Nasi Liwet Yu Sani

Jumat, 30 Oktober 2009

DIMASAK 9 JAM, “BERANI” SANTAN

Di Kota Solo banyak sekali penjual nasi liwet.Tak mengherankan karena nasi liwet memang ikon kuliner dikota ini. Masakan ini konon dulu merupakan menu khas istana Keraton Surakarta. Dari sekian banyak penjual nasi liwet, tak berlebihan bila kita menempatkan nasi liwet Yu Sani pada daftar urutan atas yang harus dikunjungi.

Warung ini berada di luar kota Solo tepatnya di kawasan pertokohan Solo Baru, daerah satelit kota Solo yang sudah masuk Kabupaten Sukoharjo. Jaraknya sekitar dua kilometer dari pusat kota Solo. Dari arah Solo, warung tenda Yu Sani berada di kiri jalan setelah bundaran air mancur. Tempat duduk lesehannya bersih dan nyaman.

Keistimewaan nasi liwet Yu Sani adalah rasanya yang super gurih, baik nasi maupun sayuran dan daging ayamnya, gurih tapi tidak enek. Kegurihan nasi liwet Yu Sani dikerenakan “keberanian“ menggunakan santan kelapa. Untuk memproses 30 kg nasi, 25 ekor ayam, dan 50 kg labu siam, Yu Sani berani mengunakan 50 butir kelapa. Itu baru gurih dari santannya, belum rasa gurihnya dari bumbunya lain seperti daun salam, bawang merah, bawang putih, dan sebagainya.

Kuah nasi liwet Yu Sani juga tidak berisi gerusan kulit cabai seperti pada umumnya nasi liwet. Ini dikerenakan Yu Sani hanya menggunakan air cabai. Saat memasak, lombok yang di ulek tangan tak ikut dimasukkan sebagai bumbu, melainkan disaring terlebih dahulu. Ini yang membuat rasa kuah sayur jepan (lubu siam) Yu Sani lebih lembut meski warnanya kuning kemerah-merahan. Kalau anda penggemar pedas, silakan ceplus saja lombok kukus yang disediakan di meja.

Selain rasanya lembut, kuah sayur jepan Yu Sani juga gurih karena berasal dari air santan ditambah kaldu ayam kampung. Pekat sekali. Labu siam ini adalah satu-satunya jenis sayuran yang tersaji di nasi liwet. Yu Sani selalu memilih jepan yang segar sebelum diiris kecil-kecil. Untuk 50 kg sayur jepan, Yu Sani menghabiskan 1,5 kg bawang merah dan bawang putih sebagai bumbu. Semuanya ditumbuk dengan cobek besar secara manual, tidak menggunakan blender.

Satu porsi nasi liwet terdiri atas nasi gurih, sayur jepan, tempe bacem, tahu bacem, telur pindang, kuning telur kukus, dan suwiran daging ayam. Isinya cukup lengkap. Tak lupa pula areh atau klumud, endapan santan campur putih telur yang kemudian dikukus setelah ditambah garam.

Jika daging ayam masih kurang, Anda bisa minta tambah. Pilihannya mulai dari dada , paha, brutu, kepala atau ampela. Daging ayamnya di jamin empuk dan gurih. Padahal ayamnya jenis ayam kampung yang terkenal alot. ”Kami memilih ayam yang masih muda/ belum bertelur,” kataYu Sani.

Selain ayamnya masih muda, cara memasaknya pun ikut menentukan keempukan daging. Yu Sani merebus ayam selama lima jam dari pukul 09.00-14.00 WIB. Ayam-ayam pilihan itu direbus dengan bumbu lengkuas, daun salam, jahe, kunyit, dan sebagainya. Setelah empuk, diangkat. Sisa air rebusan daging ayam yang sudah berbumbu itu digunakan sebagai kuah sayur jepan dengan ditambah air santan.

Yu Sani menghabiskan waktu hingga sembilan jam untuk menyelesaikan pekerjaannya membuat nasi liwet. Yang paling lama adalah proses memasak ayam. Berbeda dengan nasi uduk yang juga gurih, nasi liwet jauh lebih gurih. Selain diberih santan hingga terlihat berminyak, nasi gurih ini ditanak dengan diberi bawang merah dan putih yang diiris kecil-kecil. Semua proses memasak itu dilakukan dengan kayu bakar.

Nasi gurih ditempatkan dipanci yang dilapisi daun pisang. Bukan daun pisang segar melainkan layu oleh panasnya uap air. Baunya kas karena bekas dipakai mengukus telur dan lombok. Nasi liwet ini disajikan diatas daun pisang yang dibuat pincut. Karena belakangan daun pisang susah didapat, Yu Sani menyiasati dengan memakai piring tetapi tetap dilapisi daun pisang. ”Kalau minta pincuk, Ya dikasih pincuk,”Katanya.

Sumber :
Intisari Khusus

Read More / Baca Selengkapnya....

1001 Warna Teluk Jakarta

Senin, 26 Oktober 2009

Anciol, Angiol, Anschiol, Ansjol, Antsyol, Anjool…
Tak hanya berubah nama, kawasan wisata modern di utara ibikota Jakarta ini pun berubah warna.

Transjakarta Busway yang saya tumpangi merapat di halte Ancol. Saat pintu bus tersingkap, udara hangat kawasan Teluk Jakarta sontak menerpa kulit. Pagi baru menjelang dan matahari belum menebar terik. Silau datang dari polesan cat oranye nyala pada dinding halte. Sungguh kontras dengan hitam pekat kanal ciliwung. Perjalanan berlanjut dengan shutle bus Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) menyusuri talet warna Ancol, gambaran sejati evolusi kawasan ini.

Bila di runut, kawasan yang secara administrative masuk dalam wilayah kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Kota Jakarta Utara itu sudah ada sejak abad ke -16. Pada masa itu, kawasan yang terletak di sebelah timur Kota Tua Jakarta, berbatasan dengan pelabuhan Sunda Kelapa di sebelah barat dan Pelabuhan Tanjung Periok di sebelah timur ini merupakan kawasan favorit rumah peristirahatan orang-orang kaya Belanda. Salah satunya, rumah peristirahatan halaman besar milik Gubernur Jenderal Hindia, Adrian Valckenier.

