TIPS LIBURAN

Selasa, 29 Desember 2009

Berlibur pun perlu persiapan khusus.
Meski klise, mencegah lebih baik dari pada mengobati
oleh CRISTIANTIOWATI.

Kalau ada hiu Bagaimana?”Lupakan pertanyaan’besar’yang di picu film-film khayalan macam Jaws(1975) yang diangkat dari novel laris peter Benchley itu.Sang penulis yang merupakan penyelam dan ahli lingkungan, lewat bukunya, Shark Trouble (2001) menepis citra buruk hiu sebagai pemakan manusia.Faktanya dari lebih 440 spesies mulai hiu lentera kate(Etmopterus perryi) sepanjang 17 cm sampai hiu paus (Rhincodon typus) sepanjang 12 m memakan plankton, hanya empat jenis yang tercatat pernah menyerang manusia : hiu putih raksasa yang hanya terdapat di Australia dan Afrika selatan, hiu macan, bull shark, dan hiu ujung sirip putih samudera.

Faktanya bertemu hiu saat menyelam adalah keistimewaan yang justru di nanti. Berkali-kali saya menemui hiu, justru mereka menghindar. Semua makluk takkan menyerang bila mereka tak terganggu oleh kita.

Tahukah anda, bahwa tangan saya dan teman-teman pernah berdarah dipatuk justru oleh Nemo si ikan giru saat menyelam di Bali? Ikan-ikan kecil yang (biasanya) menggemaskan bersembunyi di belalai anemone ternyata saat itu sedang masa kawin. Ia berenang beberapa meter meninggalkan anemone,menyonsong dan mematuk kami untuk melindungi anak-anaknya.

Yang harus diwaspadai justru si kecil nyamuk malaria. Minumlah pil anti malaria jika hendak berlibur ke pantai dan laut yang di ketahui memiliki rawa.

Ada yang justru cedera saat di pantai : tanpa sengaja menginjak ikan lepu batu yang sekilas seperti batu atau karang, kerang contong/batik, ikan pari yang setengah terkubur dipasir di padang lamun, menunggu mangsa, atau tersengat ubur-ubur dan tertusuk bulu babi saat snorkeling karena kurang hati-hati.

Jadi, pakailah alas kaki yang terbaik seperti coral booties saat jalan-jalan sepanjang pantai. Perhatikan posisi tubuh saat snorkeling. Kedua lengan tetap disisi tubuh : nikmati terumbu karang, jangan sentuh, karena mungkin adalah karang api atau hydroid, sekilas mirip suplir yang melepuhkan kulit. Hindari snorkeling dekat bulu babi, karena pembiasan dalam air, kita tidak bisa memastikan panjang durinya yang mencapai 20 cm.
Luka akibat biota laut umumnya berupa tertusuk (bulu babi, karang, endapan) dan raum (tersengat hydroid, karang api, ubur-ubur, anemone). Pertolongan pertama luka tertusuk bisa di atasi dengan mengangkat potongan yang tertinggal dengan sarung tangan atau pingset, lalu rendam bagian terluka dalam air panas (45 derajat celcius) selama 30-90 menit.Kebanyakan racun adalah protein yang akan hancur dan melunak oleh panas.

Rendm atau bubuhi luka raum dengan cairan asam asetat 5% (cuka) untuk pertolongan pertama mengurangi nyeri. Selanjutnya, segera temui dokter untuk pengobatan efektif.

Pada orang tertentu, saya misalnya, pembubuhan obat justru memicu alergi. Dari pengalaman, setelah dibersihkan dengan air tawar, biarkan saja luka dan raum. Tahan tak menggaruk bila gatal datang. Bubuhi saja bedak antigatal atau gel lidah buaya pengurang gatal-bisa dibeli bebas di apotik. Raum akibat sengatan biota laut biasanya berlangsung sekitar dua minggu. Tapi akan mereda bertahap tanpa menimbulkan bekas di kulit.

Sekali lagi, nikmati dan hargailah alam. Sebuah dive centre di Manado, Eco Diver, melarang penyelam bersarung tangan. Tujuannya jelas : jaga jarak aman dengan terumbu karang, jangan sentuh!

Sumber :
National Geographic Traveller Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

10 PULAU DI INDONESIA INGIN DIKUNJUNGI

Senin, 28 Desember 2009



10 PULAU DI INDONESIA INGIN DIKUNJUNGI
Best Indonesia Island to visit

No
Data
Jumlah
Persentase
  1. BALI 334 69.6%
  2. LOMBOK 137 28.5%
  3. SUMATERA 134 27.9%
  4. KALIMANTAN 123 25.6%
  5. JAWA 69 14.4%
  6. SULAWESI 67 14.0%
  7. PAPUA 66 13.8%
  8. BATAM 19 4.0%
  9. BUNAKEN 15 3.1%
  10. P.SERIBU 15 3.1%

Keterangan:
  1. Survei dilakukan oleh Litbang Media Group pada 03 Agustus 2009
  2. Responden adalah masyarakat pengguna telpon residensial di Jakarta, Medan, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Makassar
  3. Rumah tangga dipilih secara acak melalui buku petunjuk telpon residensial yang diterbitkan PT.Telkom
  4. Jumlah responden 480 orang dewasa (17+, Laki:Perempuan = 50:50)


Sumber :
http://metrotvnews.com/metro10/index.php?metro10=episode&id=89






Read More / Baca Selengkapnya....

Nasi Liwet Yu Sani

Jumat, 30 Oktober 2009

DIMASAK 9 JAM, “BERANI” SANTAN

Di Kota Solo banyak sekali penjual nasi liwet.Tak mengherankan karena nasi liwet memang ikon kuliner dikota ini. Masakan ini konon dulu merupakan menu khas istana Keraton Surakarta. Dari sekian banyak penjual nasi liwet, tak berlebihan bila kita menempatkan nasi liwet Yu Sani pada daftar urutan atas yang harus dikunjungi.

Warung ini berada di luar kota Solo tepatnya di kawasan pertokohan Solo Baru, daerah satelit kota Solo yang sudah masuk Kabupaten Sukoharjo. Jaraknya sekitar dua kilometer dari pusat kota Solo. Dari arah Solo, warung tenda Yu Sani berada di kiri jalan setelah bundaran air mancur. Tempat duduk lesehannya bersih dan nyaman.

Keistimewaan nasi liwet Yu Sani adalah rasanya yang super gurih, baik nasi maupun sayuran dan daging ayamnya, gurih tapi tidak enek. Kegurihan nasi liwet Yu Sani dikerenakan “keberanian“ menggunakan santan kelapa. Untuk memproses 30 kg nasi, 25 ekor ayam, dan 50 kg labu siam, Yu Sani berani mengunakan 50 butir kelapa. Itu baru gurih dari santannya, belum rasa gurihnya dari bumbunya lain seperti daun salam, bawang merah, bawang putih, dan sebagainya.

Kuah nasi liwet Yu Sani juga tidak berisi gerusan kulit cabai seperti pada umumnya nasi liwet. Ini dikerenakan Yu Sani hanya menggunakan air cabai. Saat memasak, lombok yang di ulek tangan tak ikut dimasukkan sebagai bumbu, melainkan disaring terlebih dahulu. Ini yang membuat rasa kuah sayur jepan (lubu siam) Yu Sani lebih lembut meski warnanya kuning kemerah-merahan. Kalau anda penggemar pedas, silakan ceplus saja lombok kukus yang disediakan di meja.

Selain rasanya lembut, kuah sayur jepan Yu Sani juga gurih karena berasal dari air santan ditambah kaldu ayam kampung. Pekat sekali. Labu siam ini adalah satu-satunya jenis sayuran yang tersaji di nasi liwet. Yu Sani selalu memilih jepan yang segar sebelum diiris kecil-kecil. Untuk 50 kg sayur jepan, Yu Sani menghabiskan 1,5 kg bawang merah dan bawang putih sebagai bumbu. Semuanya ditumbuk dengan cobek besar secara manual, tidak menggunakan blender.

Satu porsi nasi liwet terdiri atas nasi gurih, sayur jepan, tempe bacem, tahu bacem, telur pindang, kuning telur kukus, dan suwiran daging ayam. Isinya cukup lengkap. Tak lupa pula areh atau klumud, endapan santan campur putih telur yang kemudian dikukus setelah ditambah garam.

Jika daging ayam masih kurang, Anda bisa minta tambah. Pilihannya mulai dari dada , paha, brutu, kepala atau ampela. Daging ayamnya di jamin empuk dan gurih. Padahal ayamnya jenis ayam kampung yang terkenal alot. ”Kami memilih ayam yang masih muda/ belum bertelur,” kataYu Sani.

Selain ayamnya masih muda, cara memasaknya pun ikut menentukan keempukan daging. Yu Sani merebus ayam selama lima jam dari pukul 09.00-14.00 WIB. Ayam-ayam pilihan itu direbus dengan bumbu lengkuas, daun salam, jahe, kunyit, dan sebagainya. Setelah empuk, diangkat. Sisa air rebusan daging ayam yang sudah berbumbu itu digunakan sebagai kuah sayur jepan dengan ditambah air santan.

Yu Sani menghabiskan waktu hingga sembilan jam untuk menyelesaikan pekerjaannya membuat nasi liwet. Yang paling lama adalah proses memasak ayam. Berbeda dengan nasi uduk yang juga gurih, nasi liwet jauh lebih gurih. Selain diberih santan hingga terlihat berminyak, nasi gurih ini ditanak dengan diberi bawang merah dan putih yang diiris kecil-kecil. Semua proses memasak itu dilakukan dengan kayu bakar.

Nasi gurih ditempatkan dipanci yang dilapisi daun pisang. Bukan daun pisang segar melainkan layu oleh panasnya uap air. Baunya kas karena bekas dipakai mengukus telur dan lombok. Nasi liwet ini disajikan diatas daun pisang yang dibuat pincut. Karena belakangan daun pisang susah didapat, Yu Sani menyiasati dengan memakai piring tetapi tetap dilapisi daun pisang. ”Kalau minta pincuk, Ya dikasih pincuk,”Katanya.

Sumber :
Intisari Khusus

Read More / Baca Selengkapnya....

1001 Warna Teluk Jakarta

Senin, 26 Oktober 2009

Anciol, Angiol, Anschiol, Ansjol, Antsyol, Anjool…
Tak hanya berubah nama, kawasan wisata modern di utara ibikota Jakarta ini pun berubah warna.

Transjakarta Busway yang saya tumpangi merapat di halte Ancol. Saat pintu bus tersingkap, udara hangat kawasan Teluk Jakarta sontak menerpa kulit. Pagi baru menjelang dan matahari belum menebar terik. Silau datang dari polesan cat oranye nyala pada dinding halte. Sungguh kontras dengan hitam pekat kanal ciliwung. Perjalanan berlanjut dengan shutle bus Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) menyusuri talet warna Ancol, gambaran sejati evolusi kawasan ini.

Bila di runut, kawasan yang secara administrative masuk dalam wilayah kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Kota Jakarta Utara itu sudah ada sejak abad ke -16. Pada masa itu, kawasan yang terletak di sebelah timur Kota Tua Jakarta, berbatasan dengan pelabuhan Sunda Kelapa di sebelah barat dan Pelabuhan Tanjung Periok di sebelah timur ini merupakan kawasan favorit rumah peristirahatan orang-orang kaya Belanda. Salah satunya, rumah peristirahatan halaman besar milik Gubernur Jenderal Hindia, Adrian Valckenier.

Hingga kini, masih samar diketahui asal usul nama kawasan Ancol. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ancol berarti tanah yang menjorok ke laut: Tanjung. Sumber lain menyebut, nama Ancol berarti tanah rendah berpaya-paya atau payau. Sementara buku “Nederlands Oost-Indie: of, Beschrijving der Nenderlansche bezittingen in Oost-Indie” yang di tulis oleh A. J. Vander Aa (1849), menuliskan bahwa Antjolschevaart atau Ansjol atau juga Anjol, yang dahulu di ucapkan oleh orang Inggris sebagai Angiol. Merupakan terusan atau kanal yang namanya di ambil dari nama pos pertahanan Ancol. Dahulu orang-orang Belanda, memecah-mecah aliran sungai Ciliwung menjadi kanal-kanal agar dapat merasakan aliran air yang melintasi rumah mereka seperti negeri asalnya.

Saat shuttle bus melewati Dermaga Marina Ancol, tempat bersandarnya kapal dan yatch dengan tujuan ke pulau-pulau kawasan wisata di kepulauan Seribu, ingatan saya segera mengembara, mengingat kisah tentang daerah tetangga di sisi barat kawasan Ancol, Sunda Kelapa yang dahulu merupakan pelabuhan utama milik Kerajaan Hindu Sunda Pakuan Pajajaran. Pada abad ke - 11 hingga 16, Sunda kelapa telah di labuhi kapal-kapal dari Palembang, Tanjung Pura, Malaka, Makassar, dan Madura bahkan juga kapal-kapal dari India, dan Cina (Heuken, 1982).

Sementara Ancol sendiri hanya di anggap kawasan rawa-rawa dan hutan bakau yang tidak potensial. Meski begitu, Ancol mampu menjadi kawasan penyangga yang berkembang mengikuti perkembangan kawasan Sunda Kelapa.

Menjelang pertengahan abad ke-16, terjadi peristiwa penting di sini. Nama Ancol tercatat dalam Koropak 406, cerita parahiyangan yang di tulis dengan aksara Sunda di atas lembar daun lontar, sebagai salah satu ajang peperangan Prabu Surawisesa, penguasa Kerajaan Hindu sunda pakuan pajajaran.

…Disilihan inya ku prebu Surawisesa, iny nu surup ka padaren, kasuran, kadiran, kuwamen. Prangrang lima welas kali hanteu eleh, ngalakukeun bala sariwu. Prangrang ka Kalapa deung Aaria burah. Prangrang ka Tanjung. Prangrang ka Ancol kiyi….

