1001 Warna Teluk Jakarta

Senin, 26 Oktober 2009

Anciol, Angiol, Anschiol, Ansjol, Antsyol, Anjool…
Tak hanya berubah nama, kawasan wisata modern di utara ibikota Jakarta ini pun berubah warna.

Transjakarta Busway yang saya tumpangi merapat di halte Ancol. Saat pintu bus tersingkap, udara hangat kawasan Teluk Jakarta sontak menerpa kulit. Pagi baru menjelang dan matahari belum menebar terik. Silau datang dari polesan cat oranye nyala pada dinding halte. Sungguh kontras dengan hitam pekat kanal ciliwung. Perjalanan berlanjut dengan shutle bus Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) menyusuri talet warna Ancol, gambaran sejati evolusi kawasan ini.

Bila di runut, kawasan yang secara administrative masuk dalam wilayah kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Kota Jakarta Utara itu sudah ada sejak abad ke -16. Pada masa itu, kawasan yang terletak di sebelah timur Kota Tua Jakarta, berbatasan dengan pelabuhan Sunda Kelapa di sebelah barat dan Pelabuhan Tanjung Periok di sebelah timur ini merupakan kawasan favorit rumah peristirahatan orang-orang kaya Belanda. Salah satunya, rumah peristirahatan halaman besar milik Gubernur Jenderal Hindia, Adrian Valckenier.

Hingga kini, masih samar diketahui asal usul nama kawasan Ancol. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ancol berarti tanah yang menjorok ke laut: Tanjung. Sumber lain menyebut, nama Ancol berarti tanah rendah berpaya-paya atau payau. Sementara buku “Nederlands Oost-Indie: of, Beschrijving der Nenderlansche bezittingen in Oost-Indie” yang di tulis oleh A. J. Vander Aa (1849), menuliskan bahwa Antjolschevaart atau Ansjol atau juga Anjol, yang dahulu di ucapkan oleh orang Inggris sebagai Angiol. Merupakan terusan atau kanal yang namanya di ambil dari nama pos pertahanan Ancol. Dahulu orang-orang Belanda, memecah-mecah aliran sungai Ciliwung menjadi kanal-kanal agar dapat merasakan aliran air yang melintasi rumah mereka seperti negeri asalnya.

Saat shuttle bus melewati Dermaga Marina Ancol, tempat bersandarnya kapal dan yatch dengan tujuan ke pulau-pulau kawasan wisata di kepulauan Seribu, ingatan saya segera mengembara, mengingat kisah tentang daerah tetangga di sisi barat kawasan Ancol, Sunda Kelapa yang dahulu merupakan pelabuhan utama milik Kerajaan Hindu Sunda Pakuan Pajajaran. Pada abad ke - 11 hingga 16, Sunda kelapa telah di labuhi kapal-kapal dari Palembang, Tanjung Pura, Malaka, Makassar, dan Madura bahkan juga kapal-kapal dari India, dan Cina (Heuken, 1982).

Sementara Ancol sendiri hanya di anggap kawasan rawa-rawa dan hutan bakau yang tidak potensial. Meski begitu, Ancol mampu menjadi kawasan penyangga yang berkembang mengikuti perkembangan kawasan Sunda Kelapa.

Menjelang pertengahan abad ke-16, terjadi peristiwa penting di sini. Nama Ancol tercatat dalam Koropak 406, cerita parahiyangan yang di tulis dengan aksara Sunda di atas lembar daun lontar, sebagai salah satu ajang peperangan Prabu Surawisesa, penguasa Kerajaan Hindu sunda pakuan pajajaran.

…Disilihan inya ku prebu Surawisesa, iny nu surup ka padaren, kasuran, kadiran, kuwamen. Prangrang lima welas kali hanteu eleh, ngalakukeun bala sariwu. Prangrang ka Kalapa deung Aaria burah. Prangrang ka Tanjung. Prangrang ka Ancol kiyi….