Hingga kini, masih samar diketahui asal usul nama kawasan Ancol. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ancol berarti tanah yang menjorok ke laut: Tanjung. Sumber lain menyebut, nama Ancol berarti tanah rendah berpaya-paya atau payau. Sementara buku “Nederlands Oost-Indie: of, Beschrijving der Nenderlansche bezittingen in Oost-Indie” yang di tulis oleh A. J. Vander Aa (1849), menuliskan bahwa Antjolschevaart atau Ansjol atau juga Anjol, yang dahulu di ucapkan oleh orang Inggris sebagai Angiol. Merupakan terusan atau kanal yang namanya di ambil dari nama pos pertahanan Ancol. Dahulu orang-orang Belanda, memecah-mecah aliran sungai Ciliwung menjadi kanal-kanal agar dapat merasakan aliran air yang melintasi rumah mereka seperti negeri asalnya.

Saat shuttle bus melewati Dermaga Marina Ancol, tempat bersandarnya kapal dan yatch dengan tujuan ke pulau-pulau kawasan wisata di kepulauan Seribu, ingatan saya segera mengembara, mengingat kisah tentang daerah tetangga di sisi barat kawasan Ancol, Sunda Kelapa yang dahulu merupakan pelabuhan utama milik Kerajaan Hindu Sunda Pakuan Pajajaran. Pada abad ke - 11 hingga 16, Sunda kelapa telah di labuhi kapal-kapal dari Palembang, Tanjung Pura, Malaka, Makassar, dan Madura bahkan juga kapal-kapal dari India, dan Cina (Heuken, 1982).

Sementara Ancol sendiri hanya di anggap kawasan rawa-rawa dan hutan bakau yang tidak potensial. Meski begitu, Ancol mampu menjadi kawasan penyangga yang berkembang mengikuti perkembangan kawasan Sunda Kelapa.

Menjelang pertengahan abad ke-16, terjadi peristiwa penting di sini. Nama Ancol tercatat dalam Koropak 406, cerita parahiyangan yang di tulis dengan aksara Sunda di atas lembar daun lontar, sebagai salah satu ajang peperangan Prabu Surawisesa, penguasa Kerajaan Hindu sunda pakuan pajajaran.

…Disilihan inya ku prebu Surawisesa, iny nu surup ka padaren, kasuran, kadiran, kuwamen. Prangrang lima welas kali hanteu eleh, ngalakukeun bala sariwu. Prangrang ka Kalapa deung Aaria burah. Prangrang ka Tanjung. Prangrang ka Ancol kiyi….

Pelabuhan Sunda Kelapa milik Kerajaan Hindu Sunda Pakuan Pajajaran merupakan pusat perdagangan dan pertahanan strategis. Tak heran jika kerajaan Islam Banten, Cirebon, dan Demak berulang kali coba merebut Pelabuhan Sunda Kelapa. Dan Ancol, merupakan salah satu daerah kunci yang memegang peranan penting dalam segi pertahanan dari pihak musuh yang ingin merebut pelabuhan ini dari arah timur, menyusup dari arah rawa-rawa dan hutan Ancol menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Oleh karena itu, Sang Prabu berperang di sini untuk menghalau musuh, demi mempertahankan wilayah pelabuhannya yang strategis.

Beberapa tahun kemudian, armada Portugis tiba di Sunda Kelapa. Kerajaan Hindu Sunda Pakuan Pajajaran menyambut baik Portugis, dan berharap Portugis dapat membantu menghadapi serangan kerajaan Islam Banten, Demak dan Cirebon, seiring menguatnya pengaruh Islam di pulau Jawa. Ternyata gabungan kekuatan Kerajaan Islam Banten, Demak, dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah berhasil mengalahkan Kerajaan Hindu Sunda Pakuan Pajajaran dan Portugis. Pada 22 Juni 1527, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, berarti, “Kemenangan yang nyata.” Usai Fatahillah menguasai Sunda Kelapa, kawasan rawa-rawa dan hutan Ancol pun ditinggalkan, dan menjadi sepi tanpa cerita.

Memasuki abad ke-17, Belanda datang, dan dalam waktu singkat berhasil menguasai Jayakarta. Dikisahkan sejarawan Adolf Heuken dalam Historical Sites of Jakarta (1982), Belanda di bawah komando Jan Pieterszoon Coen menggempur habis Jayakarta dan Pelabuhan Sunda Kelapa, lalu menamakannya Batavia. Wajahnya di buat mirip kota-kota di Belanda. Menurut A.W.P. Weitzel dalam buku Batavia in 1858: Schetsen en beelden uit de hoofdstad van neerlandsche Indie (1860), rumah-rumah bergaya Eropa mulai dibangun di sepanjang tepi kanal di Ancol. Selain berfungsi sebagai saluran Sungai Ciliwung, kanal berguna sebagai pertahanan yang mengelilingi kota.

Seiring perjalanan waktu, Batavia makin berkembang. Selain rumah, kastil, dan kanal, orang-oarang Belanda juga membangun benteng. Salah satunya, Fort Zoutelande yang di bangun di Ancol pada 1656. Zoutelande atau Zoute land, berarti tanah asin. Karena dulu bila laut pasang, air payau kali Ancol berbalik ke darat menggenangi tanah sekitarnya hingga terasa asin. Kini, kondisi benteng ini terabaikan. Rumput dan tanaman liar saling berjejalan. Tak hanya itu, barang-barang milik warga setempat juga menyesaki sela-sela bongkahan benteng yang tersisa. Terlihat makin muram.

Nyatanya, dalam berbagai literature sejarah Ancol berbahasa Belanda, kisah muram telah berkawan dengan kawasan ini sejak lama. Pada awal abad ke-19, saat pemerintahan William Deandels (1808-1811), Batavia ditinggalkan karena kondisi kesehatatan di kawasan ini buruk. Pada saat itu, wabah kolera dam malaria merebak di Batavia dan sekitarnya. Sementara kawasan Ancol yang sudah menjadi bagian dari Batavia juga turut di tinggalkan karena genangan air kanal-kanal dan muara di sekitarnya dianggap sarang malaria. Kawasan elit Ancol menjadi sepi.

Tak terasa, Shuttle bus yang saya tumpangi telah melintasi ujung kawasan pantai Ancol. Jauh dari keriuhan karena rekreasi wisata, di dataran yang agak menjorok ke laut, tampak diam jejeran tonggak-tonggak kayu-kayu putih tertata rapi. Itulah kompleks Taman makam kehormatan Belanda atau Ereveld Ancol. Di taman makam pahlawan ini dimakamkan sekitar 2.000 jasad tentara Belanda yang di eksekusi Jepang di Ancol dan beberapa daerah lainnya, Banjarmasin, Makassar, dan Mandor. Di sebelah kanan monument, terdapat pohon Mindi yang di sebut Pohon Surga atau Hemellboom (Ailanthus excelsia). Pohon yang menjadi saksi pelaksanaan eksekusi yang di lakukan tentara Jepang. Menurut saksi mata, kebanyakan eksekusi dilaksanakan di bawah pohon ini.