Pelabuhan Sunda Kelapa milik Kerajaan Hindu Sunda Pakuan Pajajaran merupakan pusat perdagangan dan pertahanan strategis. Tak heran jika kerajaan Islam Banten, Cirebon, dan Demak berulang kali coba merebut Pelabuhan Sunda Kelapa. Dan Ancol, merupakan salah satu daerah kunci yang memegang peranan penting dalam segi pertahanan dari pihak musuh yang ingin merebut pelabuhan ini dari arah timur, menyusup dari arah rawa-rawa dan hutan Ancol menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Oleh karena itu, Sang Prabu berperang di sini untuk menghalau musuh, demi mempertahankan wilayah pelabuhannya yang strategis.

Beberapa tahun kemudian, armada Portugis tiba di Sunda Kelapa. Kerajaan Hindu Sunda Pakuan Pajajaran menyambut baik Portugis, dan berharap Portugis dapat membantu menghadapi serangan kerajaan Islam Banten, Demak dan Cirebon, seiring menguatnya pengaruh Islam di pulau Jawa. Ternyata gabungan kekuatan Kerajaan Islam Banten, Demak, dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah berhasil mengalahkan Kerajaan Hindu Sunda Pakuan Pajajaran dan Portugis. Pada 22 Juni 1527, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, berarti, “Kemenangan yang nyata.” Usai Fatahillah menguasai Sunda Kelapa, kawasan rawa-rawa dan hutan Ancol pun ditinggalkan, dan menjadi sepi tanpa cerita.

Memasuki abad ke-17, Belanda datang, dan dalam waktu singkat berhasil menguasai Jayakarta. Dikisahkan sejarawan Adolf Heuken dalam Historical Sites of Jakarta (1982), Belanda di bawah komando Jan Pieterszoon Coen menggempur habis Jayakarta dan Pelabuhan Sunda Kelapa, lalu menamakannya Batavia. Wajahnya di buat mirip kota-kota di Belanda. Menurut A.W.P. Weitzel dalam buku Batavia in 1858: Schetsen en beelden uit de hoofdstad van neerlandsche Indie (1860), rumah-rumah bergaya Eropa mulai dibangun di sepanjang tepi kanal di Ancol. Selain berfungsi sebagai saluran Sungai Ciliwung, kanal berguna sebagai pertahanan yang mengelilingi kota.

Seiring perjalanan waktu, Batavia makin berkembang. Selain rumah, kastil, dan kanal, orang-oarang Belanda juga membangun benteng. Salah satunya, Fort Zoutelande yang di bangun di Ancol pada 1656. Zoutelande atau Zoute land, berarti tanah asin. Karena dulu bila laut pasang, air payau kali Ancol berbalik ke darat menggenangi tanah sekitarnya hingga terasa asin. Kini, kondisi benteng ini terabaikan. Rumput dan tanaman liar saling berjejalan. Tak hanya itu, barang-barang milik warga setempat juga menyesaki sela-sela bongkahan benteng yang tersisa. Terlihat makin muram.

Nyatanya, dalam berbagai literature sejarah Ancol berbahasa Belanda, kisah muram telah berkawan dengan kawasan ini sejak lama. Pada awal abad ke-19, saat pemerintahan William Deandels (1808-1811), Batavia ditinggalkan karena kondisi kesehatatan di kawasan ini buruk. Pada saat itu, wabah kolera dam malaria merebak di Batavia dan sekitarnya. Sementara kawasan Ancol yang sudah menjadi bagian dari Batavia juga turut di tinggalkan karena genangan air kanal-kanal dan muara di sekitarnya dianggap sarang malaria. Kawasan elit Ancol menjadi sepi.

Tak terasa, Shuttle bus yang saya tumpangi telah melintasi ujung kawasan pantai Ancol. Jauh dari keriuhan karena rekreasi wisata, di dataran yang agak menjorok ke laut, tampak diam jejeran tonggak-tonggak kayu-kayu putih tertata rapi. Itulah kompleks Taman makam kehormatan Belanda atau Ereveld Ancol. Di taman makam pahlawan ini dimakamkan sekitar 2.000 jasad tentara Belanda yang di eksekusi Jepang di Ancol dan beberapa daerah lainnya, Banjarmasin, Makassar, dan Mandor. Di sebelah kanan monument, terdapat pohon Mindi yang di sebut Pohon Surga atau Hemellboom (Ailanthus excelsia). Pohon yang menjadi saksi pelaksanaan eksekusi yang di lakukan tentara Jepang. Menurut saksi mata, kebanyakan eksekusi dilaksanakan di bawah pohon ini.

“ Ini tempat yang paling emosional di Ancol. Kisah sedih tak pernah lekang dari sini,“ tutur Steenmeijer, Direktur Oorlogsgravenstichting (OGS), instansi resmi pemerintah Belanda yang mengurusi makam Ereveld Ancol. Karena itu, Steenmeijer meminta agar siapapun yang datang ke makam, menunjukkan siap hormat dan santun, serta bersedia menaati segenap peraturan, salah satunya tidak memotret nama pada tonggak putih. ”Karena hal itu sangat sensitive, terutama bagi keluarga yang di tinggalkan,” lanjut Steenmeijer, sambil menambahkan bahwa makam ini merupakan situs tertua di Ancol, yang sudah ada jauh sebelum dibangun tempat rekreasi, kawasan industri dan perumahan.

Benar yang dikatakan Steenmeijer. Tempat itu paling emosional. Duka seketika membersit, saat saya mengamati tonggak-tonggak putih di sini. Tak terbayang, bagaimana keadaan tempat ini pada masa awal pendudukan Jepang. Ketika itu banyak orang asing (Belanda, Inggris, Australia) termasuk pribumi, baik sipil maupun militer, laki-laki dan perempuan, bahkan anak-anak yang melawan pemerintah pendudukan Jepang dieksekusi di sini. Kemudian mayatnya dikuburkan secara massal tanpa nama di kawasan rawa-rawa berlumpur sekitar Ancol. Hingga di kemudian hari, kuburan massal itu di gali dan jenazah dimakamkan kembali di peristirahatan terakhir Taman Makam Kehormatan Belanda atau Ereveld Ancol, dikawasan timur TIJA.

Taman Makam Kehormatan Belanda itu sering dilanda banjir, karena letaknya yang lebih menjorok ke laut di banding pantai sekitarnya. Pada awal 2009, makam ini kembali digenangi banjir air laut hingga sebatas lutut orang dewasa. Menurut Tjiptadi, kuncen makam, sungguh tak mudah membersihkan satu per satu tonggak-tonggak putih dan monument dari lumpur yang terbawa saat banjir.

Namun berkat kerja keras tim OGS, makam kembali asri dengan hamparan rumput hijau, dan bunga berwarna pink bermekaran. “Benteng” dam setinggi hampir 2 meter telah dibangun pemerintah Belanda untuk menahan luapan air laut. Makam tetap tegar, sekaligus menjadi saksi perubahan perkembangan pembangunan kawasan Ancol dari masa ke masa.

Pada masa orde lama, di awal 1960-an, muncul usulan agar kawasan Ancol difungsikan menjadi daerah industri. Namun, ditolak oleh presiden Soekarno. Presiden pertama RI yang kerap di sapa Bung Karno ingin membangun kawasan itu sebagai daerah wisata. Lewat Keputusan Presiden pada akhir Desember 1965, Bung Karno memerintahkan kepada Gubernur DKI Jaya waktu itu, dr. H. Soemarno Sosroatmojo, sebagai pelaksana pembangunan proyek TIJA. Proyek pembangunan ini baru terlaksana di bawah pimpinan Ali Sadikin yang ketika itu menjadi Gubernur Jakarta. Pembangunan TIJA dilaksanakan PD Pembangunan Jaya di bawah pimpinan Ir. Ciputra alias pak Ci. Pembangunan ini tentu saja membuat Ancol yang semula muram, menjadi kian berwarna. Wajah Ancol yang tak lagi “seram” juga menarik minat kawanan burung untuk singgah.

“Dulu ada sekitar 20 jenis burung di sini (Ancol). Kami sering memberi mereka makan,” kenang pak Ci, yang selama hampir 30 tahun menjabat sebagai Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk. Meski giat membangun Ancol dengan prinsip Green architecture, tapi pak Ci tetap mempertahankan eksotisme khas pesisir: burung-burung berkeliaran, pohon kelapa berjajar, serta perahu tradisional nelayan bersauh dan berlayar, sayangnya, pak Ci tak mampu mempertahankan keberadaan burung-burung itu, karena pemda setempat tak ingin wabah flu burung semakin meluas.

Decit burung-burung pun akhirnya berganti dengan deru mobil-mobil disirkuit dan teater mobil (drive-in) yang menjadi ciri khas kawasan wisata Ancol di masa awal berdirinya pada tahun 1970-an. “Tapi tak banyak orang yang tahu, bahwa di Ancol dulu juga pernah ada arena pacuan kuda,” papar Yj. Harwanto, Kepala Departemen Korporate Plan PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk. Tapi karena dianggap bising dan menebar polusi suara, akhirnya sirkuit dan teater mobil di tiadakan, begitu juga dengan arena pacuan kuda. Berikutnya berturut-turut dibangun Gelanggang Samudera dan penginapan Putri Duyung dan tempat hiburan Copacabana yang ditutup pada April 1981 serta dijadikan hotel.

“Kami ingin menjadikan Taman Impian Jaya Ancol sebagai sarana rekreasi bagi keluarga. Karena itu, segala tempat dan kegiatan yang berkonotasi negative, kami tiadakan,” jelas Ir. Budi Kaarya Sumadi, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk. Sarana rekreasi berikut yang dibangun semakin mempopulerkan keberadaan Taman Impian Jaya Ancol, tidak saja dikalangan masyarakat ibu kota, tetapi juga seluruh Indonesia dan bahkan Asia Tenggara. Pedagang kaki lima ditata, hotel dibangun, lapangan golf, beragam permainan dan wahana di hadirkan.

Pengunjung TIJA dapat bersantai menikmati terpaan angin laut di beberapa pantai yang tersedia di sini, seperti pantai Bina Ria yang dulu di kenal sebagai daerah Sanggerlang atau Singerland, juga yang terbaru, Pantai Karnaval. Pada tahun-tahun berikutnya pengadaan sarana rekreasi dan hiburan di arahkan pada sarana hiburan berteknologi tinggi. Hal ini telah dimulai dengan dibangunnya Dunia Fantasi tahap I pada 1985, termasuk Bianglala, Balada Kera, Istana Boneka, dan Rollercoaster Halilintar.

Dimasa sekarang TIJA yang berdiri pada lahan seluas 552 hektar, telah menjadi tempat wisata dan rekreasi terbesar dan terlengkap di Indonesia. Tidak mengherankan apabila pengelola kawasan wisata terpadu yang menggabungkan hiburan dan pendidikan ini mengubah namanya menjadi Ancol Jakarta Bay City, serta rutin menggelar berbagai kegiatan bersifat Edutainment, mulai konser hingga kemping. Selain mempertahankan bangunan bersejarah, pihak TIJA juga melestarikan budaya dan kuliner. Pada saat liburan terutama malam tahun baru, pengunjung membludak 300 ribu orang perhari.

Perjalanan dengan shutle bus akhirnya berhenti sampai di kawasan ke arah timur, dekat benteng Ancol, monument raksasa. Saya melangkahkan kaki keluar kawasan rekreasi, menuju kawasan perumahan Taman Impian Timur, di ujung jalan Pantai Sanur 5, Jakarta Utara. Di sini terdapat sebuah klenteng tertua di Jakarta, disamping klenteng besar di daerah pecinan Glodok Jakarta Barat. Klenteng Jin De Yuan. Karena terletak di daerah Ancol maka klenteng legendaries ini di kenal dengan nama klenteng Ancol atau Vihara Bahtera Bhakti.

Pada awalnya klenteng ini dibaktikan kepada Da Bo Gong (Dewa Tanah) dan Fu-de Zheng Shen (dewa bumi). Namun, lama-kelamaan hanya berfungsi sebagai tempat untuk pemujaan dewa tanah dan selanjutnya menjadi tempat untuk pemujaan juru masak Cheng Ho yang bernama Sam Po Soei Soe. Tokoh ini di duga memiliki nama asli Wu Bin, seorang pegawai Cheng Ho yang beragama Islam dan meninggal di tempat itu.

Tidak ada keterangan pasti kapan di bangunnya klenteng ini. Menurut Heuken dalam bukunya Historical Sites Of Jakarta. Mengutip Artikel Adries Teisseire, 1792 yang menuliskan,” Ini (klenteng Ancol) adalah klenteng Cina tertua yang didirikan pada pertengahan abad lalu.” Berarti sekitar 1650-an. Sumber lain menyebut klenteng Ancol berhubungan dengan kunjungan Admiral Sampo (Zheng He) dari dinasti Ming pada tahun 1371.

Kisah yang beredar di masyarakat setempat mengenai orang yang bernama Sam Po Soei ini menarik. Konon, sebuah kapal dari kekaisaran Cina, Sam Po Kong, yang rusak terpaksa berlabuh dikawasan rawa-rawa Ancol. Seorang awak kapal, juru masak kapal bernama Sam Po Soei Soe turun ke darat untuk melihat pertunjukkan ronggeng. Ia tertarik melihat pertunjukkan itu dan jatuh hati pada penari bernama Sitiwati.

Karena terpesona akan sang penari tanpa disadari kapal sudah selesai diperbaiki dan ia tertinggal di Ancol. Syahdan, karena ditinggalkan rombongan, ia mendatangi orang tua Sitiwati, seorang muslim alim yang bernama Embah Said Areli dan Ibu Enneng untuk melamar anaknya. Lamaran disetujui dan pernikahan pun di laksanakan. Namun, saat pernikahan, sebagai seorang muslimah, Sitiwati meminta suaminya untuk tidak memakan daging babi karena haram, sedang suaminya meminta Sitiwati untuk tidak memasak jengkol atau petai karena kebanyakan orang Cina tidak menyukai makanan beraroma khas ini. Dari peristiwa itu, daging babi, petai dan jengkol ditaburkan untuk sesaji di klenteng Da Bo Gong.

