Indonesia

Read More / Baca Selengkapnya....

HOTEL IDAMAN

Minggu, 09 Agustus 2009

Perjalanan wisata dan bisnis telah melahirkan sebuah kebutuhan mendasar bernama akomodasi komersial, yang diwadahi dalam bentuk resor dan hotel berbagai kelas. Terminologi berangkat dari tersedianya tempat hunian sementara dengan fasilitas tertentu sesuai stándar yang diinginkan. Dalam kamus para pejalan independen, keinginan itu dituangkan dalam kalimat pendek yang terdengar puitis ; a home away from home. Artinya, penyedia akomodasi perlu menyediakan tempat tinggal yang mampu membuat pengguna kerasan dan ingin kembali lagi karena berbagai faktor. Mulai lokasi, layanan, kelengkapan fasilitas sampai keramahan petugas atau hal-hal bersifat non-teknis.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebagaimana dikutip Pusformas Departemen Kebudayaan dan Pariwisata menyebut, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) atau okupansi hotel-hotel di 14 provinsi di Indonesia pada Desember 2008 mencapai rata-rata 49,69%. Angka ini mencakup hotel bintang satu sampai lima, dengan perolehan terbesar ada pada hotel bintang tiga (48,35%) pada kategori di bawah hotel bintang empat dan lima, dan hotel bintang empat (55,42%) pada kategori hotel bintang empat dan lima. Tingkat okupansinya sendiri berfokus di tiga provinsi : Bali (63,23%), DI Yogyakarta (57,38%) dan Sumatra Barat (55,40%).

Pergerakan angka yang menunjukkan grafik menaik ini merupakan hal yang patut disambut baik. Apalagi bila diiringi dengan pertimbuhan tingkat okupansi di berbagai provinsi lain di seluruh Indonesia, berangkat dari pemahaman bahwa pariwisata Tanah Air merupakan salah satu komoditi penting.

Lepas dari konteks pengertian hotel berbintang atau pun kelas melati seperti yang diklasifikasikan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), National Geographic Traveler menggelar sebuah serasehan untuk mengungkap kriteria dan sisik-melik kondisi sebuah tempat bermalam yang diinginkan para pejalan. Termasuk keputusan memberi predikat penyedia akomodasi lain mendapat predikat favorit atau terbaik, karena memiliki keunikan tertentu.

Kami mengundang beberapa public figure, pelaku seni, jurnalis serta pribadi-pribadi dari berbagai latar-belakang, dengan kekhususan kerap melakukan perjalanan dalam tataran wisata maupun bisnis agar dapat menggambarkan keinginan dan kebutuhan yang diperlukan pejalan. Mereka adalah William Wongso (pakar kuliner), Jay Subyakto (seniman), Riyanni Djangkaru (presenter dan ibu rumah tangga), Burhan Abe (pemimpin dua redaksi media cetak gaya hidup dan kuliner), Muhammad Gunawan ”Ogun” (pendaki gunung dan pemandu khusus), Ade Purnama (pengelola sebuah komunitas pejalan), Siti Kholifah (produser acara wisata sebuah stasiun televisi swasta), Amir Shidarta (kurator) dan Heryus Saputro (jurnalis).

Bersama National Geographic Traveler, mereka mengkaji nilai-nilai yang sebaiknya dimiliki oleh sebuah tempat menginap atau akomodasi komersial, dengan titik tolak selaras dengan wisata ramah lingkungan dan berkelanjutan atau sustainable tourism.

Dari sarasehan Hotel Favorit yang di gelar National Geographic Traveler beserta para peserta panel diskusi dengan berbagai latar-belakang bidang kekhususan tadi, ada sederet penilaian yang bisa dituangkan untuk kategori sebuah tempat menginap. Dengan tidak mengadakan perbedaan berdasar klasifikasi daya tampung dan kategori hotel secara umum. Rumusan dari nilai-nilai yang diperbincangkan dalam sarasehan mencangkup :
1. pengertian penginapan sebagai ’the place to stay in’ secara umum
2. penginapan yang mengedepankan kekhususan tertentu;
• Sajian makanan khas.
• Gerai cendera mata unik dengan kepedulian terhadap lingkungan.
• Tidak mengedepankan hal yang dilarang, berkait pelestarian lingkungan hidup dan satwa langka.
• Keunikan dalam hal latar belakang, seperti nilai historis dan budaya.
• Hospitality atau keramahan yang dimiliki para petugasnya serta layanan, dengan tidak melakukan pembedaan berdasar ras, suku, golongan tertentu.
• Kelengkapan khusus yang dimiliki penginapan, seperti jasa pemandu atau pemesanan tiket dengan cepat.
• Kepedulian pihak pengelola penginapan untuk memberdayakan sumber daya manusia di kawasan sekitarnya serta mengajak para tamunya agar peduli terhadap isu lingkungan, meski dalam hal kecil sekalipun.
• Penginapan dengan lokasi yang beda atau tidak biasa, semisal di atas sungai.