“ Ini tempat yang paling emosional di Ancol. Kisah sedih tak pernah lekang dari sini,“ tutur Steenmeijer, Direktur Oorlogsgravenstichting (OGS), instansi resmi pemerintah Belanda yang mengurusi makam Ereveld Ancol. Karena itu, Steenmeijer meminta agar siapapun yang datang ke makam, menunjukkan siap hormat dan santun, serta bersedia menaati segenap peraturan, salah satunya tidak memotret nama pada tonggak putih. ”Karena hal itu sangat sensitive, terutama bagi keluarga yang di tinggalkan,” lanjut Steenmeijer, sambil menambahkan bahwa makam ini merupakan situs tertua di Ancol, yang sudah ada jauh sebelum dibangun tempat rekreasi, kawasan industri dan perumahan.

Benar yang dikatakan Steenmeijer. Tempat itu paling emosional. Duka seketika membersit, saat saya mengamati tonggak-tonggak putih di sini. Tak terbayang, bagaimana keadaan tempat ini pada masa awal pendudukan Jepang. Ketika itu banyak orang asing (Belanda, Inggris, Australia) termasuk pribumi, baik sipil maupun militer, laki-laki dan perempuan, bahkan anak-anak yang melawan pemerintah pendudukan Jepang dieksekusi di sini. Kemudian mayatnya dikuburkan secara massal tanpa nama di kawasan rawa-rawa berlumpur sekitar Ancol. Hingga di kemudian hari, kuburan massal itu di gali dan jenazah dimakamkan kembali di peristirahatan terakhir Taman Makam Kehormatan Belanda atau Ereveld Ancol, dikawasan timur TIJA.

Taman Makam Kehormatan Belanda itu sering dilanda banjir, karena letaknya yang lebih menjorok ke laut di banding pantai sekitarnya. Pada awal 2009, makam ini kembali digenangi banjir air laut hingga sebatas lutut orang dewasa. Menurut Tjiptadi, kuncen makam, sungguh tak mudah membersihkan satu per satu tonggak-tonggak putih dan monument dari lumpur yang terbawa saat banjir.

Namun berkat kerja keras tim OGS, makam kembali asri dengan hamparan rumput hijau, dan bunga berwarna pink bermekaran. “Benteng” dam setinggi hampir 2 meter telah dibangun pemerintah Belanda untuk menahan luapan air laut. Makam tetap tegar, sekaligus menjadi saksi perubahan perkembangan pembangunan kawasan Ancol dari masa ke masa.

Pada masa orde lama, di awal 1960-an, muncul usulan agar kawasan Ancol difungsikan menjadi daerah industri. Namun, ditolak oleh presiden Soekarno. Presiden pertama RI yang kerap di sapa Bung Karno ingin membangun kawasan itu sebagai daerah wisata. Lewat Keputusan Presiden pada akhir Desember 1965, Bung Karno memerintahkan kepada Gubernur DKI Jaya waktu itu, dr. H. Soemarno Sosroatmojo, sebagai pelaksana pembangunan proyek TIJA. Proyek pembangunan ini baru terlaksana di bawah pimpinan Ali Sadikin yang ketika itu menjadi Gubernur Jakarta. Pembangunan TIJA dilaksanakan PD Pembangunan Jaya di bawah pimpinan Ir. Ciputra alias pak Ci. Pembangunan ini tentu saja membuat Ancol yang semula muram, menjadi kian berwarna. Wajah Ancol yang tak lagi “seram” juga menarik minat kawanan burung untuk singgah.

“Dulu ada sekitar 20 jenis burung di sini (Ancol). Kami sering memberi mereka makan,” kenang pak Ci, yang selama hampir 30 tahun menjabat sebagai Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk. Meski giat membangun Ancol dengan prinsip Green architecture, tapi pak Ci tetap mempertahankan eksotisme khas pesisir: burung-burung berkeliaran, pohon kelapa berjajar, serta perahu tradisional nelayan bersauh dan berlayar, sayangnya, pak Ci tak mampu mempertahankan keberadaan burung-burung itu, karena pemda setempat tak ingin wabah flu burung semakin meluas.

Decit burung-burung pun akhirnya berganti dengan deru mobil-mobil disirkuit dan teater mobil (drive-in) yang menjadi ciri khas kawasan wisata Ancol di masa awal berdirinya pada tahun 1970-an. “Tapi tak banyak orang yang tahu, bahwa di Ancol dulu juga pernah ada arena pacuan kuda,” papar Yj. Harwanto, Kepala Departemen Korporate Plan PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk. Tapi karena dianggap bising dan menebar polusi suara, akhirnya sirkuit dan teater mobil di tiadakan, begitu juga dengan arena pacuan kuda. Berikutnya berturut-turut dibangun Gelanggang Samudera dan penginapan Putri Duyung dan tempat hiburan Copacabana yang ditutup pada April 1981 serta dijadikan hotel.

“Kami ingin menjadikan Taman Impian Jaya Ancol sebagai sarana rekreasi bagi keluarga. Karena itu, segala tempat dan kegiatan yang berkonotasi negative, kami tiadakan,” jelas Ir. Budi Kaarya Sumadi, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk. Sarana rekreasi berikut yang dibangun semakin mempopulerkan keberadaan Taman Impian Jaya Ancol, tidak saja dikalangan masyarakat ibu kota, tetapi juga seluruh Indonesia dan bahkan Asia Tenggara. Pedagang kaki lima ditata, hotel dibangun, lapangan golf, beragam permainan dan wahana di hadirkan.

Pengunjung TIJA dapat bersantai menikmati terpaan angin laut di beberapa pantai yang tersedia di sini, seperti pantai Bina Ria yang dulu di kenal sebagai daerah Sanggerlang atau Singerland, juga yang terbaru, Pantai Karnaval. Pada tahun-tahun berikutnya pengadaan sarana rekreasi dan hiburan di arahkan pada sarana hiburan berteknologi tinggi. Hal ini telah dimulai dengan dibangunnya Dunia Fantasi tahap I pada 1985, termasuk Bianglala, Balada Kera, Istana Boneka, dan Rollercoaster Halilintar.