Dari balik teralis jendela klenteng, saya melihat awan putih pucat menggelayut. Pertanda tak lama lagi bulir-bulir hujan berjatuhan. Saya tinggalkan bangunan klasik yang di penuhi polesan warna merah itu, dan bergegas menuju di halte Trans Jakarta Busway. Menyudahi perjalanan di Ancol yang penuh warna.

Sumber :
National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

PERINGKAT LOKASI PENYELAMAN INDONESIA

Minggu, 25 Oktober 2009

PERINGKAT LOKASI PENYELAMAN INDONESIA
Indonesian Diving Site Best Ranking


PERINGKAT LOKASI PENYELAMAN BERDASARKAN PELAYANAN

Tulamben – 4.12
Selat Lembeh, bitung – 4.09
Kep. Bunaken, Manado – 4.06
Nusa Penida, Lembongan – 4.05
Menjangan, Bali Barat – 3.92
Gili Trawangan, Meno, Air, Nanggu, Lombok – 3.84
Komodo, Rinca – 3.70
Kep. Raja Ampat – 3.67
Kep. Seribu - 3.48

PERINGKAT LOKASI PENYELAMAN BERDASARKAN KELESTARIAN LOKASI

Kep. Raja Ampat - 4.35
Komodo, Rinca – 4.24
Wakatobi – 4.21
Tulamben – 3.98
Nusa Penida, Lembongan – 3.95
Menjangan, Bali Barat – 3.92
Kep. Bunaken, Manado – 3.90
Selat Lembeh, Bitung – 3.74
Derawan, Kalimantan – 3.63

PERINGKAT LOKASI PENYELAMAN BERDASARKAN KEPUASAN DIBANDING BIAYA

Selat Lembeh, Bitung – 4.52
Kep. Raja Ampat – 4.41
Komodo, Rinca – 4.35
Tulamben – 4.24
Kep. Bunaken, Manado – 4.19
Wakatobi – 4.06
Nusa Penida, Lembongan – 4.05
Menjangan, Bali Barat – 4.01
Derawan, Kalimantan – 3.85

PRIORITAS DALAM MEMILIH LOKASI PENYELAMAN (%)

Keindahan dan keragaman bawah laut – 97
Kelestarian Lokasi – 57
Kepuasan dibanding biaya – 35
Keamanan – 34
Kemudahan mancapai lokasi – 22
Pelayanan – 14
Tingkat kesulitan penyelaman - 13
Wisata tambahan – 10

OPERATOR PENYELAMAN FAVORITE

Planet Diving
Marine Diving Club (MDC)
Selfmanage / tanpa operator
Bali Scuba
Elang Ekowisata Dive Shop
Grand Komodo
Ody Dive
Riza
Bubbles Dive Center
NDC

LOKASI OPERATOR PENYELAMAN

Bali
Jakarta
Manado
Kep. Seribu
Kep. Karimunjawa
Bogor
Semarang
Kep. Raja Ampat
Kep. Bunaken, Manado
Tulamben
Komodo, Rinca
Pulau Pramuka
Gili Trawangan, Meno, Air
Nanggu, Lombok

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia








Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : DKI JAKARTA: Kepulauan Seribu

Sabtu, 24 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


16. DKI JAKARTA: Kepulauan Seribu (Nilai: 3,15) Layanan operator membuatnya masuk peringkat favorit (3,48), juga karena lokasinya begitu mudah didatangi (3,59).

”Mudah dicapai, biaya relatif terjangkau dan ada pilihan wisata lainnya,” ujar Stanley Sinjal, responden asal Jakarta.

Sangat mudah dicapai dari Jakarta. Periksa dulu jadwal keberangkatan ke pulau Pramuka, Sepa atau Kotok di Marina Ancol, atau pilih perahu penyeberangan warga Kepulauan Seribu di Muara Angke.

Program penumbuhan kembali di Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu di Pulau Pramuka jadi salah satu daya tarik utama. Terumbu karang sehat juga dapat ditemukan di Pulau Kotok bersama si bibir tebal, hiu dan penyu hijau (Chelonia mydas). Bahkan peri manta kecil sesekali menyelinap. Masih ada barakuda, batfish, moray eel, parrotfish dan bangkai kapal kargo.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : BANTEN: Pulau Sebuku, Sebesi dan Sangeang (Sanghyang)

Jumat, 23 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


15. BANTEN: Pulau Sebuku, Sebesi dan Sangeang (Nilai: 3,29) Peringkat kemudahan menuju lokasi dinilai tinggi (3,58), demikian pula dengan nilai kepuasan sebanding biaya yang dikeluarkan (3,59).

”Wreck diving ekonomis dan menumbuhkan semangat belajar sejarah serta oseanografi perairan sekitar Sumatera,” kata Annelies Budiatmadja, responden asal Indonesia yang bekerja di Singpura.

Bisa dicapai dengan cara liveboard, bertolak dari Labuhan Anyer, Carita menuju Krakatau. Lantas menyisir menuju pantai Selatan Sumatera.

Sebesi dan Sebuku merupakan pulau vulkanik di utara Krakatau. Sebuku-Sebesi-Sangeang (Sanghyang) membentuk segitiga di atas perairan Selat Sunda.

Suguhan utama bisa dijumpai dekat pantai timur Sebuku: bangkai kapal Belanda, Evertsen, yang tumbang tak lama berselang dari HMAS Perth dan USS Houston dalam pertempuran Selat Sunda.

Dasar laut dari batuan basalt lava Krakatau menjadi daya tarik utama, ditambah aneka biota perairan. Seperti Kima raksasa (Tridacna Aquamosa), Anemon Clark (Amphiprion Clarkii), flatworm, nudibranch dan karang bercabang Acropora, Montipora, Fungia Simplex.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : BANTEN: Ujung Kulon

Kamis, 22 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


14. BANTEN: Ujung Kulon (Nilai: 3,47) Menempati peringkat cukup untuk kelestarian (3,60) dan tantangan (3,33).

”Banyak biota unik, kondisi bawah lautnya menyenangkan,” tukas Yulia Chandra, Jakarta. Dapat didatangi lewat darat arah Anyer diteruskan ke Taman Jaya, lanjut berperahu ke Pulau Peucang, Handeleum, Panaitan sampai Tanjung Layar dan Karang Copong.

Terumbu karang subur serta terowongan bawah laut jadi daya tarik utama. Ditambah penyu, bumphead parrotfish, barakuda dan hiu ujung sirip putih.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : BANTEN: Krakatau

Rabu, 21 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


13. BANTEN: Krakatau (Nilai: 3,54) Tantangan mencapai lokasi membuatnya terpilih sebagai favorit (3,73), juga layanan operator yang mengurusi titik penyelaman ini (3,44).

”Sensasi setelah menyelam di perairan yang hangat - karena ada aktivitas vulkanik - lalu naik ke permukaan dan menatap puncak Krakatau,” ungkap Candika Yusuf, Jakarta.

Dapat ditempuh dengan cara liveboard. Berangkat dari Pantai Carita (Anyer) malam hari dan lego jangkar pagi hari dimuka gunung Krakatau yang meletus dahsyat 26 Agustus 1883. Erupsi ini menciptakan gelombang tsunami serta meruntuhkan kaldera gunung apinya sendiri.

Rekahan batuan vulkanik hingga jejak lelehan lava menjadi daya pikat primadona titik penyelaman ini. Ditambah karang meja (Acropora sp). Selain moorish idols, kadang dapat ditemukan white tip dan black tip sharks, emperor angelfish, penyu hijau dan moray eel. Krakatau termasuk dalam kawasan Cagar Alam Laut Pulau Anak Krakatau.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : JAWA TENGAH: Kepulauan Karimunjawa

Selasa, 20 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


12. JAWA TENGAH: Kepulauan Karimunjawa (Nilai: 3,60) Faktor kemudahan menuju lokasi salah satu nilai tertingginya (3,74), diteruskan kepuasan dibanding biaya (3,79).

”Selain menyelam, juga berkemah di salah satu pulau selama 7 hari. Pengalaman tak terlupakan,” kenang Turunggo Sulasno, responden yang bermukim di Tembalang, Jawa Tengah.

Dapat ditempuh dari dua kota: lewat pelabuhan Tanjung Emas, Semarang atau Pantai Kartini, Jepara. Dengan ferry KMP Muria juga jetfoil KMC Kartini.

Primadona disini antara lain Triton Terompet (Charonia tritonis) dan Nautilus berongga (Nautilus pompillius). Lainnya, terdapat anakan hiu, penyu hijau, clown fish dan anemon. Juga alga hijau, cokelat dan merah serta padang lamun. Terumbu karang di Taman Nasional ini terdiri dari jenis karang tepi, penghalang dan lunak. Perairan Karimunjawa masuk dalam Taman Nasional Karimunjawa.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : NUSA TENGGARA BARAT: Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Nanggu

Senin, 19 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


11. NUSA TENGGARA BARAT: Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Nanggu (Nilai: 3,61) Mudah dicapai dari ibukota membuatnya disukai (3,91). Dan nilai tertinggi berikutnya didapat dari bagusnya layanan operator terhadap konsumen (3,84).

”Gili Trawangan hanya satu-satunya yang memiliki blue coral di dunia,” tegas Hendry, responden asal Jati Mekar, Jawa Barat.

Walau, karang lunak biru hanya dijumpai pula di Kepulauan Bangka-Belitung. Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air bisa ditempuh lewat laut dari pantai Senggigi atau dari Bangsal, Pemenang - dari Senggigi jalan darat menuju utara, arah Tanjung.

Sementara Gili Nanggu berada di bagian bawah Pulau Lombok, dari Pantai Senggigi atau ibukota Ampenan dan Cakranegara mengarah ke Pelabuhan Lembar. Semuanya berpantai pasir putih.

Ada program cangkok karang di tiga gili pertama. Masih ada pari manta (musiman), penyu, hiu, ikan badut, anemon, kerang duri (thorny oyster), nudibranch sampai flatworm.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : NANGGROE ACEH DARUSSALAM: Sabang

Minggu, 18 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


10. NANGGROE ACEH DARUSSALAM: Sabang(Nilai: 3,74) Merupakan lokasi penyelaman menantang (4,10) serta menyediakan wisata tambahan (3,13).

”Keanekaragaman hayati masih tinggi dan ada tantangan karena arus dan diving spot unik,” cerita Melissa A. Situmorang. Jakarta.

Perjalanan bisa dimulai lewat udara menuju Banda Aceh. Disambung Ferry ke Pulau Weh, dengan pusat kota bernama Sabang, berjuluk ’Kilometer Nol’ karena posisinya paling utara di kepulauan Nusantara.

Dari pantai Iboih atau Gapang, silakan bertandang ke taman laut Pulau Rubiah. Terumbu karang berkondisi apik belum terjamah serta profil topografi bawah laut bervariasi. Mulai pasir, jurang batuan vulkanik sampai kawah bawah laut dan wreck di sekitar Pelabuhan Sabang.

Satwa perairan atas seperti whale shark, pari manta, orca dan Mola-mola juga bisa ditemukan bergantung musim. Masih ada aneka bulu babi, bintang laut dan frog fish.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : KALIMANTAN TIMUR: Kepulauan Derawan

Sabtu, 17 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


09. KALIMANTAN TIMUR: Kepulauan Derawan (Nilai: 3,77) Dipilih untuk keindahan dan keragaman biota yang terkandung di dalamnya (4,28) serta masuk daftar lokasi yang ingin dikunjungi (4%)

”Tiap pulau memiliki ciri khas. Biota laut pun masih terjaga baik,” ungkap Sumarjito, Sulawesi Selatan.

Perlu waktu panjang untuk tiba disini. Ke Balikpapan disambung pesawat kecil menuju Berau atau Tanjungredep. Ditambah lagi transportasi laut ke Pulau Derawan lalu ke Sangalaki, 1 jam dari Derawan.

Ulah primadona kawasan ini, pari manta berbentang sayap 3,5 m melahap plankton di batas permukaan laut bisa dinikmati hanya dengan cara snorkeling.

Ada dinding dan cerukan dengan aneka biota. Nudibranch, flatworm, Titan triggerfish, barracuuda, Chromileptes alvites, batfish, kakap, glassfish, cardinal, spotted rabbitfish, penyu hijau (Chelonia mydas), whiite-tip shark dan basslet. Suguhan yang hanya punya saingan di Kepulauan Palau: ubur-ubur tak berpenyengat di danau pulau karang Kakaban, tak jauh dari Pulau Sangalaki.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : BALI: Pulau Menjangan, Bali Barat

Jumat, 16 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


08. BALI: Pulau Menjangan, Bali Barat (Nilai: 3,95) Ada dua nilai setara yang diraup, yaitu kelestarian lokasi (3,92) dan layanan memuaskan dari operator (3,92).

”Banyak situs menarik dan sensasi yang berbeda setiap kali menyelam walau di situs yang sama,” puji Budi A. Darmawan, Yogyakarta.

Lebih cepat mencapai titik penyelaman ini dari Ketapang (Banyuwangi) dan Gilimanuk (Negara) dibanding bermobil dari Sanur atau Kuta yang terletak di selatan dan timur.

Terumbu karang warna-warni, termasuk karang lunak dan bangkai kapal dimensi kecil merupakan andalan wisata bawah lautnya.

Biota lainnya: Sweetlips, goatfishes, mooorish idols dan kakap termasuk kerap dijumpai unicorn fish, longfin bannerfish, butterflyfish, masked bannerfish (Heniochus monoceros), lionfish (Pterois volitans) serta clownish polkadot groupers (Cromileptes altivelis) dan anemon bertentakel (Entactmaea quadricolor). Kawasan ini merupakan bagian dari Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : SULAWESI TENGGARA : Wakatobi

Kamis, 15 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


07. SULAWESI TENGGARA : Wakatobi (Nilai: 4,00) Merupakan salah satu lokasi yang ingin di kunjungi penyelam (11%) serta unggul dalam soal keindahan dan keragaman bawah lautnya (4,55).