National Geographic Traveler Indonesia

Lihat tulisan berikutnya




Read More / Baca Selengkapnya....

Sebuah Gagasan Tentang Hotel, Bisa Berangkat Dari Kecintan Luar Biasa Terhadap Barang Antik, Seni, Sejarah, Romantisme Dan Kenangan

Sabtu, 08 Agustus 2009

Hotel Sari yang didirikan Wijaya Waworuntu pada 1962. Tapi menurut Anhar, yang menjadi inspirasinya adalah Hotel Raffles lama yang benar-benar berhasil membuat membuat hanyut ke kehidupan masa lampau.

Ganesha Gallery dibuka tahun 1995 sebagai Four Season Hotel Jimbaran Bali. Akhir tahun berikutnya, Komaneka Resort dibuka dan menampilkan Komaneka Gallery di bagian depan lahannya di Ubud. Konon, diakhir 1950-an dan awal 1960-an, Bung Karno sering mengajak tamu negara mengunjungi Gallery James Pandi di Sanur sambil bersantap, menikmati bahkan akhirnya berbelanja karya seni. Kedekatan hubungan antara hospitality dan apresiasi seni seperti itulah yang menjadi inspirasi para hotelier untuk menyertakan gallery di hotel.

Apakah gagasan serupa juga “dipinjam” dari ide hotel di luar negeri, tak di ketahui jelas. Broomhill Art Hotel yang dikenal sebagai hotel yang menampilkan taman patung di taman cantik North Devon, Inggris muncul 1997. Dua tahun kemudian, Steve Wynn mendirikan Hotel Bellagio dengan gallery seni rupa. Koleksinya, termasuk karya-karya Paul Gauguin, Vincent van Gogh, Hendrri Metesse, Pablo Picasso, Andy Warhol, yang sebelumnya di pamerkan di Nevada Museum of Art in Reno, sebagian di pamerkan di gallery itu, sebagai permata koleksi ini. Tampil karya Picasso, Le Reve, yang konon dibelinya 1997 seharga US$ 48,5 juta. Namun resor mewah Grand Wailea di Maui, dihiasi patung-patung karya Fernando Botero.

Keberadaan karya seni dalam kemewahan hotel, seperti lukisan monumental Jaka Tarub karya Basoeky Abdullah terpajang megah di loby hotel Le Maridien di Jakarta, tak menjamin hotel itu berkesan. Pada akhirnya, para hotelier juga menyadari, bahwa selain pelayanan yang baik, pengunjung terkesan pada suasana dan kenangan yang dihadirkan.

Semakin indah dan romantis nuansa yang berhasil ditumbuhkan lewat karya-karya seni, semakin baik pula kesan mereka pada hotel. Mudah-mudahan para pengelola dan pemilik hotel tertarik melestarikan benda-benda bernuansa seni, sejarah dan budaya yang berhubungan dengan sejarah sosial masyarakat kita.

oleh AMIR SIDHARTA
National Geographic Traveller Indonesia

Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel dan Karya Seni

Jumat, 07 Agustus 2009

Hotel yang melekat pada ingatan menampilkan sesuatu dan watak kuat, mengesahkan dengan karya seni atau benda antik bernilai sejarah dan budaya.

Paling tidak sejak paruh kedua abad ke-19, dengan munculnya Grand Hotel Du Louver di Paris, Grend Hotel Europe Di St. Petersberg, Hotel Saecher Di Vienna, Dan Hotel Savoy Di London, hotel tak jadi tempat penginapan semata, tapi sebuah tempat tinggal megah di lengkapi perabotan mebel serta barang penghias mewah, sering termasuk karya seni. Sejak itu hotel menjadi bagian bagian gaya hidup kalangan atas untuk menghabiskan waktu senggang. Berkembang hotel semacam itu di eropa, bisa jadi terinspirasi keberadaan hote-hotel di koloni-koloni Negara itu. Hotel Binenhoff di Bogor, yang didirikan pada pertengahan abad ke-19 misalnya, merupakan guest house bersuasana sepadan dengan Istana Bogor.

Pada peralihan abad ke-19 ke-20, Cezar Ritz meneruskan tradisi itu di Eropa, dan Serkies Bersaudara meneruskannya di Asia Tenggara dengan mendirikan Hotel Strand Rangoon, Hotel Eastern & Oriental Penang, Hotel Orenje Surabaya dan Hotel Kartika Wijaya di Batu, Hotel Des Indes Batavia dan The Manila dihias menjadi tempat megah mewah menimbulkan kesan berbudaya.