Dimasa sekarang TIJA yang berdiri pada lahan seluas 552 hektar, telah menjadi tempat wisata dan rekreasi terbesar dan terlengkap di Indonesia. Tidak mengherankan apabila pengelola kawasan wisata terpadu yang menggabungkan hiburan dan pendidikan ini mengubah namanya menjadi Ancol Jakarta Bay City, serta rutin menggelar berbagai kegiatan bersifat Edutainment, mulai konser hingga kemping. Selain mempertahankan bangunan bersejarah, pihak TIJA juga melestarikan budaya dan kuliner. Pada saat liburan terutama malam tahun baru, pengunjung membludak 300 ribu orang perhari.

Perjalanan dengan shutle bus akhirnya berhenti sampai di kawasan ke arah timur, dekat benteng Ancol, monument raksasa. Saya melangkahkan kaki keluar kawasan rekreasi, menuju kawasan perumahan Taman Impian Timur, di ujung jalan Pantai Sanur 5, Jakarta Utara. Di sini terdapat sebuah klenteng tertua di Jakarta, disamping klenteng besar di daerah pecinan Glodok Jakarta Barat. Klenteng Jin De Yuan. Karena terletak di daerah Ancol maka klenteng legendaries ini di kenal dengan nama klenteng Ancol atau Vihara Bahtera Bhakti.

Pada awalnya klenteng ini dibaktikan kepada Da Bo Gong (Dewa Tanah) dan Fu-de Zheng Shen (dewa bumi). Namun, lama-kelamaan hanya berfungsi sebagai tempat untuk pemujaan dewa tanah dan selanjutnya menjadi tempat untuk pemujaan juru masak Cheng Ho yang bernama Sam Po Soei Soe. Tokoh ini di duga memiliki nama asli Wu Bin, seorang pegawai Cheng Ho yang beragama Islam dan meninggal di tempat itu.

Tidak ada keterangan pasti kapan di bangunnya klenteng ini. Menurut Heuken dalam bukunya Historical Sites Of Jakarta. Mengutip Artikel Adries Teisseire, 1792 yang menuliskan,” Ini (klenteng Ancol) adalah klenteng Cina tertua yang didirikan pada pertengahan abad lalu.” Berarti sekitar 1650-an. Sumber lain menyebut klenteng Ancol berhubungan dengan kunjungan Admiral Sampo (Zheng He) dari dinasti Ming pada tahun 1371.

Kisah yang beredar di masyarakat setempat mengenai orang yang bernama Sam Po Soei ini menarik. Konon, sebuah kapal dari kekaisaran Cina, Sam Po Kong, yang rusak terpaksa berlabuh dikawasan rawa-rawa Ancol. Seorang awak kapal, juru masak kapal bernama Sam Po Soei Soe turun ke darat untuk melihat pertunjukkan ronggeng. Ia tertarik melihat pertunjukkan itu dan jatuh hati pada penari bernama Sitiwati.

Karena terpesona akan sang penari tanpa disadari kapal sudah selesai diperbaiki dan ia tertinggal di Ancol. Syahdan, karena ditinggalkan rombongan, ia mendatangi orang tua Sitiwati, seorang muslim alim yang bernama Embah Said Areli dan Ibu Enneng untuk melamar anaknya. Lamaran disetujui dan pernikahan pun di laksanakan. Namun, saat pernikahan, sebagai seorang muslimah, Sitiwati meminta suaminya untuk tidak memakan daging babi karena haram, sedang suaminya meminta Sitiwati untuk tidak memasak jengkol atau petai karena kebanyakan orang Cina tidak menyukai makanan beraroma khas ini. Dari peristiwa itu, daging babi, petai dan jengkol ditaburkan untuk sesaji di klenteng Da Bo Gong.

Dari balik teralis jendela klenteng, saya melihat awan putih pucat menggelayut. Pertanda tak lama lagi bulir-bulir hujan berjatuhan. Saya tinggalkan bangunan klasik yang di penuhi polesan warna merah itu, dan bergegas menuju di halte Trans Jakarta Busway. Menyudahi perjalanan di Ancol yang penuh warna.

Sumber :
National Geographic Traveller Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

PERINGKAT LOKASI PENYELAMAN INDONESIA

Minggu, 25 Oktober 2009

PERINGKAT LOKASI PENYELAMAN INDONESIA
Indonesian Diving Site Best Ranking


PERINGKAT LOKASI PENYELAMAN BERDASARKAN PELAYANAN

Tulamben – 4.12
Selat Lembeh, bitung – 4.09
Kep. Bunaken, Manado – 4.06
Nusa Penida, Lembongan – 4.05
Menjangan, Bali Barat – 3.92
Gili Trawangan, Meno, Air, Nanggu, Lombok – 3.84
Komodo, Rinca – 3.70
Kep. Raja Ampat – 3.67
Kep. Seribu - 3.48

PERINGKAT LOKASI PENYELAMAN BERDASARKAN KELESTARIAN LOKASI

Kep. Raja Ampat - 4.35
Komodo, Rinca – 4.24
Wakatobi – 4.21
Tulamben – 3.98
Nusa Penida, Lembongan – 3.95
Menjangan, Bali Barat – 3.92
Kep. Bunaken, Manado – 3.90
Selat Lembeh, Bitung – 3.74
Derawan, Kalimantan – 3.63

PERINGKAT LOKASI PENYELAMAN BERDASARKAN KEPUASAN DIBANDING BIAYA

Selat Lembeh, Bitung – 4.52
Kep. Raja Ampat – 4.41
Komodo, Rinca – 4.35
Tulamben – 4.24
Kep. Bunaken, Manado – 4.19
Wakatobi – 4.06
Nusa Penida, Lembongan – 4.05
Menjangan, Bali Barat – 4.01
Derawan, Kalimantan – 3.85

PRIORITAS DALAM MEMILIH LOKASI PENYELAMAN (%)

Keindahan dan keragaman bawah laut – 97
Kelestarian Lokasi – 57
Kepuasan dibanding biaya – 35
Keamanan – 34
Kemudahan mancapai lokasi – 22
Pelayanan – 14
Tingkat kesulitan penyelaman - 13
Wisata tambahan – 10

OPERATOR PENYELAMAN FAVORITE

Planet Diving
Marine Diving Club (MDC)
Selfmanage / tanpa operator
Bali Scuba
Elang Ekowisata Dive Shop
Grand Komodo
Ody Dive
Riza
Bubbles Dive Center
NDC

LOKASI OPERATOR PENYELAMAN

Bali
Jakarta
Manado
Kep. Seribu
Kep. Karimunjawa
Bogor
Semarang
Kep. Raja Ampat
Kep. Bunaken, Manado
Tulamben
Komodo, Rinca
Pulau Pramuka
Gili Trawangan, Meno, Air
Nanggu, Lombok

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia








Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : DKI JAKARTA: Kepulauan Seribu

Sabtu, 24 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


16. DKI JAKARTA: Kepulauan Seribu (Nilai: 3,15) Layanan operator membuatnya masuk peringkat favorit (3,48), juga karena lokasinya begitu mudah didatangi (3,59).