”Keanekaragaman biota laut dan karang umumnya masih terpelihara,” papar Boy Adhitya, Sorowako, Sulawesi Selatan.

Dari Kendari disambung perjalanan laut menuju Kepulauan Wakatobi yang merupakan akronim empat pulau – Wangi wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko. Dulu dikenal sebagai Kepulauan Tukang Besi.

Suguhannya: atol tengah laut, terumbu karang keras dan lunak serta dinding (wall) dengan keragaman biota penyusun.

Dapat dijumpai Tubastrea, udang-udangan nudibranch dan pencil urchin. Terkadang, juga muncul dugong (Dugong dugon), sperm dan pilot whale, lumba-lumba hidung botol (bottlenose dolphin), sementara di daratan ada kepiting kelapa serta burung maleo.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : BALI: Nusa Penida, Lembongan

Rabu, 14 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


06. BALI: Nusa Penida, Lembongan (Nilai: 4,02) Menempati peringkat tinggi bagi ketersediaan wisata tambahan (3,18) dan tantangan saat menyelam (3,95).

“Banyak pilihan drift diving (selam di arus deras),” alasan Margareta W. Artanti, Jakarta.

Terbang ke Denpasar lantas menyeberang dengan kapal untuk tinggal di Nusa Penida. Bisa juga menginap di Sanur atau Nusa Dua dan bertolak ke titik penyelaman setiap hari.

Yang diunggulkan; salah satu tempat untuk menyaksikan mola-mola, pari manta dan hiu. Dengan terumbu karang di area drop-off serta cerukan. Giant Moray, penyu hijau (Chelonia mydas), si bibir tebal, kuwek, mackerel dan tuna, Nemo si clown fish, aneka ikan kecil dan karang warna warni membuat roller coaster bawah laut disini begitu memukau.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : BALI: Tulamben

Selasa, 13 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


05. BALI: Tulamben (Nilai: 4,05) Menempati peringkat teratas untuk layanan operator (4,12) dan kemudahan menuju lokasi (4,17)

“Titik penyelaman sangat dekat pantai. Wreck diving bagus, meski kadang crowded di bawah,” kata Johannes Suryo, Surabaya.

Inilah kesempatan memasuki kedalaman laut dengan berjalan dari pantai, tak perlu terjun dari dermaga atau kapal. Lewat Pantai Tulamben berbatu dan pasir hitam hasil muntahan Gunung Agung, yang terakhir kali erupsi pada 1963.

Tujuan utama berada 30 m dari pantai, di kedalaman mulai 3 m: bangkai kapal Liberty dari PD II. Merupakan Wreck diving termudah dan teraman didunia. Cobalah menyelam malam saat purnama dilanjutkan menikamati Tulamben Wall ditemani moray (Gymnothorax melanospilos), belut (Heteroconger hassi), Napoleon wrasse, barakuda, sunfish (Mola mola), udang karang (Enoplometopus debelius), karang hitam (Antiphens sp) dan gerombolan ikan kuwek. Saat musim mola-mola dan angin timur, lokasi ini sangat ramai.

Untuk wisata tambahan, tersedia begitu banyak pilihan. Mulai Tulamben hingga ke arah Denpasar, dapat ditemui pula, gua, lanskap dan pedusunan cantik alami.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : SULAWESI UTARA: Kepulauan Bunaken, Manado

Senin, 12 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


04. SULAWESI UTARA: Kepulauan Bunaken, Manado (Nilai: 4,14) Kemudahan untuk menuju lokasi membuatnya terpilih sebagai salah satu situs selam terbaik (4,09). Termasuk peringkat atas untuk daftar lokasi yang ingin dikunjungi penyelam (13%).

“Keanekaragaman penghuni lautnya begitu kaya. Keindahannya pun tak diragukan lagi,” papar Syamsir M. Saputra, Kalimantan Selatan.

Perjalanan diawali dari Manado, dilanjutkan berperahu ke Pulau Bunaken, bersauh di Pantai Liang atau Pangalisang.

Bila tak ingin menjadikan pulau-pulau itu sebagai markas selama penyelaman, bisa memilih tinggal di beberapa desa pesisir dekat Manado, seperti Tongkaina dan Molas. Lalu berperahu tiap hari ke titik penyelaman.

Suguhan utama adalah di dinding curang (drop-off) hanya beberapa meter lepas pantai Liang. Terumbu karang tergolong sehat. Napoleon wrasse, bumphead parrotfish, lepu ayam, lepu batu, tuna, kerang raksasa Tridacna, kuda laut kerdil (Hippocampus bargibanti), karang (Cirrhipathes spiralis) dan ikan purba Ceolacanth (Latimeria menadoensis) bisa ditemui dibagian dari kawasan Taman Nasional Laut Bunaken – Manado Tua (TNLB) ini.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : SULAWESI UTARA: Selat Lembeh, Bitung

Minggu, 11 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


03.SULAWESI UTARA: Selat Lembeh, Bitung (Nilai: 4,19) Nilai tertinggi didapat dari sektor kepuasan dibanding biaya (4,52). Nilai tinggi kedua diberikan untuk layanan operator yang memuaskan pengguna jasa wisata penyelaman (4,09).

“Banyak biota aneh yang jarang ada di tempat lain,” kata Ria Qorina Lubis, Jakarta.

Bisa ditempuh dari Manado ke pelabuhan Bitung, dengan tambahan ekowisata Tangkoko-Batuangus-Dua Saudara. Kediaman satwa langka Tarsius, burung Maleo dan monyet hitam – yang kerap disebut sebagai ‘yaki’ oleh penduduk lokal.

Pantainya berpasir hitam, karena berasal dari batu vulkanik. Selat lembeh terkenal untuk “muck diving”, menyelam sambil jeli mengamati dan mencari-cari para biota penyamar di dasar pasir. Seperti aneka kuda laut, frog fish, mandarinfish (Synchiropus splendens), bobtail squid (Euprymna), gurita, belut ular, nudibranch – siput laut tak bercangkang, udang-udangan, hermit crab (Trizopagurus) sampai ikan capungan banggai (Pterapogon kauderni), ikan sebelah dan anemon (Actinodendron). Surga bagi Fotografi bawah laut jenis makro.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : NUSA TENGGARA TIMUR : Komodo Rinca

Sabtu, 10 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


02. NUSA TENGGARA TIMUR: Komodo Rinca (Nilai: 4,23) Dipilih karena nilai tantangan dan kesulitan tinggi untuk tiba dilokasi bawah air (4,42) dan menempati peringkat kedua setelah Raja Ampat untuk soal kelestarian lokasi (4,24).

“Lokasi yang komplit, dengan keanekaragaman terumbu karang dan biota laut berpadu arus kuat menjadi tantangan tersendiri,” ujar Fajar Anshori, Jakarta, salah satu responden dari survey yang digelar Litbang NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER INDONESIA.

Untuk mencapai lokasi, silahkan ambil penerbangan Denpasar, lanjut pesawat kecil ke Labuan Bajo. Dari sana, pilih liveaboard atau perahu motor ke titik penyelaman.

Atraksi Utamanya hiu paus, pari manta, aneka bentukan atau formasi dasar laut sampai dinding dan cerukan terumbu karang. Warna-warna indah menjadikan suasana bawah laut makin cantik. Pari manta bintik putih mirip elang (Aetobatis narinari) berbentang sirip 2,3 m bisa ditemukan di perairan ini. Apel laut atau tripang merah (Pseudocolchirus violaceus), spotfin lionfish (pteoris antennata), firefish (Nemateleoris magnifica), Napoleon wrasse dan moray eels (Gymnothorax fimbriatus) juga ada. Kawasan ini merupakan bagian dari Taman Nasional Komodo dan rumah bagi satwa purba komodo (Varanus komodoensis) yang tengah di calonkan untuk menjadi satu dari New 7 Wonders of Nature.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : PAPUA

Jumat, 09 Oktober 2009

16 LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA
Indonesia Best Diving Site/Location

Panorama surga bawah laut yang memukau, mendorong penyelam lokal dan asing untuk datang lagi.
Responden NG TRAVELER Indonesia memilih dan menilai peringkatnya.
Oleh CHRISTIANTIOWATI dan MANGGALANI R UKIRSARI,
Sumber data: LITBANG NG TRAVELER INDONESIA

01. PAPUA: Kepulauan Raja Ampat (Nilai: 4,23) Responden memberikan nilai tertinggi untuk keragaman dan keindahannya (4,81) serta kelestarian lokasi. Sekaligus menjadi impian para penyelam yang belum pernah berkunjung kesana (36%).

“Kehidupan bawah laut belum terganggu dan saya berharap akan demikian seterusnya. Lokasi tepat untuk menikmati ikan, terumbu karang dan relik dari Perang Dunia II,” kata responden Daniel Abimanju Carnadie, jakarta.

Dari Jakarta, peminat mesti melintasi dua zona waktu dangan penerbangan lebih dari 7 jam untuk tiba di Sorong, gerbang taman laut gugus 610 pulau yang berlokasi di depan kepala burung Papua. Lebih dari 540 jenis karang keras (75% jenis karang keras dunia), 1.000 jenis ikan karang dan 700 jenis moluska siap dieksplorasi dan dinikmati keindahannya.

Liputan menyeluruh soal Raja Ampat pernah dibuat oleh NATIONAL GEOGRAPHIC yang dilakukan oleh David Doubillet. Mengambil materi dunia bawah laut, berdasar fakta kelengkapan biota laut di Raja Ampat.

Beberapa daya tarik utamanya : karang dinding berposisi hampir vertikal, laguna dengan kanal-kanal, gua sampai aneka hiu jinak. Dari si mini “Papuan Epaulette” sampai hiu karpet “Wobbegong Shark”, “pigmy seahorse” seruas kelingking hingga pari hantu dengan bentang sayap mencapai 5m, “Napoleon Wrasse” dan barakuda masih mudah ditemui.

Sekitar 65 bangkai kapal dan 35 bangkai pesawat peningglan PD II makin memperkaya dunia bawah laut Raja Ampat. Pesona bawah laut Kepulauan Raja Ampat mampu ‘membius’ para penyelam, hingga tak sempat melakukan kunjungan darat lebih jauh lagi. Padahal, kondisi alam papua yang cantik sayang bila dilewatkan. Contohnya bertandang ke Pulau seperti Misool, Batanta dan Salawati.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

WISATA BAWAH AIR

Rabu, 07 Oktober 2009

Kepulauan Indonesia sungguh beruntung berada di jantung Segitiga Terumbu Karang (The Coral Triangle) antara Filipina, Papua Nugini, Solomon, Fiji, Australia utara. Keistimewaan keanekaragaman hayati laut seluas 5,7 juta km2 ini setara kekayaan hutan Amazone.
Keindahan alam bawah laut tanah Air itu telah mengundang pejalan lokal dan asing untuk menikmati dengan menyelam bahkan snorkling. Selam, cabang olahraga yang awalnya dinilai eksklusif oleh sebagian masyarakat Indonesia, telah berkembang pesat. Penyediaan peralatan dan layanan wisata selam oleh dive operator sampai tenaga lepas pemandu selam turut meramaikan industri pariwisata selam negeri kita.

Dalam seminar nasional tentang pengembangan wisata bahari di Bali pada 2002, Cipto Aji Gunawan, seorang PADI Course Director mengungkapkan, bahwa potensi industri wisata selam Indonesia minimal tiga kali lebih besar dari pada Thailand. Untuk lokasi penyelaman, Indonesia memiliki 34 dan Thailand 13 saja. Ini tanpa memperhitungkan calon lokasi-lokasi selam di Indonesia yang belum dijelajahi atau diusahakan, serta pembelian peralatan, pengeluaran biaya kursus dan efek bola salju terhadap pelesatarian lingkungan.

Tapi data membanggakan itu tidak berdiri sendiri. Pelaku individu sampai tingkat individu sampai tingkat pemerintahan mesti berbenah. Dengan lokasi penyelaman kurang dari setengah jumlah di Indonesia, Thailand mampu meraup 128-240 juta dolar AS, bandingkan dengan indonesia yang berkisar 13,28-24 juta dolar AS. Cipto menaksir berdasarkan sifat Thailand dan Indonesia yang lebih sebagai daerah tujuan penyelaman, dibanding sebagai daerah asal penyelam. Lewat asumsi itu Indonesia ditaksir bisa meraup 507-960 juta dolar AS lewat penginapan, selam dan kegiatan lain yang berhubungan langsung dengan penyelaman, bahkan kegiatan tambahan pengisi jeda sebelum laik terbang setelah penyelaman berakhir.

NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER INDONESIA baru saja menggelar angket yang bertujuan memeringkatkan lokasi penyelaman terbaik di Indonesia. Meliputi faktor keindahan dan keragaman, tantangan penyelaman, ketersediaan wisata tambahan, pelayanan, nilai kepuasan dibanding biaya, kelestarian lokasi dan kemudahan menuju lokasi. Rata-rata nilai (skor) dari skala 1 (sangat tidak bagus) hingga 5 (sangat bagus).

Kami melibatkan pelaku penyelaman melalui survei online di http://www.nationalgeographic.co.id/sub/survey/ (16 Maret hingga 1 April 2009) serta angket dalam Deep Indonesia (27-29 Maret 2009) di Balai Sidang Jakarta. Lewat metodologi purposive sampling (wakil tepat sasaran), sampai batas akhir penelitian menjaring 421 responden. Dengan profil demografis, usia rata-rata 30 tahun, pria 71% dan wanita 29%, sebesar 64% merupakan penyelam bersertifikat dari lembaga PADI (43%).

Berikut ini peringkat lokasi penyelaman terbaik Indonesia 2009 hasil survei Litbang NG TRAVELER INDONESIA. Selengkapnya, kunjungi http://www.nationalgeographic.co.id/sub/hasil survey.