Sementara hotel-hotel di awal abad ke-20 cenderung dengan arsitektur bergaya revival (kebangkitan kembali), tahun 1916, Frank Lloyd Wright di percaya merancang imperial Hotel di Tokyo. Sejak itu, arsitektur modern menjadi bagian penting perancangan hotel, seperti hotel Savoy-Homann di Bandung karya Wolff Schoemarker yang bergaya Art-deco.

Setelah perang dunia II usai, hotel-hotel yang muncul cenderung dirancang lebih praktis, efesien dan ekonomis, sesuai kaidah arsitektur Modernis dan mashab Internasional Style. Di Indonesia kecenderungan semacam itu juga di rasakan di Hotel Indonesia, yang didirikan untuk menampung peserta Asian Games 1962. Namun pada rencana modernis Abel Sorensen, arsitek Amerika Serikat keturunan Denmark, di tampilkan seni rupa public karya para perupa Indonesia.

Presiden pertama Soekarno, paham betul seni rupa memiliki potensi besar mengumandangkan semangat bangsa sebuah republik muda. Selain dihadirkan menjadi landmark di titik-titik strategis ibukota, karya-karya seni publik juga menghiasi hotel-hotel yang dibangunnya. Hotel Indonesia menjadi contoh utama gagasan Soekarno, didalam hotel itu karya-karya monumental seperti mural mozaik karya Gregorius Sidharta menjadi cermin pandangan kebangsaan kita.

Gagasan hotel yang berkembang belakangan ini tek terlepas dari masa lalu - keindahan dan romantisme. Hal itu jelas terasa pada hotel-hotel seperti Tugu Park Hotel Malang, yang buka di awal 1990-an. Gagasan hotel itu, menurut pendiriannya, Anhar Setjadibrata, tak terlapas dari, ”kecintaan luar biasa terhadap barang-barang antik, benda-benda seni sejarah, romantisme dan kenangan yang tiada keindahan dan kebesaran masalalu.” Sebagai pencinta seni, ia mengaku perlu jeli melihat penampilan fisik barang, dan sebagai pengacara, ia juga perlu cermat meneliti bukti dan pengakuan narasumbernya.

Kalau Hotel Tugu Malang menampilkan ruangan “Si Raja Gula - Oei Tiong Ham”, di Bali suites dinamakan le Mayeur Suite dan Walter Spies Suite dan dilengkapi barang-barang yang ia yakini pernah dimiliki kedua perupa itu, di peroleh dari kerabat mereka. Walau yang ia lakukan dalam penelitian ini mirip pekerjaan curator museum, pada akhirnya ia menyadari yang di hasilkan bukanlah pameran museum tapi interior hotel yang boleh dan perlu menggugah romantisme dan fantasi.

Nuansa yang dihadirkan Hotel Tugu Park bukanlah suatu yang baru. Hotel itu meningatkan kita pada Hotel Tanjung.


oleh AMIR SIDHARTA
National Geographic Traveller Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

Menepi dari Hiruk-pikuk Manila

Kamis, 06 Agustus 2009

Belajar sejarah dari bait-bait puisi Jose Rizal, pilar-pilar gereja Barok dan reruntuhan Perang Dunia II.


”M agandang umaga. Boss, metro ta iyo,” saya menyapa sopir taksi begitu membuka pintu. Bersama sahabat lama yang tinggal di Quezon City, Deepa Mansukhani, kami masuk deepa mengacungkan jempol, mendengar saya ’bergaya’, bicara Tagalog. Padahal maksud saya cuma memaksa pak sopir supaya pakai argo saat mengantar kami kepelabuhan ferry dekat Roxas Boulevard. Hari itu Deepa berulang-tahun dan saya mentraktirnya berwisata ke Pulau Corregidor di Teluk Manila.

FAKTA SINGKAT Berbincang soal taksi, Manila tak ubahnya Jakarta. Mesti piawai memilih kalau tak ingin bayar mahal – karena sopir beralasan lupa menyalakan argo. Kami beruntung, pagi itu tak harus menembus Epifanio De Los Santos Avenue (EDSA). Jalan raya bebas hambatan Metro Manila yang menyerupai setengah lingkaran, menghubungkan Caloocan City di utara, sampai Passay City di selatan. Nadi pertama perekonomian ibukota Filipina ini terdiri dari jalan raya bebas hambatan dua arah, di tambah lajur khusus untuk Metro Rail Transit (MRT). Tiap ruas melayani sekitar 225 ribu kendaraan perhari. Terbayanglah keruwetan di setiap persimpangannya. Kondisi ini, menjadi salah satu alasan pejalan ingin cepat-cepat hengkang dari Manila. Padahal sebagai ibu negeri atas 7, 107 pulau yang tersebar di Laut Pasifik, Laut Filipina. Laut China Selatan sampai Laut Sulu, Lungsod ng Maynila – nama aslinya – menyimpan warisan sejarah.