”Mudah dicapai, biaya relatif terjangkau dan ada pilihan wisata lainnya,” ujar Stanley Sinjal, responden asal Jakarta.

Sangat mudah dicapai dari Jakarta. Periksa dulu jadwal keberangkatan ke pulau Pramuka, Sepa atau Kotok di Marina Ancol, atau pilih perahu penyeberangan warga Kepulauan Seribu di Muara Angke.

Program penumbuhan kembali di Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu di Pulau Pramuka jadi salah satu daya tarik utama. Terumbu karang sehat juga dapat ditemukan di Pulau Kotok bersama si bibir tebal, hiu dan penyu hijau (Chelonia mydas). Bahkan peri manta kecil sesekali menyelinap. Masih ada barakuda, batfish, moray eel, parrotfish dan bangkai kapal kargo.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : BANTEN: Pulau Sebuku, Sebesi dan Sangeang (Sanghyang)

Jumat, 23 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


15. BANTEN: Pulau Sebuku, Sebesi dan Sangeang (Nilai: 3,29) Peringkat kemudahan menuju lokasi dinilai tinggi (3,58), demikian pula dengan nilai kepuasan sebanding biaya yang dikeluarkan (3,59).

”Wreck diving ekonomis dan menumbuhkan semangat belajar sejarah serta oseanografi perairan sekitar Sumatera,” kata Annelies Budiatmadja, responden asal Indonesia yang bekerja di Singpura.

Bisa dicapai dengan cara liveboard, bertolak dari Labuhan Anyer, Carita menuju Krakatau. Lantas menyisir menuju pantai Selatan Sumatera.

Sebesi dan Sebuku merupakan pulau vulkanik di utara Krakatau. Sebuku-Sebesi-Sangeang (Sanghyang) membentuk segitiga di atas perairan Selat Sunda.

Suguhan utama bisa dijumpai dekat pantai timur Sebuku: bangkai kapal Belanda, Evertsen, yang tumbang tak lama berselang dari HMAS Perth dan USS Houston dalam pertempuran Selat Sunda.

Dasar laut dari batuan basalt lava Krakatau menjadi daya tarik utama, ditambah aneka biota perairan. Seperti Kima raksasa (Tridacna Aquamosa), Anemon Clark (Amphiprion Clarkii), flatworm, nudibranch dan karang bercabang Acropora, Montipora, Fungia Simplex.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : BANTEN: Ujung Kulon

Kamis, 22 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


14. BANTEN: Ujung Kulon (Nilai: 3,47) Menempati peringkat cukup untuk kelestarian (3,60) dan tantangan (3,33).

”Banyak biota unik, kondisi bawah lautnya menyenangkan,” tukas Yulia Chandra, Jakarta. Dapat didatangi lewat darat arah Anyer diteruskan ke Taman Jaya, lanjut berperahu ke Pulau Peucang, Handeleum, Panaitan sampai Tanjung Layar dan Karang Copong.

Terumbu karang subur serta terowongan bawah laut jadi daya tarik utama. Ditambah penyu, bumphead parrotfish, barakuda dan hiu ujung sirip putih.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : BANTEN: Krakatau

Rabu, 21 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


13. BANTEN: Krakatau (Nilai: 3,54) Tantangan mencapai lokasi membuatnya terpilih sebagai favorit (3,73), juga layanan operator yang mengurusi titik penyelaman ini (3,44).

”Sensasi setelah menyelam di perairan yang hangat - karena ada aktivitas vulkanik - lalu naik ke permukaan dan menatap puncak Krakatau,” ungkap Candika Yusuf, Jakarta.

Dapat ditempuh dengan cara liveboard. Berangkat dari Pantai Carita (Anyer) malam hari dan lego jangkar pagi hari dimuka gunung Krakatau yang meletus dahsyat 26 Agustus 1883. Erupsi ini menciptakan gelombang tsunami serta meruntuhkan kaldera gunung apinya sendiri.

Rekahan batuan vulkanik hingga jejak lelehan lava menjadi daya pikat primadona titik penyelaman ini. Ditambah karang meja (Acropora sp). Selain moorish idols, kadang dapat ditemukan white tip dan black tip sharks, emperor angelfish, penyu hijau dan moray eel. Krakatau termasuk dalam kawasan Cagar Alam Laut Pulau Anak Krakatau.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : JAWA TENGAH: Kepulauan Karimunjawa

Selasa, 20 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


12. JAWA TENGAH: Kepulauan Karimunjawa (Nilai: 3,60) Faktor kemudahan menuju lokasi salah satu nilai tertingginya (3,74), diteruskan kepuasan dibanding biaya (3,79).

”Selain menyelam, juga berkemah di salah satu pulau selama 7 hari. Pengalaman tak terlupakan,” kenang Turunggo Sulasno, responden yang bermukim di Tembalang, Jawa Tengah.

Dapat ditempuh dari dua kota: lewat pelabuhan Tanjung Emas, Semarang atau Pantai Kartini, Jepara. Dengan ferry KMP Muria juga jetfoil KMC Kartini.

Primadona disini antara lain Triton Terompet (Charonia tritonis) dan Nautilus berongga (Nautilus pompillius). Lainnya, terdapat anakan hiu, penyu hijau, clown fish dan anemon. Juga alga hijau, cokelat dan merah serta padang lamun. Terumbu karang di Taman Nasional ini terdiri dari jenis karang tepi, penghalang dan lunak. Perairan Karimunjawa masuk dalam Taman Nasional Karimunjawa.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : NUSA TENGGARA BARAT: Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Nanggu

Senin, 19 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


11. NUSA TENGGARA BARAT: Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Nanggu (Nilai: 3,61) Mudah dicapai dari ibukota membuatnya disukai (3,91). Dan nilai tertinggi berikutnya didapat dari bagusnya layanan operator terhadap konsumen (3,84).

”Gili Trawangan hanya satu-satunya yang memiliki blue coral di dunia,” tegas Hendry, responden asal Jati Mekar, Jawa Barat.

Walau, karang lunak biru hanya dijumpai pula di Kepulauan Bangka-Belitung. Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air bisa ditempuh lewat laut dari pantai Senggigi atau dari Bangsal, Pemenang - dari Senggigi jalan darat menuju utara, arah Tanjung.