LAYANAN WISATA BAHARI

Layanan operator dan pemerintah terkait sangat menyokong keberlangsungan tujuan wisata bahari. Simak angka pemeringkatan survey penyelaman kami di bawah ini:

Keindahan dan keragaman: (4,81)
Kepuasan dibanding biaya: (4,52)
Tantangan Penyelaman: (4,42)
Kelestarian lokal: (4,35)
Kemudahan menuju lokasi: (4,17)
Pelayanan: (4,12)
Tersedia wisata tambahan: (3,85)

Hal yang melibatkan sumber daya manusia secara langsung ada diperingkat rendah, yaitu berdasar pelayanan (4,12). Bila nilai ini dapat didorong ke peringkat atas, tentu akan memberikan nilai positif terhadap kelanjutan wisata bahari.


Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER INDONESIA

Read More / Baca Selengkapnya....

BELITUNG | SENTRA HOTEL

Jumat, 28 Agustus 2009

BELITUNG | SENTRA HOTEL

Lorin Hotel & Resort
Oleh MANGGALANI R UKIRSARI (National Geographic Traveller)

Cukup jalan kaki 1 menit dan menyeberang jalan raya lengang menuju Pantai Tanjung Tinggi. Begitulah tawaran dari Lorin Hotel & Resort Belitung. Lanskap langit biru serta jajaran granit raksasa seperti menjadi penawar lelah, setelah menempuh perjalanan darat 1 jam dari Bandara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan.

Resort ini terpencil. Tapi justru di sinilah tetamu bisa memanja diri menikmati pemandangan alam pantai nan cantik. Setelah Tanjung Tinggi, bertandanglah ke Tanjung Kelayang menikmati kelapa muda. Atau menyewa perahu ke Pulau Lengkuas. Menapaki mercusuar warisan kolonial Belanda yang masih berfungsi.

Konsep bangunan Lorin Hotel & Resort Belitung berupa cottage, terdiri dari Deluxe Cottage dan Junior Suite. Total kamar 20 unit, terdiri 14 Deluxe da 6 Junior Suite.

Tiap Cottage didesain rumah khas Belitung, berteras lantai kayu. Kamar mandi semi buka, dilengkapi shower air panas dan dingin. Khusus Junior Suite tersedia bathtub.

Soal lokasi resort di Kecamatan Sijuk yang cukup jauh dari bandara tak perlu dirisaukan. “Kami siap menjemput tamu dari bandara sekaligus menawarkan paket Lorin di hall kedatangan,” tukas Rachmad Syarif, Sales Executiv Lorin Hotel & Resort Belitung.

Harga kamar mulai Rp. 450.000 kelas Deluxe Room termasuk sarapan, belum termasuk biaya antar-jemput bandara; 0719 24100, 0852 67849429, 0878 9644 8877; http://lor-in.com/belitung



Read More / Baca Selengkapnya....

KOTA KINABALU | SENTRA HOTEL

Kamis, 27 Agustus 2009

KOTA KINABALU | SENTRA HOTEL

The Pacific Sutera Harbour Resort
Oleh MANGGALANI R UKIRSARI (National Geographic Traveller)

Bisa ditempuh lewat penerbangan Jakarta – Kuala Lumpur, diteruskan ke Kota Kinabalu (KK) di Provinsi Sabah, Borneo.

The Pacifik Sutera dari Sutera Harbour Resort menyediakan 500 kamar pada 12 lantai, dengan dua pemandangan pilihan: Laut China Selatan atau lapangan golf.

“Kami adalah pelopor resort di Asia Tenggara yang menyediakan akomodasi untuk dua tujuan wisata: darat (gunung Kinabalu) dan lautan (taman bahari Tunku Abdul Rahman),” tutur Samantha Siow, Communications Manager Sutera Harbour Resort di KK.

Lokasi The Pacifik Sutera berdekatan The Magellan Sutera, dikelilingi padang golf 27-hole dan dikelola 1 manajemen.

Pemandangan romantis saat matahari tenggelam. Tetamu bisa menikmati dari balkon kamar, pantai milik resort atau jetty, di mana yacht lego jangkar.

Bila menginginkan santap malam seafood di Pulau Gaya, pihak resort bisa menyediakan fasilitas perahu. Juga kalau menginginkan snorkeling atau menyelam ditaman nasional laut Tunku Abdul Rahman yang terdiri dari Pulau Gaya, Mamutik, Sapi, Sulug dan Manukan. Lama perjalanan sekitar 15 menit.

Ada tiga kategori kamar di The Pacifik Sutera yang bisa dipilih: Deluxe Golf Garden atau Sea View, Club Rooms, Suite Rooms dan Presidential Suite.

“Tingkat hunian meningkat saat libur sekolah, Natal, tahun baru dan musim panas,” tambah Samantha. Kategori tamu beraneka. Penyelam, pasangan, pengantin berbulan madu dan keluarga.

Harga kamar mulai USD269 (Rp. 3,5 juta) kelas Deluxe Golf View termasuk sarapan: +60 88303900; http://www.suteraharbour.com/v2/pacific/



Read More / Baca Selengkapnya....

PULAU MOYO | Amanwana | SENTRA HOTEL

Rabu, 26 Agustus 2009

PULAU MOYO | Amanwana | SENTRA HOTEL

Kilauan Tepi Pantai
Pilihan eksotis di lokasi terpencil. Menjamin aktivitas di kebiruan laut bebas hiruk-pikuk dan menjadikan tetirah terasa begitu pribadi. Oleh MANGGALANI R UKIRSARI (National Geographic Traveller)

Ada tiga lokasi akomodasi eksklusif tepi pantai yang kami bidik. Bahkan sebuah pantai pribadi, bila kenyamanan sekaliber itu yang diinginkan. Untuk tenda cantik premium, silahkan bertolak ke pulau Moyo di Laut Flores. Sedangkan bungalow idaman menghadap pantai berpasir putih selembut tepung, cukup siapkan penerbangan ke Belitung. Memadukan snorkeling dan menyelam dengan bermain golf, pilihannya bisa ke kota Kinabalu.

PULAU MOYO
Amanwana

Konsep menyatu dengan alam merupakan menu utama Amanwana, sesuai makna namannya: hutan penuh kedamaian. Pejalan yang menginginkan tetirah sekitar Laut Flores bisa berlabuh kesini. Menikmati hutan hujan tropis serta lautan kaya terumbu karang. “Kami menawarkan keunikan yang tidak bisa Anda dapatkan diberbagai resort di Bali dan sekitarnya,” papar Anjali Nihalchand, Media Communications Manager Amanresorts Press Office di Hong Kong.

Terdapat 20 hunian mewah di Amanwana, yang dibagi dua kategori: Jungle Tents dan Ocean Tents, berdekatan dengan hutan pantai Teluk Amanwana. Setiap tenda dilengkapi kanopi, dipadu lantai kayu dan dinding solid. Tempat tidur berdimensi super, dilengkapi kasa nyamuk. Fasilitas pendukung berupa sofa, kursi malas, pendingin udara, kamar mandi dan teras untuk bersantai.

“Sasaran konsumen kami beragam. Mulai penyelam, pasangan berbulan madu, pesta pernikahan, keluarga sampai grup kecil,”tambah Anjali.

Untuk memanjakan tamu, tersedia ruang santai dan ruang makan terbuka, perpustakaan sampai spa.

Dengan luas pulau hanya 350 m2, hutan kawasan ini dihuni aneka satwa. Seperti rusa, babi hutan, monyet sampai elang. Pendeknya, keasyikan mengapresiasi alam bebas dalam bingkai kemewahan sudah dimulai ketika melangkah ke luar tenda.

Atau menginginkan suasana yang lebih adventurous? Amanwana menyediakan wisata ke Pulau Komodo – kini masuk kandidat New 7 Wonders of Nature - berbasis kapal phinisi Amanika.

Kunjungan tamu ke Amanwana biasanya berlangsung Mei – November, puncaknya pada Juli, Agustus dan Maret. “Dimusim penghujan Januari – Maret, kondisi laut kurang bisa diprakirakan,” kata Anjali.

Pejalan dapat memilih penerbangan Bali – Moyo dengan pesawat apung Cessna Caravan (8 penumpang) atau helikopter Bell 206B Jetranger (2 orang), mendarat langsung di lingkungan resort. Sedang transportasi umum dilayani pesawat Trans Nusa tujuan Bali – Sumbawa diteruskan jemputan kapal dari resort.

Paket menginap mulai USD700++ (Rp 8,4 juta) di kelas Jungle Tent untuk 2 orang; 0371 22233; http://www.amanresorts.com/amanwana/resort.aspx.




Read More / Baca Selengkapnya....

PATUT DIINGAT KETIKA AKAN MENGINAP | Berpaling dari Kemewahan

Selasa, 25 Agustus 2009

Bicara soal menginap di hotel, tinggal dengan cara berhemat merupakan tren terbaru yang terjadi dalam induistri perhotelan. Para pejalan di masa resesi saat ini khususnya para pejalan bisnis telah meninggalkan jaringan-jaringan ultra mewah separti Four Seasons dan Ritz Carlton dan sebagai gantinya mereka menginap di kamar-kamar bertarif lebih rendah yang termasuk jaringan hotel seperti Kimpton dan JW Marriott.

``Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menikmati kemewahan berlebihan,’’ papar konsultan industri pelayanan (hospitality) dari San Francisco, Andrew Freeman. Tapi apakah pendapat ini mewakili kondisi yang sesungguhnya ? kini banyak jaringan hotel tingkat menengah yang menyediakan selimut bulu angsa, sarana kebugaran dan perawatan tubuh, serta perlengkapan tempat tidur dari bahan-bahan yang berkualitas tinggi.

Sementara di saat yang sama, hotel-hotel bintang lima tengah dibelenggu tiga permasalahan : tamu-tamu yang mendadak miskin hingga tidak mampu lagi membayar segala macam tagihan. Termasuk dalam golongan itu adalah para pejalan bisnis, yang tidak ingin terlihat seakan mereka masih bergelimang kekayaan dan menghindari hotel-hotel ultra mewah dan berpaling ke hotel jaringan menengah.

Bagaimana sebaiknya menyikapi kondisi itu? Hotel-hotel eksklusif bisa saja menurunkan tarif, tapi tidak akan merusak citra dan keberadaanya. Jadi, kita perlu rajin mencari jaringan hotel yang mencoba manawarkan kemewahan tanpa perlu membayar mahal. ANDREW NELSON.


From :
National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

TIPS Menjadi Hotel yang Diidamkan

Senin, 24 Agustus 2009

Selain melakukan investasi terhadap seluruh bangunan, perabot hotel dan semua perangkat rumah tangga, pihak hotal juga melakukan investasi tenaga kerja terlatih dan pilihan. Pihak manajemen melaksanakan pelatihan kepada seluruh karyawan terutama dalam hal safety, security dan service.

Karyawan baru akan mendapat pelatihan pengenalan produk serta berbagai hal berkait etika. Di antaranya yang disebut berikut ini:

• Tata cara berhadapan dengan tamu di meja resepsionis.
• Cara menerima telepon.
• Memberi salam kepada tamu yang datang.
• Menyapa tamu dengan memanggil nama.
• Cara meminimalisasi kesalahan saat memberikan layanan kepada tamu.
• Cara mengatasi komplain.

Anda dapat turut membantu pihak manajemen menjadikan hotelnya sebagai tempat idaman, dengan memberikan komentar pada lembar `kritik, pujian dan saran’ yang terdapat di kamar atau meja resepsionis. Tulislah nama petugas yang sangat membantu Anda, tulis pula bagian paling menyenangkan di hotel agar dapat terus dipertahankan kondisinya.


From :
National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

ETIKA Tamu yang Disegani

Minggu, 23 Agustus 2009

Hotel merupakan tempat umum yang terdiri atas berbagai macam tipikal orang. Untuk tinggal di sana, kita harus memiliki kontrol diri dan berpijak pada etika. Ikut menjaga agar keselarasan hunian senantiasa tercipta. Beberapa contoh:

• Sejak masuk lobby, biasakan berbicara dengan pelan dan budayakan antri.
• Taati semua peraturan yang berlaku, seperti peraturan check in dan batas waktu check out. Apabila ingin mengulur waktu check out harus memberitahu petugas yang berwenang.
• Tidak membawa pulang barang-barang hotel yang tidak bertuliskan `compliment’.
• Bila memiliki kebiasaan merokok, pilih kamar smoking.
• Siapapun yang melayani mulai memasuki halaman hotel, sudah selayaknya disapa dengan bahasa tubuh serta tutur bahasa yang positif. Semua manusia pada strata apapun memiliki tujuan dan keinginan utama agar dihormati. Apabila ingin dihormati orang lain, kita juga harus bisa menghormati orang lain lebih dulu.


From :
National Geographic Traveller Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

Etika Hotel | Layanan hotel

Sabtu, 22 Agustus 2009

Etika Hotel
Layanan hotel tak henti diperbincangkan. Tapi sudahkah melongok diri sendiri selaku tamu atau pengguna jasa?
Oleh UKIRSARI R. MANGGALANI.


Peristiwa menjengkelkan ini terjadi sekitar lima bulan lalu. Di sebuah hotel berbintang kota Manado. Karena tidak merokok, kami pesan ‘non smoking room’. Fasilitas dari hotel sungguh mendukung pilihan itu; tamu yang memesan kamar jenis ini akan ditempatkan dilantai tersendiri. Artinya, tak hanya sebatas kamar. Sepanjang koridor sampai depan elevator ditulis larangan bebas asap rokok.

Tapi kegembiraan ini tak berlangsung lama. Ketika hendak turun ke lobby, seorang pria tampak mondar-mandir dengan sigaret menyala di tangan. Lebih ironis, ia lantas menyandar di dinding menghadap kamera CCTV, berdekatan elevator yang jelas-jelas bertuliskan ”Non smoking floor” (bukan sebatas ’room’ lagi).