Awalnya, bangsa Melayu tiba di Pulau Luzon untuk mencari tanah harapan. Manila jadi tumpuan, karena lokasi strategis diapit Teluk Manila dan Sungai Pasing. Tiga kepala pemerintahan beragama Islam; Rajah Sulayman, Rajah Matanda dan Lakandula bertahta disini. Kota itu dinamai ’ Maynilad ’, diambil dari nilad, bunga yang tumbuh sepanjang tepian Sungai Pasing. Pada 1570, bangsa Spanyol dipimpin Miguel Lopez de Legazpi mendarat di Manila, setelah singgah di Cebu (1565). Rajah Sulayman melakukan penyerahan kota secara damai.

Lalu kaum Hispanik membangun kota Intramuros yang berarti ’dalam tembok’, dengan luas 640.000 m persegi, tinggi tembok 6 m dan tebal 3 m. Kini Manila tumbuh menjadi megapolitan seluas 38,55 km2, populasi 1.660.714 orang (sensus 2 tahun lalu) dan menjadi sister city beberapa kota di dunia, termasuk Jakarta.

PEREBUTAN CORREGIDOR –
Dari Manila yang dipenuhi pencakar langit dan tingkat kemacetan sepadan Jakarta, kami bertolak ke Pulau Corregidor. Pelayaran bersama Sun Cruises dimulai dari Hover Ferry Terminal dekat Cultural Center di Roxas Boulevard. Sesampainya di North Dock satu jam kemudian, dijemput tramvia – sejenis bus terbuka agar peserta mudah menyimak peninggalan Perang Dunia II.

Corredigor merupakan pulau kecil di mulut Teluk Manila yang menghadap semenanjung Bataan. Namanya dari bahasa Spanyol, Isla del Corregidor, ”el corregidor” berarti ’koreksi’. Saat penundukan bagsa Hispanik, segala kapal yang masuk mesti berhenti disini untuk pemeriksaan dokumen.

Setelah menjadi bagian koloni kerajaan Spanyol, pada 1836 dibangunlah menara suar pertama dipulau berbentuk kecebong itu. Saat mengalami kekalahan, Spanyol menyerahkan Cuba, Puerto Rico serta kepulauan Filipina pada Amerika berdasar Perjanjian Paris 1898. Tentara Amerika Serikat juga mengambil-alih Pulau Corregidor dan membuat pangkalan militer bernama Fort Mills.

Sepanjang Perang Filipina (1941–1942), jendral Douglas MacArthur menggunakan Corregidor sebagai markas Tentara Sekutu. Pemerintah darurat Filipina juga dijalankan dari sini. Pelantikan Presiden Manuel L. Quezon dan wakilnya, Sergio Osmena dilakukan diluar Malinta Tunnel – yang menjadi pusat perlindungan. Perebutan kembali Corregidor oleh tentara pembebasan Amerika – Filipino berlangsung sengit selama 10 hari (16 – 26 februari 1945) dan Jepan harus menerima kekalahan.

Dalam tur ke Corregidor, secara sistematis pemandu wisata membawa tramvia menyusuri bagian-bagian pulau, dari Bottomside, Meddleside, Topside. Tail End dan Malinta Hill. Landmark terkenal dikawasan ini antara lain patung Jendral MacArthur ditambah komentar kondangnya, ”I shall return”. Kemudian makam para tentara berdasar religi, Filipino Heroes Memorial, MacArthur Park, Filipino – American Friendship Park, The Mile-Long Barracks, Middleside Barracks Parade Ground, Pacific War Memorial, rumah sakit, markas komando, landasan pesawat, ’Cine’ – gedung bioskop para tentara yang tinggal reruntuhan – , lokasi pendaratan pembebasan Corregidor oleh pasukan Para 503 Amerika Serikat dan relic peperangan berupa meriam, pelontar roket ditambah lorong-lorong perlindungan bagi tentara petugasnya. Serta menara suar yang merupakan warisan Spanyol.

Di luar reruntuhan dan puing peninggalan perang, karya arsitek untuk Pacific War Memorial terasa mengetuk hati para pengunjung. Kubah putih disentral kompleks dibuat berongga dan setiap 6 mei, sinar surya tengah hai akan jatuh menerangi altar dibawah kubah. Inilah saat hening sejenak, mengenang penyerahan tentara Amerika dan Filipina di Corregidor kepada Jepang.