Sementara Gili Nanggu berada di bagian bawah Pulau Lombok, dari Pantai Senggigi atau ibukota Ampenan dan Cakranegara mengarah ke Pelabuhan Lembar. Semuanya berpantai pasir putih.

Ada program cangkok karang di tiga gili pertama. Masih ada pari manta (musiman), penyu, hiu, ikan badut, anemon, kerang duri (thorny oyster), nudibranch sampai flatworm.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : NANGGROE ACEH DARUSSALAM: Sabang

Minggu, 18 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


10. NANGGROE ACEH DARUSSALAM: Sabang(Nilai: 3,74) Merupakan lokasi penyelaman menantang (4,10) serta menyediakan wisata tambahan (3,13).

”Keanekaragaman hayati masih tinggi dan ada tantangan karena arus dan diving spot unik,” cerita Melissa A. Situmorang. Jakarta.

Perjalanan bisa dimulai lewat udara menuju Banda Aceh. Disambung Ferry ke Pulau Weh, dengan pusat kota bernama Sabang, berjuluk ’Kilometer Nol’ karena posisinya paling utara di kepulauan Nusantara.

Dari pantai Iboih atau Gapang, silakan bertandang ke taman laut Pulau Rubiah. Terumbu karang berkondisi apik belum terjamah serta profil topografi bawah laut bervariasi. Mulai pasir, jurang batuan vulkanik sampai kawah bawah laut dan wreck di sekitar Pelabuhan Sabang.

Satwa perairan atas seperti whale shark, pari manta, orca dan Mola-mola juga bisa ditemukan bergantung musim. Masih ada aneka bulu babi, bintang laut dan frog fish.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : KALIMANTAN TIMUR: Kepulauan Derawan

Sabtu, 17 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


09. KALIMANTAN TIMUR: Kepulauan Derawan (Nilai: 3,77) Dipilih untuk keindahan dan keragaman biota yang terkandung di dalamnya (4,28) serta masuk daftar lokasi yang ingin dikunjungi (4%)

”Tiap pulau memiliki ciri khas. Biota laut pun masih terjaga baik,” ungkap Sumarjito, Sulawesi Selatan.

Perlu waktu panjang untuk tiba disini. Ke Balikpapan disambung pesawat kecil menuju Berau atau Tanjungredep. Ditambah lagi transportasi laut ke Pulau Derawan lalu ke Sangalaki, 1 jam dari Derawan.

Ulah primadona kawasan ini, pari manta berbentang sayap 3,5 m melahap plankton di batas permukaan laut bisa dinikmati hanya dengan cara snorkeling.

Ada dinding dan cerukan dengan aneka biota. Nudibranch, flatworm, Titan triggerfish, barracuuda, Chromileptes alvites, batfish, kakap, glassfish, cardinal, spotted rabbitfish, penyu hijau (Chelonia mydas), whiite-tip shark dan basslet. Suguhan yang hanya punya saingan di Kepulauan Palau: ubur-ubur tak berpenyengat di danau pulau karang Kakaban, tak jauh dari Pulau Sangalaki.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : BALI: Pulau Menjangan, Bali Barat

Jumat, 16 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


08. BALI: Pulau Menjangan, Bali Barat (Nilai: 3,95) Ada dua nilai setara yang diraup, yaitu kelestarian lokasi (3,92) dan layanan memuaskan dari operator (3,92).

”Banyak situs menarik dan sensasi yang berbeda setiap kali menyelam walau di situs yang sama,” puji Budi A. Darmawan, Yogyakarta.

Lebih cepat mencapai titik penyelaman ini dari Ketapang (Banyuwangi) dan Gilimanuk (Negara) dibanding bermobil dari Sanur atau Kuta yang terletak di selatan dan timur.

Terumbu karang warna-warni, termasuk karang lunak dan bangkai kapal dimensi kecil merupakan andalan wisata bawah lautnya.

Biota lainnya: Sweetlips, goatfishes, mooorish idols dan kakap termasuk kerap dijumpai unicorn fish, longfin bannerfish, butterflyfish, masked bannerfish (Heniochus monoceros), lionfish (Pterois volitans) serta clownish polkadot groupers (Cromileptes altivelis) dan anemon bertentakel (Entactmaea quadricolor). Kawasan ini merupakan bagian dari Taman Nasional Bali Barat (TNBB).

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : SULAWESI TENGGARA : Wakatobi

Kamis, 15 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


07. SULAWESI TENGGARA : Wakatobi (Nilai: 4,00) Merupakan salah satu lokasi yang ingin di kunjungi penyelam (11%) serta unggul dalam soal keindahan dan keragaman bawah lautnya (4,55).

”Keanekaragaman biota laut dan karang umumnya masih terpelihara,” papar Boy Adhitya, Sorowako, Sulawesi Selatan.

Dari Kendari disambung perjalanan laut menuju Kepulauan Wakatobi yang merupakan akronim empat pulau – Wangi wangi, Kaledupa, Tomia, Binongko. Dulu dikenal sebagai Kepulauan Tukang Besi.

Suguhannya: atol tengah laut, terumbu karang keras dan lunak serta dinding (wall) dengan keragaman biota penyusun.

Dapat dijumpai Tubastrea, udang-udangan nudibranch dan pencil urchin. Terkadang, juga muncul dugong (Dugong dugon), sperm dan pilot whale, lumba-lumba hidung botol (bottlenose dolphin), sementara di daratan ada kepiting kelapa serta burung maleo.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : BALI: Nusa Penida, Lembongan

Rabu, 14 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


06. BALI: Nusa Penida, Lembongan (Nilai: 4,02) Menempati peringkat tinggi bagi ketersediaan wisata tambahan (3,18) dan tantangan saat menyelam (3,95).

“Banyak pilihan drift diving (selam di arus deras),” alasan Margareta W. Artanti, Jakarta.

Terbang ke Denpasar lantas menyeberang dengan kapal untuk tinggal di Nusa Penida. Bisa juga menginap di Sanur atau Nusa Dua dan bertolak ke titik penyelaman setiap hari.

Yang diunggulkan; salah satu tempat untuk menyaksikan mola-mola, pari manta dan hiu. Dengan terumbu karang di area drop-off serta cerukan. Giant Moray, penyu hijau (Chelonia mydas), si bibir tebal, kuwek, mackerel dan tuna, Nemo si clown fish, aneka ikan kecil dan karang warna warni membuat roller coaster bawah laut disini begitu memukau.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : BALI: Tulamben

Selasa, 13 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


05. BALI: Tulamben (Nilai: 4,05) Menempati peringkat teratas untuk layanan operator (4,12) dan kemudahan menuju lokasi (4,17)

“Titik penyelaman sangat dekat pantai. Wreck diving bagus, meski kadang crowded di bawah,” kata Johannes Suryo, Surabaya.

