Makna Universal Adibatik pekalongan

Selasa, 04 Agustus 2009

Kota Pekalongan mulai dikenal sebagai salah satu sentra batik non- Kraton, pada awal abad 19, saat perempuan Belanda dan Indo Belanda mendirikan pabrik batik. Dikuti oleh para pengusaha batik keturunan Arab dan China, pada pertengahan abad 19. Sistem pembuatannya sama halnya dengan batik klasik yang berasal dari kraton, menggunakan malam sebagi perintang warna, dan canting atau cap untuk membuat ragam hiasnya. Batik yang menggunakan canting di sebut batik halus, sementara batik yang dibuat dengan cap dikenal dengan batik cap. Kedua jenis batik ini biasanya menggunakan kain mori (katun) dan sutra – sutra sifon ataupun sutra kep. Saat ini, banyak pula batik pekalongan yang dibuat di atas kain sutra bertekstur yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin.

Dilihat dari tingkat kesulitannya, batik tulis biasanya jauh lebih mahal dibandingkan harga diatas Rp. 10 juta untuk satu helai kain sepanjang kurang lebih 2,5 meter. Lagi-lagi, tergantung kerumitan corak dan banyaknya warna. Demikian pula dengan batik tulis berbahan alat tenun bukan mesin pasti lebih mahal dibandingkan dengan batik tulis di atas sutra biasa.

Awalnya, batik dari daerah ini tampil dengan ragam hias yang sangat dipengaruhi oleh budaya Belanda dan Cina. Batik Pekalongan yang dipengaruhi oelh budaya Belanda biasanya menampilkan ragam yang diambil dari cerita dongeng Sneewietje (Snow white) atau Hens en Grietje (Hanzel & Gretel). Sebaliknya, batik asal pekalongan yang kental dengan budaya China mangambil pola dari cerita mitologi Cina- naga, burung hong, singa.

Batik asal Pekalongan yang dibuat oleh keturunan Belanda muncul dengan corak yang lebih modern yang bernuansa Eropa, seperti corak burung bangau, flora serta rangkaian bunga atau dikenal dengan istilah bukaten-dari kata bouquet. Demikian pula batik yang dihasilkan oleh para pengusaha batik Cina da Arab; mengambil ragam hias Eropa, namun masih diperkaya dengan isen- dari kata isian yang berarti corak kecil yang simetris, berfungsi mengisi bidang kosong-khas daerah pembuatan. Hal ini akhirnya diikuti pula oleh batik Pekalongan buatan pengusaha Belanda atai Indo Belanda. Bukti adanya percampuran budaya secara non verbal yang biasa dikenal dengan istilah mestizo – percampuran budaya lokal dan budaya pendatang yang melahirkan budaya baru.

Di jaman kolonial, kejayaan batik pekalongan mencapai puncaknya, pada awal abad 20. Muncul karya-karya terbaik buatan Elza van Zuylen dan Oey Soe Tjoen yang sangat halus dan berkarakter khas. Beberap pakar batik mengakui, hungga saat ini, belum ada batik Pekalongn sehalus batik buatan Zuylen atau Soe Tjoen, Coraknya lebih universal-terutama yang dipengaruhi budaya Eropa-membuat batik ini sangat adaptif. Tidak heran jika maestro batik Iwan Tirta, juga perancang muda Lenny Agustin, menggunakan motif batik asal Pekalongan pada karya-karyanya.

Nilai batik buatan Elza van Zuylen dan Oey Soe Tjoen bisa mencapai 1.500-3.000 dolar Amerika sehelainya. Hasil rekaan kedua seniman batik ini banyak dikoleksi oleh museum tekstil seluruh dunia. Tidak hanya karena sangat halus dan memiliki nilai seni tinggi, namun batik asal kota ini pun punya nilai filosofis yang cukup dalam bagi pemakainya. –

ANTON DIAZ, pengamat dan penulis mode.
National Geographic Traveller Indonesia



*****
Related Posts by Categories