Saya dan pasangan tersenyum kecut dan membaca pelan-pelan tulisan yang terpampang di samping sang pria. Tak dinyana, dia berbalik dan memaki-maki, bahkan –maaf-mengeluarkan kata-kata f**k you, f**k you, sembari menunjuk-nunjuk kami dengan jemari yang masih membawa rokok nyala, menjentikkan abu ke dailypack kami.

Kami ternganga, seiring dengan terbukanya elevator. Sepasang suami isteri dengan dua anak di atas balita menjengukkan kepala dari pintu yang terkuak. Kami masuk elevator. ”Astaga,” tutur si ibu didalam. ”Bagaimana mungkin pihak hotel mau menerima tamu seperti itu? Tidak punya etiket, ya.”

Sampai di lobby, kami melaporkan kejadian tak mengenakkan tadi. Tentu saja, dengan sopan saya kembali menegaskan arti ’lantai bebas rokok’; berlaku untuk lantai yang dimaksud atau sebatas dalam kamar. Tanpa mengurangi keramahannya, sang resepsionis menjelaskan bahwa pemahaman kami benar. Seluruh penjuru lantai tempat kami menginap tidak diperkenankan menyalakan sigaret.

Setelahnya, kami laporkan perbuatan tak mengenakkan dengan tamu tanpa etiket itu. Resepsionis memanggil kepala keamanan untuk turut mendengarkan laporan kami. ”Kami pastikan masalah ini ditangani serius,” imbuh kepala keamanan. ”Apa lagi ada saksi kamera CCTV.”

Menurut Indayati Oetomo, International Director John Robert Powers (JRP), tindakan itu merupakan bagian dari profesionalisme pihak hotel.

”Bila terjadi pelanggaran yang dilakukan tamu hotel - apalagi mengakibatkan ketidak nyamanan tamu lain - maka sah-sah saja pihak manajemen hotel memperingatkan tamu dimaksud secara sopan,” ungkap Indayati yang berkantor di JRP Jalan Kayun, Surabaya. ”Bila tidak ditanggapi dengan baik, pihak hotel boleh mengambil tindakan yang sudah dituangkan terlebih dahulu dalam tata tertib hotel. Alasan hotel melakukan sanksi dikarenakan pihak hotel lebih memikirkan kepentingan orang banyak, yang telah dirugikan akibat pelanggaran tamu dimaksud.”

Senada penuturan Rosana Rotani Tamin, Director of Sales Hotel Santika Premiere Jakarta. Merujuk pada tagline tampatnya bekerja, ’Hospitality from the Heart’, pihaknya selalu berusaha memberikan keramah-tamahan tulus, juga layanan terbaik bagi seluruh tamu. Bila terjadi permasalahan seorang tamu mengganggu kenyamanan tamu lain, akan diupayakan komunikasi yang baik dengan memohon pengertian serta dibantu solusi. ”Soal rokok, manjemen hotel sudah memasang signage larangan merokok di area tertentu,” tukasnya. ”Untuk mengatasi, disediakan area khusus dimana tamu boleh merokok dan smoking room disiapkan bagi tamu menginap yang perokok.”

Dengan kata lain, para tamu dengan kebiasaan merokok tetap bisa menikmati layanan tinggal di hotel, tanpa mengurangi kenyamanan tamu lain yang memiliki kebiasaan berbeda.

Masih menyoal sigaret, Roy James Dohne, seorang make-up artist dan pelukis asal Belanda menyatakan keluhan. ”Saya banyak jumpai furnitur hotel-hotel di Indonesia disundut rokok. Bisa dimaafkan bila kelasnya penginapan sederhana, dengan kondisi ala kadarnya. Tapi bila menyangkut hotel berbintang, saya tidak suka,” tukas pria yang pernah mendandani Priscilla Presley untuk majalah Vogue, juga berkarya di berbagai majalah Fashion Eropa, seperti Harper;s Bazar, Marie Claire dan Elle. ”With money, some people think they can do anything. That’s wrong.”

Pandangan Roy James bisa dimengerti. Masuk kamar menjumpai perabot belang disana-sini akibat tersundut sigaret-juga karpet berlubang karena hal sama tidaklah menyenangkan. Bukan soal estetika semata, tapi menyangkut ’warisan’ dari tamu sebelumnya. Meninggalkan kamar seenak hati, karena merasa sudah membayar dan membiarkan tamu sesudah dia menikmati bekasnya.

Di sisi lain, segala perabot kamar termasuk dalam nilai investasi pihak hotel. Mereka merancang, mengagendakan pengadaan barang serta melakukan perawatan. Sayangnya, waktu pakai dan nilai estetika menyusut karena ulah tamu tanpa etika seperti dituturkan Joy James.

Indayati dari JRP mengungkap, ”Dalam melakukan etika sebenarnya kita sedang ’mengomunikasikan’ siapa diri kita. Jadi sudah seharusnya, sebagai pribadi yang memiliki citra diri yang positif, melakukan kebiasaan untuk selalu peduli dengan orang lain.” Dalam kaitan tinggal di hotel, menaruh perhatian soal perabot dengan cara tidak meletakkan sigaret nyala di atasnya, masuk kategori ini. Bersimpati terhadap kenyamanan tamu lain, meski tidak tinggal pada waktu bersamaan.

Begitu pula yang disampaikan Rosana Rotani Tamin dari Hotel Premiere Santika. ”Kami membutuhkan respon positif dari para tamu untuk membaca klausul hotel dengan benar dan mematuhi peraturan yang diterapkan hotel.”

Memang sudah pada tempatnya, ada keseimbangan tercipta antara pemberi jasa hotel dan penerima jasa hotel. Saling menerapkan etika agar bisa menjadi tamu dan tuan rumah terbaik.


From :
National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Sesuai, Lokasi Keliru

Jumat, 21 Agustus 2009

Hotel Sesuai, Lokasi Keliru
Kamar yang dipilih ternyata tidak seperti yang diharapkan.
Bisakah minta pengembalian uang?
Oleh CHRISTOPHER ELLIOT

Saya mengalami masalah pemesanan kamar hotel dimana kenyataan ternyata tidak sesuai dengan harapan. Saya dan pasangan memutuskan pergi ke San Francisco untuk merayakan lima tahun kebersamaan kami dan memesan kamar hotel melalui Priceline.com. Saya melakukan beberapa pilihan di area-area yang kami inginkan. (Pricelines membagi kota ke dalam area-area, dan Anda menentukan pilihan untuk lokasi di area yang diinginkan.)

Saat menjatuhkan pilihan terakhir, terjadi keanehan. Entah bagaimana, terjadi pilihan hotel di area yang keliru. Saya hubungi Priceline untuk kesalahan ini, tapi agen mereka bersikeras bahwa itu pilihan saya sendiri dan saya sedang sial. Jika Anda melihat catatan pilihan yang saya lakukan, Anda akan melihat saya tidak pernah memilih area hotel yang ditetapkan oleh Priceline dan terpaksa kami tinggali.- L. Vu, San Jose, California.

J: Seharusnya Priceline tidak memaksa Anda membayar kamar hotel di area yang tidak dipilih. Mengatakan Anda ”sedang sial” juga bukan layanan yang baik.

Saat Anda melakukan pemesanan kamar hotel melalui pilihan ”Name Your Own Price” (Tentukan Sendiri Tarifnya) di situs Priciline, nama hotel tidak akan muncul sampai penawaran Anda terima. Itulah sebabnya mengapa Priceline seringkali disebut sebagai situs perjalanan ”tidak transparan” karena pemesanan hotel yang Anda lakukan tidak terperinci dan dijelaskan secara lengkap.

Saya sering mendengar keluhan dari para pejalan yang telah menentukan satu pilihan tetapi pada kenyataannya berakhir dengan kamar berbeda dengan pilihan mereka.

Saya tanyakan kepada Priceline mengenai transaksi Anda, dan seorang agen mereka tidak menyangkal. Kabar beik untuk Anda, tetapi bagaimana dengan pelanggan berikutnya yang terjebak di area kelabu ketidaktransparanan milik Priceline? Respon yang lebih tepat, melakukan penelaahan menyeluruh terhadap situs mereka, termasuk cara mereka menampilkan area-area pilihan dan menentukannya sebagai pilihan terakhir pelanggan. Anda bukan orang pertama yang bingung dan terkecoh, dan pastinya bukan yang terakhir. Sebaiknya lebih berhati-hati dan cermat saat berurusan atau melakukan transaksi dengan sang negosiator. Pembacapun sebaiknya begitu.

From :
National Geographic Traveller Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Keluarga

Kamis, 20 Agustus 2009

Hotel Keluarga : ‘Spesies’ Langka?
Menjaga properti unik terus beroperasi bukanlah hal mudah dan sederhana.
Oleh MARGARET LOFTUS


Kelihaian mengelola bisnis hotel mengalir deras dalam darah keluarga Beach. Sudah berlangsung lebih dari seabad, dimulai tugas Ardelia Beach sebagai induk semang bagi para pelancong berwisata musim panas di peternakan keluarga, Lake Champlain, Vermont.

Kemenakan lelaki sekaligus pegawainya, A.P., kemudian membeli properti itu dan menambahkan padang golf 9-hole serta beberapa pondok wisata. Anak-anaknya meneruskan estafet bisnis yang ia lakukan dan kini, kakak-beradik generasi keempat Pennie dan Bob Beach memandori lebih dari 74 pondok dan lahan pedesaan seluas 325 hektar, bernama Basin Harbor Club. “Banyak keluarga secara turun –temurun menjadi langganan kami,” kata Bob.

Namun, tempat-tempat seperti Basin Harbor Club saat ini makin jarang ditemukan. Lebih dari sepertiga bisnis milik keluarga yang diwariskan oleh generasi kedua menuai kesuksesan dan hanya sekitar 16% berhasil diturunkan ke generasi ketiga. Sementara angka spesifik mengenai jumlah pengusaha hotel sejenis ini tidak tersedia.

Keluarga Beach dan pelaku bisnis perhotelan keluarga lainnya mengatakan, tantangan yang dihadapi untuk menjaga agar properti ini tetap menjadi milik keluarga sangat berat, dan ini disebabkan faktor seperti menggelembungnya pajak dan biaya perawatan, serta tekanan untuk menjual properti ke pengembang. Beberapa bahkan khawatir properti-properti penting dan bernilai ini akan lenyap seperti toko-toko kecil yang dikelola pasangan suami isteri, tergusur oleh toko-toko yang menempati bangunan beton besar dan menjulang. Pada akhirnya, sebuah warisan yang sangat bernilai dipertaruhkan, debat Thierry Roch, direktur eksekutif Historic Hotels of America, ”Ini bukan sebatas arsitekturnya, namun tentang hubungan dan momentum. Tentang rasa keterikatan pada sebuah tempat, kebersamaan, dan kenangan dalam hidup seseorang.”

Ironisnya, di sebuah era dimana keinginan para pejalan untuk mendapatkan hal-hal yang alami dan otentik semakin meningkat, kita justru berisiko kehilangan jenis penginapan yang paling otentik dan asli dari semua yang ada. ”Hotel-hotel keluarga ini telah menjadi bagian dari kehidupan para tamunya,” kata Marry Billingsley, direktur hubungan masyarakat Historic Hotels. ”Mereka selalu kembali, tahun demi tahun, berharap untuk bertemu pemiliknya. Ini tak terjadi pada hotel besar umum.”

Walaupun kini banyak jaringan hotel-hotel mewah memiliki hotel butik, sentuhan pribadi dan rasa berbeda makin sulit didapatkan. ”Ada nilai nyata jika pemiliknya hadir dan terjun langsung mengelola setiap hari,” kata Dan Musser, yang keluarganya memiliki Grand Hotel di Mackinac Island, Michigan, sejak 1932. ”Jika ada tamu melihat ayah saya memungut secarik kertas di ruang tamu, mereka memberikan apresiasi berbeda.”

Sebagian daya tarik hotel keluarga adalah kebiasaan-kebiasaan khusus dan unik. Contohnya, Basin Harbor masih mengharuskan para tamu pria mengenakan jas saat makan malam. Di Mohonk Mountain House yang terletak di Hudson Valley, New York, dan kini berada dibawah pengelolaan generasi keempat keluarga pemiliknya, paket khas Amerika, tarif kamar perhari termasuk tiga kali makan-masih berlaku. ”Di dunia yang berubah dengan sangat cepat, manusia mencari sesuatu yang tidak berubah,” kata direktur marketing Mohonk, Nina Smiley, yang menikah dengan Albert Smiley, keturunan yang memiliki nama keluarga sama dan merupakan buyut keponakan laki-laki pendirinya.

Namun, ada batasan jelas antara hotel keluarga bergaya kuno penuh pesona, dengan yang membosankan dan kusam. Salah satu perjuangan terberat para pemilik hotel keluarga adalah membuat tamu dari generasi baru tertarik datang yang kebanyakan berharap mendapat fasilitas modern seperti WiFi, Vodka Grey Goose di ruang duduk sekaligus tetap menyenangkan hati para pelanggan lama yang kemungkinan tersinggung jika ada perubahan, walau sedikit, pada rumah kedua tercinta mereka. Salah satunya, pelanggan lama kerap mempertanyakan menu legendaris.

Antisipasi agar tamu tetap mengalir, ”Kami melakukan penyeimbangan,” kata Smiley. Mohonk telah melakukan beberapa penambahan fasilitas, seperti ring seluncur es dan spa. Di Colony Hotel dan Cabana Club yang terletak di Del Ray, Florida, pemiliknya Jestena Boughton menambahkan TV layar datar.

Mengapa tidak banyak keluarga yang berhasil mempertahankan bisnis hotel mereka? Musuh nomor satu adalah kurangnya perencanaan suksesi/serah terima tampuk pengelolaan. ”Keadaan menjadi sangat rumit saat kematian generasi pertama terjadi,” Alfred Peguero, seorang rekanan di Pricewaterhouse Cooper bagian Layanan Perusahaan Swasta menjelaskan, ”Negara Amerika Serikat dapat mengambil alih kepemilikan usaha 45%. Saat sang kepala keluarga meninggal, pajaknya dapat membuat usaha tutup.” Tanpa perencanaan kepemilikan properti yang baik dan tepat, kata Peguero, para pewarisnya kemungkinan terpaksa harus menjual properti hanya untuk membereskan kewajiban pajaknya. Juga, ada beberapa biaya dan konsekuensi yang harus dipertimbangkan. Biaya untuk menjaga dan merawat sebuah properti bersejarah juga dapat menjadi penghalang.