Inilah kesempatan memasuki kedalaman laut dengan berjalan dari pantai, tak perlu terjun dari dermaga atau kapal. Lewat Pantai Tulamben berbatu dan pasir hitam hasil muntahan Gunung Agung, yang terakhir kali erupsi pada 1963.

Tujuan utama berada 30 m dari pantai, di kedalaman mulai 3 m: bangkai kapal Liberty dari PD II. Merupakan Wreck diving termudah dan teraman didunia. Cobalah menyelam malam saat purnama dilanjutkan menikamati Tulamben Wall ditemani moray (Gymnothorax melanospilos), belut (Heteroconger hassi), Napoleon wrasse, barakuda, sunfish (Mola mola), udang karang (Enoplometopus debelius), karang hitam (Antiphens sp) dan gerombolan ikan kuwek. Saat musim mola-mola dan angin timur, lokasi ini sangat ramai.

Untuk wisata tambahan, tersedia begitu banyak pilihan. Mulai Tulamben hingga ke arah Denpasar, dapat ditemui pula, gua, lanskap dan pedusunan cantik alami.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : SULAWESI UTARA: Kepulauan Bunaken, Manado

Senin, 12 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


04. SULAWESI UTARA: Kepulauan Bunaken, Manado (Nilai: 4,14) Kemudahan untuk menuju lokasi membuatnya terpilih sebagai salah satu situs selam terbaik (4,09). Termasuk peringkat atas untuk daftar lokasi yang ingin dikunjungi penyelam (13%).

“Keanekaragaman penghuni lautnya begitu kaya. Keindahannya pun tak diragukan lagi,” papar Syamsir M. Saputra, Kalimantan Selatan.

Perjalanan diawali dari Manado, dilanjutkan berperahu ke Pulau Bunaken, bersauh di Pantai Liang atau Pangalisang.

Bila tak ingin menjadikan pulau-pulau itu sebagai markas selama penyelaman, bisa memilih tinggal di beberapa desa pesisir dekat Manado, seperti Tongkaina dan Molas. Lalu berperahu tiap hari ke titik penyelaman.

Suguhan utama adalah di dinding curang (drop-off) hanya beberapa meter lepas pantai Liang. Terumbu karang tergolong sehat. Napoleon wrasse, bumphead parrotfish, lepu ayam, lepu batu, tuna, kerang raksasa Tridacna, kuda laut kerdil (Hippocampus bargibanti), karang (Cirrhipathes spiralis) dan ikan purba Ceolacanth (Latimeria menadoensis) bisa ditemui dibagian dari kawasan Taman Nasional Laut Bunaken – Manado Tua (TNLB) ini.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : SULAWESI UTARA: Selat Lembeh, Bitung

Minggu, 11 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


03.SULAWESI UTARA: Selat Lembeh, Bitung (Nilai: 4,19) Nilai tertinggi didapat dari sektor kepuasan dibanding biaya (4,52). Nilai tinggi kedua diberikan untuk layanan operator yang memuaskan pengguna jasa wisata penyelaman (4,09).

“Banyak biota aneh yang jarang ada di tempat lain,” kata Ria Qorina Lubis, Jakarta.

Bisa ditempuh dari Manado ke pelabuhan Bitung, dengan tambahan ekowisata Tangkoko-Batuangus-Dua Saudara. Kediaman satwa langka Tarsius, burung Maleo dan monyet hitam – yang kerap disebut sebagai ‘yaki’ oleh penduduk lokal.

Pantainya berpasir hitam, karena berasal dari batu vulkanik. Selat lembeh terkenal untuk “muck diving”, menyelam sambil jeli mengamati dan mencari-cari para biota penyamar di dasar pasir. Seperti aneka kuda laut, frog fish, mandarinfish (Synchiropus splendens), bobtail squid (Euprymna), gurita, belut ular, nudibranch – siput laut tak bercangkang, udang-udangan, hermit crab (Trizopagurus) sampai ikan capungan banggai (Pterapogon kauderni), ikan sebelah dan anemon (Actinodendron). Surga bagi Fotografi bawah laut jenis makro.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia


Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : NUSA TENGGARA TIMUR : Komodo Rinca

Sabtu, 10 Oktober 2009

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA


02. NUSA TENGGARA TIMUR: Komodo Rinca (Nilai: 4,23) Dipilih karena nilai tantangan dan kesulitan tinggi untuk tiba dilokasi bawah air (4,42) dan menempati peringkat kedua setelah Raja Ampat untuk soal kelestarian lokasi (4,24).

“Lokasi yang komplit, dengan keanekaragaman terumbu karang dan biota laut berpadu arus kuat menjadi tantangan tersendiri,” ujar Fajar Anshori, Jakarta, salah satu responden dari survey yang digelar Litbang NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER INDONESIA.

Untuk mencapai lokasi, silahkan ambil penerbangan Denpasar, lanjut pesawat kecil ke Labuan Bajo. Dari sana, pilih liveaboard atau perahu motor ke titik penyelaman.

Atraksi Utamanya hiu paus, pari manta, aneka bentukan atau formasi dasar laut sampai dinding dan cerukan terumbu karang. Warna-warna indah menjadikan suasana bawah laut makin cantik. Pari manta bintik putih mirip elang (Aetobatis narinari) berbentang sirip 2,3 m bisa ditemukan di perairan ini. Apel laut atau tripang merah (Pseudocolchirus violaceus), spotfin lionfish (pteoris antennata), firefish (Nemateleoris magnifica), Napoleon wrasse dan moray eels (Gymnothorax fimbriatus) juga ada. Kawasan ini merupakan bagian dari Taman Nasional Komodo dan rumah bagi satwa purba komodo (Varanus komodoensis) yang tengah di calonkan untuk menjadi satu dari New 7 Wonders of Nature.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA : PAPUA

Jumat, 09 Oktober 2009

16 LOKASI PENYELAMAN TERBAIK INDONESIA
Indonesia Best Diving Site/Location

Panorama surga bawah laut yang memukau, mendorong penyelam lokal dan asing untuk datang lagi.
Responden NG TRAVELER Indonesia memilih dan menilai peringkatnya.
Oleh CHRISTIANTIOWATI dan MANGGALANI R UKIRSARI,
Sumber data: LITBANG NG TRAVELER INDONESIA

01. PAPUA: Kepulauan Raja Ampat (Nilai: 4,23) Responden memberikan nilai tertinggi untuk keragaman dan keindahannya (4,81) serta kelestarian lokasi. Sekaligus menjadi impian para penyelam yang belum pernah berkunjung kesana (36%).