TEMBOK INTRAMUROS –
Melongok pertumbuhan Manila yang begitu cepat, saya mengagumi semangat revitalisasi kota tua oleh pemerintah setempat. Perompak Laut Sulu, kaum China, Belanda, Inggris sampai tentara Jepang dan Amerika silih berganti memporakporandakan kawasan ini, hingga cuma menyisakan San Agustin Church sebagai satu-satunya gereja yang bertahan dalam kompleks. Satu hari bisa dibelanjakan disini, bertandang ke Fort Santigo, Rizal Shrine, San Agustin Church dan museumnya serta Manila Cathedral.

Namun Fort Santigo yang dilengkapi penjara bawah tanah tak terlupakan dalam sejarah Revolusi Filipina, karena pejuang revolusi institusional dalam bentuk damai, Dr Jose Protasio Rizal Mercado y Alonso Realonda atau lebih dikenal sebagai Jose Rizal pernah ditahan disini (1896). Pria berusia 35 yang terkenal sebagai penulis novel, jurnalis, ahli bedah, ahli mata, pelukis, pematung dengan kecakapan berkomunikasi lebih dari 20 bahasa itu menjadi target pemerintah Spanyol karena novelnya berisi kritik.

Rizal Shrine terletak di ujung Fort Santiago, menghadap Sungai Pasing dan terletak disebelah kiri Plaza Almas. Pada lobby, terdapat mural yang menggambarkan kondisi Rizal saat menghadapi regu tembak. Ruang pertama dinamai Chamber of Text. Isinya berbagai kutipan Rizal yang terkenal, seperti kebanggaan berbahasa, cinta tanah air hingga cinta kebenaran. Seluruhnya ditatah pada lempeng logam, menggunakan berbagai bahasa, merujuk pada kecakapan Rizal berbahasa. Juga terdapat koleksi buku-buku miliknya, puisi-puisi serta dua novel karyanya; Noli Me Tangere dan El Filibusterismo.

Ruang berikutnya, Contemplation Room. Tempat dimana Rizal menghabiskan hari-hari menunggu eksekusi. Ruang tahanan nya dulu digunakan sebagai gudang makanan dan pantry. Selanjutnya, terdapat Stairway Gallery yang mengantar ke lantai dua. Berbagai lukisan menggambarkan detik-detik kehidupan pahlawan nasional Filipina dipajang. Pintu keluar museum kecil itu menuju ke penjara bawah tanah dekat Sungai pasing.

Dari Fort Santiago, keanggunan gereja San Agustin (1604) yang mengantongi gelar situs warisan dunia UNESCO 1994 mengajak kaki mendekat. Desain Barok dengan pilar-pilar tinggi serta susunan batunya menyiratkan betapa banyak peristiwa sejarah dalam kawasan Intramuros sudah ia saksikan. Mural di dinding menyiratkan kedamaian, dipadu tempat lilin buatan abad ke - 14 yang tergantung dilangit-langit. Miguel Lopez de Legazpi dan para jendralnya, seperti Juan de Salcedo, Martin de Goiti dan Guido de Lavezaris dimakamkan disini.

San Agustin museum berseberangan dengan gerejanya. Pengunjung tidak diperkenankan memotret diruang pamer. Lantai pertama, Sala De La Capitulacion merupakan ruang pembuatan surat penyerahan Filipina kepada Amerika (1898). Diruang Sacristy, terdapat altar berlapis emas buatan 1650. Lalu ruang Sala Profundis, berfungsi sebagai mausoleum dengan langit-langit berhias fresco. Koleksi potret-potret tua San Agustin Church serta seluruh gereja ordo Agustinian di Filipina berada dilantai dua, lewat tangga batu granit dari Canton (dipasang 1780).

Manial Cathedral merupakan bangunan megah dengan kubah menjulang tinggi. Dibangun uskup Domingo de Salazar dibawah advokasi gereja Immaculate Conception og the Blessed Virgin Marry yang ditahbiskan Paus Gregorius XIII (1579). Setelah melewati berkali-kali gempa bumi, Manila Cathedral menjadi sasaran Revolusi Filipina, Perang Filipino – Amerika (1898-1902) dan pembebasan Manila Atas Jepang (1945). Yang bisa disaksikan kini merupakan rekonstruksi setelah rusak parah akibat peperangan.

MABUHAI FILIPINO
Rizal Park terletak diluar kompleks cagar budaya Intramuros. Disatu titik ditaman inilah Rizal dieksekusi, dinamai Bagumbayan. Rumput taman terlihat rapi, terdapat air mancur, dua taman (Chinese dan Japanese Garden) serta monumen Rizal Memorial, yang dijaga prajurit 24 jam. Puisi Mi Ultimo Adios yang ditulisnya menjelang detik-detik eksekusi dipahat di satu sisi.