Di Baltimore Estate di Asheville, North Carolina, yang dibangun oleh George W. Vanderbilt pada 1895 dan saat ini dikelola cicitnya, Bill Cecil, Jr., biaya konservasi dan pemaliharaanya saja sudah mengambil porsi besar dari anggaran tahunan. Bahkan, banyak properti milik swasta berakhir dengan disumbangkan atau dijual ke negara karena pemiliknya tidak mampu membayar pajak dan biaya pemeliharaan. ”Pemerintah suka mengambil alih kepemilikan,” kata Cecil. ”Tapi pemeliharaan rutinnya diabaikan.”

Meski demikian, lebih sering para pengembanglah yang menikmati dan mengambil keuntungan dari properti yang sebagian besar merupakan properti bernilai tinggi. Di Montana, dimana daya beli selebritas Hollywood berperan menjulangkan harga tanah sebelum akhirnya kembali stabil dalam beberapa tahun terakhir ini, pengusaha Kim Kelsey mengakui, ia mendapatkan sekitar dua surat penawaran setiap minggu untuk peternakan Nine Quarter Circle Ranch milikya. ”Anda bisa mendapatkan kuntungan cukup besar jika menjualnya secara utuh atau hanya sebagian.” Mengurus sebuah peternakan penginapan dan mencoba membuatnya mandiri secara finansial bukanlah tantangan mudah. Setelah mencoba bertahan selama 20 tahun, sejumlah keluarga menjual atau melepas properti dan tanah mereka.

Kembali ke wilayah Pantai Timur Amerika Serikat, harga lahan di sekeliling Basin Harbor Club telah naik setidaknya empat kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Namun keluarga Beach siap menempuh perjalanan panjang. ”Bisa terus eksis sangat penting, bukan melulu mengenai angka di neraca keuangan setiap triwulannya,” kata Pennie.

Musser setuju bahwa komitmennya yang tinggi disebabkan karena faktor peninggalan keluarga dari pada keuntungan finansial. Para pengusaha hotel keluarga dikaruniai loyalitas tinggi. ”Anda ke Ritz Carlton, semua pelayanannya baik. Tapi yang demikian bisa Anda dapatkan dimana saja,” kata Beach. ”Hotel keluarga lebih istimewa; Anda tidak bisa mendapatkannya dimanapun, hanya di satu tempat saja.”

From : National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Survei Online Hotel Favorit | National Geographic Traveler Indonesia

Rabu, 19 Agustus 2009

Selaras dengan sarasehan hotel terbaik yang kami gelar dengan mengundang para pakar public figure dan pejalan dari berbagai latar–belakang, kami juga membuka survey hotel terbaik 2009 yang dilakukan secara Online. Dapat ditemui di tautan http://nationalgeographic.co.id/survey/. Disini, para pembaca dan pemerhati dapat memberikan suara serta memilih hotel terbaik versi masing-masing, berdasar daftar dari sumber data National Geographic traveler yang di susun secara geografis.

Hanya, sedikit berbeda di banding sarasehan hotel terbaik yang kami gelar, pada versi online pihak Litbang National Geographic Traveler memberi batasan umum terhadap segi–segi yang dinilai, yaitu ;
• Kondisi kamar
• Keamanan dan keselamatan
• Makanan
• Pelayanan (service)
• Fasilitas
• Pemesanan via internet
• Segi arsitektur, pemandangan hotel
• Lokasi dan kemudahan akses
• Keramahan sosial dan lingkungan
• Nilai kepuasan di bandingkan harga

Silahkan terus memantau hasil survey hotel terbaik National geographic Traveler 2009 di situs kami dan edisi mendatang.

Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih kepada para pembaca National Geographic Traveler versi cetak maupun online yang telah meluangkan waktu untuk memberikan voting atau penilaian terhadap tempat–tempat menginap di tanah air. Harapannya, dengan penilaian ini di peroleh kondisi realistis dari tempat yang bersangkutan dan memberikan bantuan terhadap para pejalan soal akomodasi komersial.

Beberapa komentar dari pengisi survey dapat memberikan deskripsi atau gambaran kondisi ideal atau yang diinginkan oleh para pejalan serta pelaku bisnis dalam mencari penginapan. Seperti penuturan Junaidi Kurniawan dari Jawa Timur. Pilihannya jatuh pada hotel Shangrila, Surabaya. “memiliki sajian masakan enak, pelayanan memuaskan serta lokasi strategis (dalam kota).”

Senada pendapat Mazri Tanjung dari Padang, Sumatera Barat. Ia memfavoritkan Aston Rasuna, Jakarta dengan pertimbangan dekat Sentra Bisnis. ”Ekspektasi melebihi harga dan aksesnya sangat strategis, berada di segitiga Emas Jakarta. Keamanannya bagus.”

Lain lagi kecenderungan para pejalan atau peserta survey yang menginginkan suasana lepas dari bungkus kota besar, tengah kota atau sentra bisnis. Seperti komentar Febi Jonatan, Bekasi Timur. Ia berikan catatan khusus untuk Novotel Kuta, Lombok. ”Letak di area terpencil dengan pantai pribadi serta resort yang nyaman ditunjang harga bagus membuat saya memilih hotel ini.”

Selain pilihan hotel di jantung kota hotel tempat terpencil, ada pendapat dari segi historis. Rendra Hertiandhi, Banten menyebut Hotel Majapahit sebagai tempat yang memenuhi kriterianya, ”klasik, antik, eksotis dengan harga sepadan.”


Hotel Favorit
Pilihan Peserta Sarasehan


• Hotel Niagara, Lawang
• Hotel Majapahit, Surabaya
• Roemahkoe Bed and Breakfast, Solo
• Hotel Candi Baru, Semarang
• Pondok SVD, Riung, Florest
• Menjangan Resort, Bali Barat
• Begawan Giri, Ubud, Bali
• Sheraton Timika, Papua Barat
• ECO Hotel, Lembah Harau, Bukit Tinggi, Sumatera Barat
• The St Regis, Nusa Dua, Bali
• The Mansion, Ubud, Bali
• Java Cove, Pangandaran, Jawa Barat
• Ritz Carlton, Bali
• Kima Bajo, Manado, Sulawesi utara
• Kampong Sampireun, Garut, Jawa Barat
• Lava View Lodge, probolinggo
• Sabang Guesthouse, Sabang, Naggroe Aceh Darussalam
• Hotel Santika Premiere, Manado, Sulawesi Utara
• four Season, Jimbaran, Bali
• alila Icon, Kemang, Jakarta
• Hotel Maya, Ubud, Bali
• Eco Resort, Raja ampat, papua Barat
• Novotel, Kuta, Lombok NTB
• Hotel Tanjung Sari, sanur, Bali

National Geographic Traveller Indonesia

Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : PENGINAPAN DENGAN LOKASI YANG BEDA ATAU TIDAK BIASA

Selasa, 18 Agustus 2009

Soal pilihan tinggal di penginapan dengan konsep hijau dan dekat dengan alam sebagai rujukan, para peserta sarasehan mengungkapkan bahwa letak si hotel atau tempat tinggal sementara tidak harus berada di atas luasan tanah untuk mendapatkan predikat terbaik. Tempat menginap alternatif yang bukan berupa bangunan masih juga disukai, karena mendatangkan rasa kedekatan dengan alam dan lingkungan hidup. Dalam hal ini, tenda dan wahana terapung di atas sungai dan laut dimasukkan sebagai kategori khusus. Tetap bisa mendapatkan predikat terfavoit, khususnya untuk pencinta alam bebas dan kegiatan outdoor.

Heryus saputro mencontohkan live aboard untuk pariwisata bahari yang dikemas khusus. Contohnya yang ia alami saat berada di kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. ”Penginapan di atas laut ini bisa dikemas khusus atau ’dijahit’ sesuai keinginan anda, termasuk dengan merancang sendiri makanan yang ingin disantap selama perjalanan. Lalu bahan-bahan di bawa ke atas kapal dan dimasak,” tukasnya merespon William Wongso selaku pakar kuliner. Hingga perjalanan bahari terasa makin bermakna dan sesuai dengan kemauan pejalan.

Untuk perairan sungai, Riyanni Djangkaru menyorot ekowisata Sungai Sekonyer di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah bisa dikemukakan sebagai salah satu kandidat untuk meraih predikat terobosan menggelar akomodasi. ”Pejalan diajak menyusuri sungai dengan perahu, bermalam pakai matras dan kelambu di bawah langit terbuka serta disuguhi masakan yang dibuat oleh awak perahu sendiri.Tentunya hal ini sebuah pengalaman menarik. Apalagi sesudahnya, bisa bertandang ke Camp Leakey menengok orangutan.”

Kembali ke panorama alam yang ada di daratan, tinggal di tenda merupakan bagian dari pertualangan mengasyikkan. Bila tolak ukurnya adalah resor atau jaringan perhotelan ternama, Amanwana di Pulau Moyo bisa dikemukakan sebagai contoh. Ada dua pilihan dari tenda eksklusif yang ditawarkan ; menghadap laut flores atau menghadap ke arah hutan.

Riyanni dengan antusias menambahkan, salah satu pilihan berkemah dengan fasilitas lima bintang bisa didapat di Rakarta, Tanakita Campground. Lainnya, menginap pakai tenda di camping ground yang disediakan Taman Safari Indonesia, Sukabumi. Tidur dengan matras dan sleeping bag, disuguhi bajigur dan aneka makanan tradisional, dengan kesempatan mengintip harimau sumatera terlelap. ”Mungkin terkesan tidur kita jadi kurang nyaman dengan peranti sederhana. Tapi hal ini bisa ditawarkan pada para keluarga yang ingin mengajak anak-anaknya lebih mengenal lingkungan hidup dan aneka satwa.” Dan hal ini, tentu saja sebuah nilai khusus bagi penyelenggara akomodasi itu.

National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : KEPEDULIAN PENGELOLA DALAM MEMBERDAYAKAN SDM SETEMPAT, SERTA AJAKAN PEDULI PADA TAMU HOTEL

Senin, 17 Agustus 2009

Keterlibatan para investor asing dalam pengelolaan destinasi wisata tidak mengusik Riyanni Djangkaru. ”Sejauh mereka melibatkan sumber daya manusia warga setempat, seperti sebuah eco-resort di Raja Ampat, Papua. Owner-nya berada di tempat penginapan dan melibatkan keluarga lokal sebagai karyawannya,” kata presenter cantik ini, tentang tempat penginapan yang interiornya didominasi rotan dan bambu. Selain itu, Riyanni mengaku merasa lebih senang jika owner tempat penginapan juga turut andil dalam menggalang kepedulian bersama tetamu untuk turut menjaga kelestarian dan kebersihan alam sekitar.

Terlebih destinasi wisata seperti Raja Ampat yang memiliki keindahan flora dan fauna – salah satunya, Burung Cenderawasih – serta lokasi penyelaman terbaik se–Indonesia. Seperti yang telah di kupas dalam survey yang dilakukan tim riset Majalah National Geographic Traveler sebagaimana dimuat dalam edisi 3/Mei Juni 2009 bertema wisata bahari.

Kepedulian pengelola tempat menginap akan pemberdayaan tenaga kerja setempat juga mendapat nilai bagus.

National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : KELENGKAPAN KHUSUS YANG DIMILIKI PENGINAPAN, SEPERTI MENYEDIAKAN JASA PEMANDU ATAU PEMESANAN TIKET DENGAN CEPAT

Minggu, 16 Agustus 2009

Layanan pihak Hotel atau penginapan tidak saja terbatas pada hal-hal umum seperti membersihkan kamar atau menyedikan santapan bagi para tetamu. Tapi juga bisa di perluas seperti pemesanan dan konfirmasi keberangkatan dengan pesawat atau wahana transportasi lain. Juga menyediakan jasa pemandu yang laik atau memiliki klasifikasi tertentu. Jay Subyakto menyatakan, ada beberapa hotel belum bisa membantunya untuk melakukan pemesanan tiket pesawat ke berbagai daerah Indonesia Timur. Hampir mirip, hal yang dikemukakan Ade Purnama atau Adep. ”Ada yang ’jago’ dalam meletakkan berbagai booklet dan brosur tempat wisata. Tapi begitu di pesan, jasa layanannya tidak ada.”

Hal demikian, tentu saja perlu mendapat perhatian pihak pengelola penginapan. Beberapa hotel berkerja sama dengan agen pemesanan tiket maupun tur dan travel, sehingga tetamu bisa mendapatkan pelayanan lebih. Bila mereka puas, tentu saja akan memberikan imbas positif. Para konsumen bisa merekomendasikan nama penginapan kepada para kenalannya, karena kelengkapan layannya.

Atau dapat juga pihak hotel memiliki tenaga outsourcing terpercaya untuk menjadi pemandu para tamu yang ingin wisata berbeda di banding yang di tawarkan agen wisata-disebut Tailored-Made Tour. Bila tamu penginapan puas dengan sajian wisata atau layanan khusus yang diberikan pihak hotel, tentu akan di sampaikan kepada para kerabat dan calon konsumen lainnya. Jadilah hotel ini juga memiliki sentuhan pribadi yang humanis.

National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : LAYANAN DAN KERAMAH-TAMAHAN, TIDAK MEMBEDAKAN TETAMU

Sabtu, 15 Agustus 2009

Jay Subyakto geram pada dirinya di tolak masuk oleh petugas sebuah hotel yang menjadi langganan wisatawan mancanegara. Menurut Jay, di tengah dunia yang gencar mendengungkan kesetaraan, seharusnya di berlakukan aturan guna menertibkan sikap negatif semacam itu. Setiap manusia -wisatawan lokal maupun mancanegara - layak di perlakukan secara adil dan di berikan kepedulian setara. ”Jangan melakukan pembodohan,” ungkap Jay, sembari berharap perlakuan rasis yang pernah ia alami, tak akan terulang lagi.