“Kehidupan bawah laut belum terganggu dan saya berharap akan demikian seterusnya. Lokasi tepat untuk menikmati ikan, terumbu karang dan relik dari Perang Dunia II,” kata responden Daniel Abimanju Carnadie, jakarta.

Dari Jakarta, peminat mesti melintasi dua zona waktu dangan penerbangan lebih dari 7 jam untuk tiba di Sorong, gerbang taman laut gugus 610 pulau yang berlokasi di depan kepala burung Papua. Lebih dari 540 jenis karang keras (75% jenis karang keras dunia), 1.000 jenis ikan karang dan 700 jenis moluska siap dieksplorasi dan dinikmati keindahannya.

Liputan menyeluruh soal Raja Ampat pernah dibuat oleh NATIONAL GEOGRAPHIC yang dilakukan oleh David Doubillet. Mengambil materi dunia bawah laut, berdasar fakta kelengkapan biota laut di Raja Ampat.

Beberapa daya tarik utamanya : karang dinding berposisi hampir vertikal, laguna dengan kanal-kanal, gua sampai aneka hiu jinak. Dari si mini “Papuan Epaulette” sampai hiu karpet “Wobbegong Shark”, “pigmy seahorse” seruas kelingking hingga pari hantu dengan bentang sayap mencapai 5m, “Napoleon Wrasse” dan barakuda masih mudah ditemui.

Sekitar 65 bangkai kapal dan 35 bangkai pesawat peningglan PD II makin memperkaya dunia bawah laut Raja Ampat. Pesona bawah laut Kepulauan Raja Ampat mampu ‘membius’ para penyelam, hingga tak sempat melakukan kunjungan darat lebih jauh lagi. Padahal, kondisi alam papua yang cantik sayang bila dilewatkan. Contohnya bertandang ke Pulau seperti Misool, Batanta dan Salawati.

Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER Indonesia



Read More / Baca Selengkapnya....

WISATA BAWAH AIR

Rabu, 07 Oktober 2009

Kepulauan Indonesia sungguh beruntung berada di jantung Segitiga Terumbu Karang (The Coral Triangle) antara Filipina, Papua Nugini, Solomon, Fiji, Australia utara. Keistimewaan keanekaragaman hayati laut seluas 5,7 juta km2 ini setara kekayaan hutan Amazone.
Keindahan alam bawah laut tanah Air itu telah mengundang pejalan lokal dan asing untuk menikmati dengan menyelam bahkan snorkling. Selam, cabang olahraga yang awalnya dinilai eksklusif oleh sebagian masyarakat Indonesia, telah berkembang pesat. Penyediaan peralatan dan layanan wisata selam oleh dive operator sampai tenaga lepas pemandu selam turut meramaikan industri pariwisata selam negeri kita.

Dalam seminar nasional tentang pengembangan wisata bahari di Bali pada 2002, Cipto Aji Gunawan, seorang PADI Course Director mengungkapkan, bahwa potensi industri wisata selam Indonesia minimal tiga kali lebih besar dari pada Thailand. Untuk lokasi penyelaman, Indonesia memiliki 34 dan Thailand 13 saja. Ini tanpa memperhitungkan calon lokasi-lokasi selam di Indonesia yang belum dijelajahi atau diusahakan, serta pembelian peralatan, pengeluaran biaya kursus dan efek bola salju terhadap pelesatarian lingkungan.

Tapi data membanggakan itu tidak berdiri sendiri. Pelaku individu sampai tingkat individu sampai tingkat pemerintahan mesti berbenah. Dengan lokasi penyelaman kurang dari setengah jumlah di Indonesia, Thailand mampu meraup 128-240 juta dolar AS, bandingkan dengan indonesia yang berkisar 13,28-24 juta dolar AS. Cipto menaksir berdasarkan sifat Thailand dan Indonesia yang lebih sebagai daerah tujuan penyelaman, dibanding sebagai daerah asal penyelam. Lewat asumsi itu Indonesia ditaksir bisa meraup 507-960 juta dolar AS lewat penginapan, selam dan kegiatan lain yang berhubungan langsung dengan penyelaman, bahkan kegiatan tambahan pengisi jeda sebelum laik terbang setelah penyelaman berakhir.

NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER INDONESIA baru saja menggelar angket yang bertujuan memeringkatkan lokasi penyelaman terbaik di Indonesia. Meliputi faktor keindahan dan keragaman, tantangan penyelaman, ketersediaan wisata tambahan, pelayanan, nilai kepuasan dibanding biaya, kelestarian lokasi dan kemudahan menuju lokasi. Rata-rata nilai (skor) dari skala 1 (sangat tidak bagus) hingga 5 (sangat bagus).

Kami melibatkan pelaku penyelaman melalui survei online di http://www.nationalgeographic.co.id/sub/survey/ (16 Maret hingga 1 April 2009) serta angket dalam Deep Indonesia (27-29 Maret 2009) di Balai Sidang Jakarta. Lewat metodologi purposive sampling (wakil tepat sasaran), sampai batas akhir penelitian menjaring 421 responden. Dengan profil demografis, usia rata-rata 30 tahun, pria 71% dan wanita 29%, sebesar 64% merupakan penyelam bersertifikat dari lembaga PADI (43%).

Berikut ini peringkat lokasi penyelaman terbaik Indonesia 2009 hasil survei Litbang NG TRAVELER INDONESIA. Selengkapnya, kunjungi http://www.nationalgeographic.co.id/sub/hasil survey.




LAYANAN WISATA BAHARI

Layanan operator dan pemerintah terkait sangat menyokong keberlangsungan tujuan wisata bahari. Simak angka pemeringkatan survey penyelaman kami di bawah ini:

Keindahan dan keragaman: (4,81)
Kepuasan dibanding biaya: (4,52)
Tantangan Penyelaman: (4,42)
Kelestarian lokal: (4,35)
Kemudahan menuju lokasi: (4,17)
Pelayanan: (4,12)
Tersedia wisata tambahan: (3,85)

Hal yang melibatkan sumber daya manusia secara langsung ada diperingkat rendah, yaitu berdasar pelayanan (4,12). Bila nilai ini dapat didorong ke peringkat atas, tentu akan memberikan nilai positif terhadap kelanjutan wisata bahari.


Sumber :
NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER INDONESIA

Read More / Baca Selengkapnya....