Sungguh, sebuah wacana sejarah yang membuat pejalan mengerti lebih banyak sisi historis Filipina. Deepa menjemput saya di ujung taman, untuk tanghalian atau santap siang ke SM Megamall. Resto Kamayan merupakan pilihan jitu merasai kuliner kegemaran Pinoy. Ada chicken atau pork adobo (mirip semur), kare-kare (buntut sapi tumis saus kacang), lechon sa kawali (goreng babi), menudo (potongan daging babi disetup dengan kentang dan sayuran), camaron rebusado (udang goreng), dan tentu saja favorit saya, inihau na bangus – bandeng panggang tanpa tulang dicelup saus bawang putih dan cuka – dan sinigang na hipon (sayur asam udang).

Malam terakhir di Manila, menjelajahlah kami ke Remedos Circle, daerah malate. Sebuah lokasi hang out bagi pejalan lokal, pejalan asing, para pelaku seni, musisi sampai para penulis. Tersedia deretan Resto, Kafe, Bar sampai diskotek. Ya, diskotek yang marak di era 1980 –an serasa di hidupkan kembali.

Cafe Adriatico disebut-sebut sebagai ’kafe Filipina asli pertama’. buka sejak 1979, material kayu menjadi aksen interior, ditambah berbagai memorabilia. Tak boleh dilewatkan disini, meneguk Chocolate Eh! Namanya sudah di patenkan. Berupa coklat panas kental ala Sepanyol dari kakao asli yang dihidangkan dalam cangkir espreso. Bila megiginkan versi cair, tersedia Chocolate ah ! dan eh maupun ah, seolah mewakili kehangatan sambutan manila sebagai salah satu gerbang menuju kepulauan Filipina. Begitu bersahabat dan hidup. Seperti sapaan has para pinoy, ’mabuhay’; hiduplah.


National Geographic Traveller Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

Keramahan ala Hotel Bumi Karsa Bidakara

Rabu, 05 Agustus 2009

Aneka fasilitas nikmat tidak identik dengan harga supermahal bila Hotel Bumi Karsa Bidakara di kemukakan sebagai contohnya. Ditambah dengan akses yang mudah dari segala sudut jalan, ia bisa menjadi pilihan akhir pekan keluarga.

Sejenak melepas penat dari kesibukan dan bisa terkumpul dengan keluarga merupakan saat yang berarti. Mulai dari hanya menikmati makan malam, olahraga, hingga menginap. Hotel Bumi Karsa Bidakara bisa mengakomodasi hal di atas.

”Hotel ini diresmikan pada 28 Februari 1998 dan berbintang empat. Terdiri dari 10 lantai dan memiliki konsep hotel MICE (Meeting Intensive Convention Exhibition) dengan jumlah kamar 172 dan terdiri dari berbagai tipe, juga menawarkan sebuah harmoni yang berbeda di setiap kamarnya. Bahkan jangan kaget jika pada saat hari kerja, hotel pun penuh. Hotel ini sering digunakan juga sebagai ajang pertemuan yang bersifat nasional maupun internasional,” jelas Rini S. Syarif, Public Relation Manager Hotel Bumi Karsa Bidakara.

Dari semua ruang yang ada, ada dua buah ruangan besar, yaitu Birawa Assembly Hall yang mampu menampung 3.000 orang untuk standing party dan ruang Bidakara yang mampu menampung 1.500 orang. Standing party itu dengan kebebasan mendesain dekorasi sesuai keinginan calon pengantin. Ruang ini tidak pernah sepi untuk acara pernikahan.

Selain itu, ruangan tersebut dapat digunakan pula untuk kongres maupun eksebisi. Beberapa waktu yang lalu, pernah dilaksanakan Musrenbangnas ( Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional ) yang dihadiri oleh Presiden dan Wakil Presiden RI serta para menterinya.

Dengan fasilitas yang optimal, hotel ini berusaha menyenangkan konsumennya. Bisa dikatakan one stop shopping and business menyata di hotel yang berlokasi tak jauh dari Tugu Pancoran ini, mulai dari tempat pemesanan tiket, bank, medical centre, karaoke, pusat kebugaran (fitnes centre), spa ; dan kolam renang (swimming poll) yang berada di lantai tiga ruang terbuka (outdoor) hingga pusat perbelanjaan.

Menginap sekaligus berbelanja maupun berbisnis benar – benar terfasilitasi karena kompleks perkantoran ada di area hotel ini. Pelengkap lainnya masih tersedia, seperti pusat jajan (food court), ruang karaoke, fitness centre, ruang pertemuan (assembly hall), dan area parkir yang luas. Pelesir yang nyaman bukan ?

Selain berbagai fasilitas untuk menyenangkan hati, ada nuansa spiritual yang relatif menonjol dari hotel ini, yaitu sarana peribadatan. Mushala ada di setiap lantai yang tertata apik, dan mesjid di lantai dasar.