Pelabuhan Sunda Kelapa milik Kerajaan Hindu Sunda Pakuan Pajajaran merupakan pusat perdagangan dan pertahanan strategis. Tak heran jika kerajaan Islam Banten, Cirebon, dan Demak berulang kali coba merebut Pelabuhan Sunda Kelapa. Dan Ancol, merupakan salah satu daerah kunci yang memegang peranan penting dalam segi pertahanan dari pihak musuh yang ingin merebut pelabuhan ini dari arah timur, menyusup dari arah rawa-rawa dan hutan Ancol menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Oleh karena itu, Sang Prabu berperang di sini untuk menghalau musuh, demi mempertahankan wilayah pelabuhannya yang strategis.

Beberapa tahun kemudian, armada Portugis tiba di Sunda Kelapa. Kerajaan Hindu Sunda Pakuan Pajajaran menyambut baik Portugis, dan berharap Portugis dapat membantu menghadapi serangan kerajaan Islam Banten, Demak dan Cirebon, seiring menguatnya pengaruh Islam di pulau Jawa. Ternyata gabungan kekuatan Kerajaan Islam Banten, Demak, dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah berhasil mengalahkan Kerajaan Hindu Sunda Pakuan Pajajaran dan Portugis. Pada 22 Juni 1527, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, berarti, “Kemenangan yang nyata.” Usai Fatahillah menguasai Sunda Kelapa, kawasan rawa-rawa dan hutan Ancol pun ditinggalkan, dan menjadi sepi tanpa cerita.

Memasuki abad ke-17, Belanda datang, dan dalam waktu singkat berhasil menguasai Jayakarta. Dikisahkan sejarawan Adolf Heuken dalam Historical Sites of Jakarta (1982), Belanda di bawah komando Jan Pieterszoon Coen menggempur habis Jayakarta dan Pelabuhan Sunda Kelapa, lalu menamakannya Batavia. Wajahnya di buat mirip kota-kota di Belanda. Menurut A.W.P. Weitzel dalam buku Batavia in 1858: Schetsen en beelden uit de hoofdstad van neerlandsche Indie (1860), rumah-rumah bergaya Eropa mulai dibangun di sepanjang tepi kanal di Ancol. Selain berfungsi sebagai saluran Sungai Ciliwung, kanal berguna sebagai pertahanan yang mengelilingi kota.

Seiring perjalanan waktu, Batavia makin berkembang. Selain rumah, kastil, dan kanal, orang-oarang Belanda juga membangun benteng. Salah satunya, Fort Zoutelande yang di bangun di Ancol pada 1656. Zoutelande atau Zoute land, berarti tanah asin. Karena dulu bila laut pasang, air payau kali Ancol berbalik ke darat menggenangi tanah sekitarnya hingga terasa asin. Kini, kondisi benteng ini terabaikan. Rumput dan tanaman liar saling berjejalan. Tak hanya itu, barang-barang milik warga setempat juga menyesaki sela-sela bongkahan benteng yang tersisa. Terlihat makin muram.

Nyatanya, dalam berbagai literature sejarah Ancol berbahasa Belanda, kisah muram telah berkawan dengan kawasan ini sejak lama. Pada awal abad ke-19, saat pemerintahan William Deandels (1808-1811), Batavia ditinggalkan karena kondisi kesehatatan di kawasan ini buruk. Pada saat itu, wabah kolera dam malaria merebak di Batavia dan sekitarnya. Sementara kawasan Ancol yang sudah menjadi bagian dari Batavia juga turut di tinggalkan karena genangan air kanal-kanal dan muara di sekitarnya dianggap sarang malaria. Kawasan elit Ancol menjadi sepi.