Bagi Jay, keramah tamahan yang mengesankan yang ia rasakan saat menginap di pondok Riung SVD di Florest, Nusa Tenggara Timur. Selain unsur Hospitality, tempat penginapan ini juga menyajikan makan higienis, serta menawarkan lanskap cantik. Lainnya, Jay juga terkesan dengan Hotel Tanjung Sari, Sanur, dan Menjangan Resort di Bali, yang Eco-Friendly dan bernuansa klasik.

Sementara peserta diskusi yang lain menjagokan hotel Mercure Jakarta, Novotel Kuta Lombok, Hotel Majapahit Surabaya dan Hotel Santika, sebagai tempat penginapan yang memberi pelayanan dan keramah tamahan yang memuaskan, dan tidak berlebihan. Berbeda pendapat pada yang lain, William Wongso lebih menyukai keramah tamahan yang di tunjukkan resort dengan personality yang membuatnya serasa berada di rumah, bukan di Hotel berbintang lima.

Konsep sebuah hotel Lido Lakes dengan ruang-ruang hijau yang menyebar di sekeliling Hunian. Memberi kesegaran badan dan Rohani. Bagan-bagan bambu menghadirkan sentuhan tersendiri.
Front Desk Grand Kemang, yang menyajikan gaya Futuristik.

National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : KEUNIKAN LATAR BELAKANG, NILAI HISTORIS DAN BUDAYA

Jumat, 14 Agustus 2009

Nilai historis dan arsitektur lama yang dipertahankan oleh pengelola hotel mendapat sambutan positif dari peserta sarasehan kami.

Para reserta sarasehan segera melontarkan nama penginapan favorit yang mengerucut nyaris sama, saat membahas tentang keunikan hotel ditinjau dari sisi historis dan budaya. Nama Hotel Niagara (Lawang, 1918), Candi Baru (Semarang, 1919), Majapahit (Surabaya, 1910) dan Roemahkoe (Solo, 1938) masuk dalam catatan paling atas. ”Prinsipnya, arsitektur bangunan jangan merusak kondisi yang sudah ada,” tukas Jay Subyakto seraya menambahkan, Hotel Niagara merupakan pilihannya. ”Meski ada kisah misterius dan gaya penjaga Hotel serasa turut mengarahkan pada keangkeran, tapi keindahan bangunannya mengalahkan semua itu.”

Sedang William Wongso menyebut, memasuki dan tinggal di Hotel Majapahit serasa masuk museum. ”Kondisi tetap terjaga dan latar belakang sejarah serta peristiwa heroik membuat tempat menginap ini istimewa,” demikian pendapatnya.

Dari Ade Purnama atau biasa di sapa Adep, Hotel Candi Baru yang dulunya dikenal sebagai BELLEVUE menjadi pilihan utama. Apalagi, harga kamar masuk dalam kategori hemat atau sesuai budget. ”kamar-kamarnya sangat luas. Bahkan untuk kelas Suite di lengkapi ruang kerja dan meja.”

Sedang Burhan Abe menjatuhkan pilihan pada Roemahkoe karna upaya sang empunya dalam melestarikan Budaya Lokal. Utamanya soal lokasi di Sentra Batik Laweyan, hingga tetamu bisa dengan mudah berjalan-jalan ke berbagai gang yang menyediakan Batik Tulis. ”Tamu juga bisa minta disediakan kelas membatik saat tinggal disana,” imbuhnya.

Sekedar catatan dari redaksi, Hotel Candi Baru terletak di jalan Rinjani no.21, Semarang. Merujuk pada namanya sekarang, Hotel ini terletak di kawasan Candi yang terletak di perbukitan, hingga pejalan dapat menyaksikan Lanskap Kota. Arsitekturnya bergaya kolonial warisan Belanda, dengan kedai kopi jaringan Internasional terletak berseberangan.

Sedang Hotel Niagara, mudah di temukan pengunjung saat akan masuk kota Lawang, dari arah Surabaya. Bangunan di jalan Soetomo no.63, Lawang yang kini berwarna kemerahan menyeruak di kanan jalan. Sang arsitektur, Fritz Joseph Pinedo asal Brazil membuat bangunan ini sebagai tempat tetirah pribadi keluarga china terkemuka, bersentuhan art nouveau.

Hotel Majapahit merupakan satu dari bangunan warisan Sarkies bersaudara yang merupakan pengusaha jaringan Hotel Kolonial dan bersejarah di kawasan Asia Tenggara (baca artikel Rehat Bersejarah Warisan Serkies di halaman 59-61). Penginapan di jalan Tunjungan no.65 Surabaya ini terkenal karna peristiwa bersejarah perobekan Bendera Belanda oleh para pemuda Surabaya yang berlanjut dengan perang 10 November 1945.

Di banding ketiga Hotel di atas, Roemahkoe yang mengklasifikasikan keberadaannya sebagai Bed and Breakfast tergolong bangunan paling kecil. Terletak di jalan Dr. Radjiman no.501 Laweyan, Solo, bangunan bergaya Art Deco ini tadinya merupakan rumah dari pedagang batik terkemuka.

National Geographic Traveller Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : TIDAK MENGEDEPANKAN SUATU HAL TERTENTU YANG DILARANG DALAM PROGRAM PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN SATWA LANGKA

Kamis, 13 Agustus 2009

Berbagai seruan dan komentar mengalir deras saat topik membahas soal tempat menginap yang restorannya menyediakan material satwa langka atau di lindungi sebagai daya tarik utama bagi para tamu, baik yang menginap atau tidak. Terlebih bila promosi diadakan besar-besaran hingga tampil di media cetak atau papan pariwara pinggir jalan.

Sebagai seorang pakar kuliner, William Wongso menyatakan keprihatinan mendalam. ”Apalagi, bila masakan ini didasarkan pada kepercayaan atau believe,” tandasnya. Mulai manfaat sebagai obat keperkasaan sampai penunjang kesehatan diyakini dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari budaya. Ujung-ujungnya, tentu saja kepunahan bagi satwa tertentu. ”Padahal dari segi citarasa pun tidak bisa dipertanggungjawabkan, karena pertunjukannya bukan bahan pangan.”

Senada, Heryus Saputro menyatakan bisa saja bahan pangan yang dimaksud tidak termasuk kategori langka atau dilindungi, tapi cara untuk mendapatkannya dilalui dengan cara khusus yang merusak alam. Tindakan demikian, tidak dibenarkan.

Sementara Muhammad Gunawan menambahkan, ”Dalam hal ini dibutuhkan kearifan kita sebagai pengguna atau calon pengguna kearifan kita sebagai pengguna atau calon pengguna penginapan. Cara menyikapi tergantung pada individu, tapi sebaiknya memang tidak merekomendasikan hotel dengan ’Keterampilan’ mengolah bahan masakan dari materi langka yang dilindungi atau terancam kepunahan.”

Pihak pengelola hotel diminta lebih peduli soal lingkungan hidup, dengan cara ikut aktif membaca atau mencari informasi berbagai satwa dan bagian lalam yang dilindungi atau hanya dapat digunakan dalam jumlah terbatas, demi mendukung keutuhan dan keseimbangan alam. Dengan memiliki daftar, usaha perluasan pemasaran satwa dilindungi pun bisa direndam sedikit demi sedikit. ”karena sebuah pasar terbentuk, bila ada permintaan dari konsumen,” imbuh Heryus. ”Bila pihak hotel menyediakan tapi tidak ada tamu yang berminat atau tertarik, nanti juga tidak disajikan lagi.”

Dilain pihak, para peserta sarasehan memberikan dukungan terhadap berbagai penginapan yang menerapkan konsep green living atau usaha-usaha mendukung pelestarian alam. Seperti ajakan kepada para tamu berupa kartu petunjuk di kamar mandi agar tidak setiap hari mengganti handuk, karena pencuciannya melibatkan deterjen dan penggunaan air. Dengan berhemat 2 – 3 hari sekali, pihak penginapan sudah memberi masukan positif terhadap upaya pelestarian.

Demikian pula beberapa tindakan penginapan yang peduli lingkungan, seperti mengganti pemakaian kantong plastik pakaian kotor (laundry bag) dengan kantong kain daur ulang.

National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : MEMILIKI GERAI CENDERAMATA YANG KHAS, PEDULI LINGKUNGAN DAN UNIK

Rabu, 12 Agustus 2009

Bagi sebagian pejalan, berbelanja cenderamata merupakan agenda wajib yang pantang dilewatkan saat melakukan perjalanan. Tentu saja, bukan sembarang cenderamata bertuliskan ”Made In Indonesia”, melainkan hasil kerajinan tradisional yang khas dan unik. Semakin primitif, semakin menarik. Hotel pun punya kesempatan menyajikan gerai cendera mata terbaik. Siti ”Ifa” Kholifah menyukai cenderamata berupa bebatuan mulia khas Sumatera dan Sulawesi, karena tak akan ia temui di daerah lain. Sementara Riyanni mengaku, saat menginap di Hotel Nayak, Wamena, Papua, pernah mendapati souvenir yang meski tidak unik, tapi menarik : koleksi guci oriental. Dalam membeli cenderamata, Riyanni berprinsip, ”Dahulukan membeli cenderamata yang legal daripada ilegal.”

”Tindakan peduli lingkungan bisa dicerminkan lewat ; tidak mencoba masakan dari satwa langka dan tidak membeli cenderamata ilegal.”

National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

Hotel Idaman : KULINER CITARASA OTENTIKAL DAN OTENTIK

Selasa, 11 Agustus 2009

Pisang goreng, nasi timbal dan sambel cobek. Kuliner ”ndeso” dengan cita rasa khas dan cara penyajian sederhana, menimbulkan kerinduan tersendiri di hati pejalan yang terbiasa tinggal di kota besar, seperti Siti Kholifah atau Ifah. Produser acara Koper dan Ransel di salah satu stasiun televisi swasta ini tak bisa di lupakan pengalaman saat menyantap kuliner macam itu di desa Wisata Bumihayu, Subang, Jawa Barat. Ia juga mengaku sangat terkesan saat menginap di ECO-Homestay Kemuning Resort, Sukabumi. Selain tarif murah, kuliner yang di sajikan sangat otentik. Kesan yang sama juga pernah dirasakan oleh Ade Purnama, ”menginap di ECO-Homestay, dan menyantap makanan yang disajikan dari dapur apa adanya, wah, benar-benar nikmat sekali.”

Kuliner ini tetap di buru pejalan, seperti Burhan Abe, meski ia menginap di hotel berbintang sekalipun. Saat menginap di The Mansion atau Royal Pita Maha di Ubud, Bali, juga di Alila, Manggis, Bali, ia menyewa mobil untuk menyusuri perkampungan dan mampir di warung nasi ayam Kedewatan. Tempat menginap yang bagus, sesal Burhan Abe, jarang di lengkapi tempat makan yang memiliki spesialisasi tertentu dengan cita rasa serta cara penyajian yang otentik dan nyambung di indera pengecap. Karena itu, sumbangsih makanan dari masyarakat setempat yang enak senantiasa menimbulkan kerinduan tersendiri, sebagaimana diakui Heryus Saputro. Wartawan senior ini amat terkesan dengan pengalaman mencicipi kuliner tradisional di Sukabumi, usai arung jerang (rafting) bersama Arus Liar.

Menu rumahan yang enak seperti sayur asem dan empal gepuk, diakui Riyanni Djangkaru, sebagai menu teristimewa yang pernah ia cicipi saat berada jauh dari rumah. Tepatnya di sebuah homestay sederhana tanpa pendingin udara di Ijen, sekitar 4 jam waktu tempuh berkendara dari Surabaya, Jawa Timur. Selain itu, Riyanni juga mencicipi menu lain yang citarasanya tak mudah ia lupakan, ”Kopi Arabika dan Luwak, olahan stoberi organik, dan kentang madu-madu kukus dengan saus madu putih dari Lombok.”

Pengalaman menyeruput kopi dan menyantap makanan organik juga pernah di alami Muhammad” Ogun” Gunawan saat berada di sebuah perkebunan organik di Kalibaru, dekat Glenmore, Banyuwangi.” bernostalgia ala Belanda.” tukas Ogun.

William Wongso memaklumi jika kebanyakan pejalan mencari menu otentik di tempat makan sederhana, dari pada restoran di hotel berbintang. Berdasarkan pengalamannya sebagai pakar Kuliner yang sering keliling Indonesia (dan Mancanegara), William mengakui, ”banyak hotel berbintang mengklaim sebagai yang terbaik dari segi lokasi dan arsitektur. Tapi mutu Food and Beverage-nya nol!” William juga sering mendapati beberapa kerabat atau sahabatnya membawa lauk pauk atau makanan sendiri kala berpergian, karna kuatir tak mendapat kecocokan selera dengan sajian restoran di hotel. Menurut William, kebanyakan hotel menjanjikan menu standar seperti American Breakfast, tanpa mengangkat keunikan kuliner tradisional, karena Chef terpaku pada sistem. Tanpa variasi menu dan citarasa yang memadai, tamu hotel akan di landa kebosanan, lalu mencari menu otentik di luar hotel, atau membawa bekal makanan sendiri dari rumah.

Lebih jauh, William mengungkapkan pengalamannya menginap di Gardenia, Tomohon, Sulawesi Utara, yang memiliki sajian Kuliner yang mengesankan. Juga, di Bali, serta di sebuah tempat menginap di Malibaya, Lembang, Jawa Barat, yang menyajikan menu rumahan dengan sentuhan Belanda, di olah oleh koki keluarga, secara turun temurun. Agar lekat di hati tetamu, tegas William, sajian menu di hotel harus memberi apresiasi terhadap kuliner lokal.

National Geographic Traveller Indonesia

Read More / Baca Selengkapnya....