Harga Terjangkau
Walau hotel Bidakara Jakarta berpredikat bintang empat, harga menu yang disajikan masih terjangkau. Seperti umumnya sebuah hotel, sudah pasti ada makanan yang terasa istimewa dan dijadikan menu favorit, yaitu pisang goreng birawa, sop buntut, lasagna, dan masih banyak menu lainnya.

Tersedia pula resto dalam berbagai tipe : ada yang dirancang buat sekadar makan, menjamu relasi, entertain hingga acara yang paling privaci, misalnya, rapat perusahaan atau acara keluarga yang sifatnya tidak ingin diganggu. Keramahan menjadi salah satu andalan hotel, tak lain agar sivitas pendukung hotel ini bisa lebur dengan para penggunanya.


National Geographic Traveller Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

Makna Universal Adibatik pekalongan

Selasa, 04 Agustus 2009

Kota Pekalongan mulai dikenal sebagai salah satu sentra batik non- Kraton, pada awal abad 19, saat perempuan Belanda dan Indo Belanda mendirikan pabrik batik. Dikuti oleh para pengusaha batik keturunan Arab dan China, pada pertengahan abad 19. Sistem pembuatannya sama halnya dengan batik klasik yang berasal dari kraton, menggunakan malam sebagi perintang warna, dan canting atau cap untuk membuat ragam hiasnya. Batik yang menggunakan canting di sebut batik halus, sementara batik yang dibuat dengan cap dikenal dengan batik cap. Kedua jenis batik ini biasanya menggunakan kain mori (katun) dan sutra – sutra sifon ataupun sutra kep. Saat ini, banyak pula batik pekalongan yang dibuat di atas kain sutra bertekstur yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin.

Dilihat dari tingkat kesulitannya, batik tulis biasanya jauh lebih mahal dibandingkan harga diatas Rp. 10 juta untuk satu helai kain sepanjang kurang lebih 2,5 meter. Lagi-lagi, tergantung kerumitan corak dan banyaknya warna. Demikian pula dengan batik tulis berbahan alat tenun bukan mesin pasti lebih mahal dibandingkan dengan batik tulis di atas sutra biasa.

Awalnya, batik dari daerah ini tampil dengan ragam hias yang sangat dipengaruhi oleh budaya Belanda dan Cina. Batik Pekalongan yang dipengaruhi oelh budaya Belanda biasanya menampilkan ragam yang diambil dari cerita dongeng Sneewietje (Snow white) atau Hens en Grietje (Hanzel & Gretel). Sebaliknya, batik asal pekalongan yang kental dengan budaya China mangambil pola dari cerita mitologi Cina- naga, burung hong, singa.

Batik asal Pekalongan yang dibuat oleh keturunan Belanda muncul dengan corak yang lebih modern yang bernuansa Eropa, seperti corak burung bangau, flora serta rangkaian bunga atau dikenal dengan istilah bukaten-dari kata bouquet. Demikian pula batik yang dihasilkan oleh para pengusaha batik Cina da Arab; mengambil ragam hias Eropa, namun masih diperkaya dengan isen- dari kata isian yang berarti corak kecil yang simetris, berfungsi mengisi bidang kosong-khas daerah pembuatan. Hal ini akhirnya diikuti pula oleh batik Pekalongan buatan pengusaha Belanda atai Indo Belanda. Bukti adanya percampuran budaya secara non verbal yang biasa dikenal dengan istilah mestizo – percampuran budaya lokal dan budaya pendatang yang melahirkan budaya baru.

Di jaman kolonial, kejayaan batik pekalongan mencapai puncaknya, pada awal abad 20. Muncul karya-karya terbaik buatan Elza van Zuylen dan Oey Soe Tjoen yang sangat halus dan berkarakter khas. Beberap pakar batik mengakui, hungga saat ini, belum ada batik Pekalongn sehalus batik buatan Zuylen atau Soe Tjoen, Coraknya lebih universal-terutama yang dipengaruhi budaya Eropa-membuat batik ini sangat adaptif. Tidak heran jika maestro batik Iwan Tirta, juga perancang muda Lenny Agustin, menggunakan motif batik asal Pekalongan pada karya-karyanya.

Nilai batik buatan Elza van Zuylen dan Oey Soe Tjoen bisa mencapai 1.500-3.000 dolar Amerika sehelainya. Hasil rekaan kedua seniman batik ini banyak dikoleksi oleh museum tekstil seluruh dunia. Tidak hanya karena sangat halus dan memiliki nilai seni tinggi, namun batik asal kota ini pun punya nilai filosofis yang cukup dalam bagi pemakainya. –

ANTON DIAZ, pengamat dan penulis mode.
National Geographic Traveller Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

Tersihir Mantra Batik Pekalongan

Bak cendawan di musim hujan, sentra kerajinan dan toko batik menjamur, memadati perkampungan. Jauh dari kesan glamor, tapi tetap berdaya mantra.

Pekalongan, kota kecil seluas 836,13 km2 yang cantik dengan potensi besar sebagai produsen batik. Monumen canting dan motif batik menjadi penghias lanskap, dapat dijumpai di tiap sudut kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Tak ada lagi alasan untuk mengabaikan pesona Negeri Sejuta Batik yang berada di jalur pantura ini.

Saya mengawali perjalanan bersama rombongan Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI Sapta Nirwandar – berjumlah lebih dari 300 orang, terdiri dari pelaku promosi pariwisata Ibukota, termasuk wartawan – dari stasiun KA Gambir, Jakarta. Kami menumpang kereta wisata Nusantara, yang bergandengan dengan kereta wisata Bali serta rangkaian kereta eksekutif Argo Muria. Kereta wisata Nusantara dilengkapi sofa, bantal, 1 kamar tidur, ruang makan, mini bar, toilet, serta perangkat audio visual. Benar – benar melenakan. Perjalanan Jakarta – Pekalongan selama lima jam terasa singkat, karena kami asyik bercengkerama sambil berkaraoke dan menonton DVD Laskar Pelangi.

Menjejakan kaki di Pekalongan, terasa atmosfer kesahajaan yang menyenangkan dan mengenyahkan penat. Walikota HM Basyir Ahmad dan Wakil Walikota H. Abu Al Mufachir ramah menyambut kami di rumah dinas yang bergaya klasik. Usai bersantap siang, kami berjalan kaki menuju Museum Batik di Jalan Jetayu No. 1, yang hanya berjarak sekitar 100 m dari rumah dinas Walikota. Di Museum seluas 600 m2 ini, rombongan berpencar. Sebagian menjajali butik di sayap kanan dan memulai perburuan produk batik yang memamerkan hamparan batik dari Nusantara beraneka motif dan warna.

Meski menempati bangunan klasik buatan tahun 1906, tapi museum yang diresmikan oleh Presiden SBY, tiga tahun lalu, ini tidak memancarkan kesan usang. Sebaliknya, ruang pamer didesain dengan atmosfer kekinian, hingga seluruh karya seni pusaka yang dipamerkan justru menyemaikan kekaguman dan kebanggan. Mulai dari batik karya Wong Kalongan yang terkenal dengan motif khas Jlampang, juga batik corak keraton Solo dan Yogtakarta, serta Banyumas, Kebumen, Purworejo, Cirebon, Pekalongan, Lasem, dan Madura.

Perjalanan berlanjut menuju Kampoeng Batik kauman. Sentra kearajianan dan toko batik menjamur di perkampungan ini. Meski jauh dari kesan glamor; tapi kampung batik yang terdiri dari belasan gang ini memilik daya mantra yang snaggup mempesona para turis. Selain kami, tampak lalu lalang wisatawan berwajag bulen dan oriental. Semangat bebrbelanja batik tersulut oleh keragaman produk batik yang dibandrol harga relatif terjangkau, dalam waktu singkat berhasil menggembol 4 kantong besar berisikan lusinan produk batik. “Untuk oleh-oleh.” Ia menukas.

Esok hari, kami merambah kampung batik di kecamatan Wiradesa. Tak sekedar memburu produk abtik, kami juga menjajal kerta mini, berkeliling perkampungan hingga berhenti di ruang workshop. Tertarik membuat “batik-batikan,” sebagain dari kami coba menggoraskan malam melalui canting pada kain. Goresan abstrak, spontan mengundang gelak tawa. Tak terasa sudah tiga jam berlalu. Saatnya untuk beranjak, emlanjutkan perjalanan ke pusat grosir batik di Sentono, dan berujung ke Stasiun KA Pekalongan, kembali ke Jakarta dengan kereta wisata. Tiba di rumah, saya mendapat SMS dari Hani, berbunyi, “Alamak, satu kantong belanjaan batikku ketinggalan di kereta!”


LOGISTIK: Transportasi: Semua kereta api kelas eksekutif jurusan Jakarta – Surabaya pp berhenti di stasiun KA Pekalongan. Tips: Pelajar dan umum dapat mengikuti praktek singkat membatik di Museum Batik. Website: www.museumbatik.kotapekalongan.go.id. Penginapan: Hotel Nirwana, Jl. Dr. Wahidin 11, Pekalongan, Telepon: 0285-422446; Hotel Gren Mandarin Jl. Dr. Soetomo, Telepon: 0285-4416523; Hotel Jayadipa Jl. Raya Baros 29, Pekalongan, telepon: 0285-424938.

Oleh VEGA PROBO
National Geographic Traveller Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....