Tak terasa, Shuttle bus yang saya tumpangi telah melintasi ujung kawasan pantai Ancol. Jauh dari keriuhan karena rekreasi wisata, di dataran yang agak menjorok ke laut, tampak diam jejeran tonggak-tonggak kayu-kayu putih tertata rapi. Itulah kompleks Taman makam kehormatan Belanda atau Ereveld Ancol. Di taman makam pahlawan ini dimakamkan sekitar 2.000 jasad tentara Belanda yang di eksekusi Jepang di Ancol dan beberapa daerah lainnya, Banjarmasin, Makassar, dan Mandor. Di sebelah kanan monument, terdapat pohon Mindi yang di sebut Pohon Surga atau Hemellboom (Ailanthus excelsia). Pohon yang menjadi saksi pelaksanaan eksekusi yang di lakukan tentara Jepang. Menurut saksi mata, kebanyakan eksekusi dilaksanakan di bawah pohon ini.

“ Ini tempat yang paling emosional di Ancol. Kisah sedih tak pernah lekang dari sini,“ tutur Steenmeijer, Direktur Oorlogsgravenstichting (OGS), instansi resmi pemerintah Belanda yang mengurusi makam Ereveld Ancol. Karena itu, Steenmeijer meminta agar siapapun yang datang ke makam, menunjukkan siap hormat dan santun, serta bersedia menaati segenap peraturan, salah satunya tidak memotret nama pada tonggak putih. ”Karena hal itu sangat sensitive, terutama bagi keluarga yang di tinggalkan,” lanjut Steenmeijer, sambil menambahkan bahwa makam ini merupakan situs tertua di Ancol, yang sudah ada jauh sebelum dibangun tempat rekreasi, kawasan industri dan perumahan.

Benar yang dikatakan Steenmeijer. Tempat itu paling emosional. Duka seketika membersit, saat saya mengamati tonggak-tonggak putih di sini. Tak terbayang, bagaimana keadaan tempat ini pada masa awal pendudukan Jepang. Ketika itu banyak orang asing (Belanda, Inggris, Australia) termasuk pribumi, baik sipil maupun militer, laki-laki dan perempuan, bahkan anak-anak yang melawan pemerintah pendudukan Jepang dieksekusi di sini. Kemudian mayatnya dikuburkan secara massal tanpa nama di kawasan rawa-rawa berlumpur sekitar Ancol. Hingga di kemudian hari, kuburan massal itu di gali dan jenazah dimakamkan kembali di peristirahatan terakhir Taman Makam Kehormatan Belanda atau Ereveld Ancol, dikawasan timur TIJA.

Taman Makam Kehormatan Belanda itu sering dilanda banjir, karena letaknya yang lebih menjorok ke laut di banding pantai sekitarnya. Pada awal 2009, makam ini kembali digenangi banjir air laut hingga sebatas lutut orang dewasa. Menurut Tjiptadi, kuncen makam, sungguh tak mudah membersihkan satu per satu tonggak-tonggak putih dan monument dari lumpur yang terbawa saat banjir.

Namun berkat kerja keras tim OGS, makam kembali asri dengan hamparan rumput hijau, dan bunga berwarna pink bermekaran. “Benteng” dam setinggi hampir 2 meter telah dibangun pemerintah Belanda untuk menahan luapan air laut. Makam tetap tegar, sekaligus menjadi saksi perubahan perkembangan pembangunan kawasan Ancol dari masa ke masa.

Pada masa orde lama, di awal 1960-an, muncul usulan agar kawasan Ancol difungsikan menjadi daerah industri. Namun, ditolak oleh presiden Soekarno. Presiden pertama RI yang kerap di sapa Bung Karno ingin membangun kawasan itu sebagai daerah wisata. Lewat Keputusan Presiden pada akhir Desember 1965, Bung Karno memerintahkan kepada Gubernur DKI Jaya waktu itu, dr. H. Soemarno Sosroatmojo, sebagai pelaksana pembangunan proyek TIJA. Proyek pembangunan ini baru terlaksana di bawah pimpinan Ali Sadikin yang ketika itu menjadi Gubernur Jakarta. Pembangunan TIJA dilaksanakan PD Pembangunan Jaya di bawah pimpinan Ir. Ciputra alias pak Ci. Pembangunan ini tentu saja membuat Ancol yang semula muram, menjadi kian berwarna. Wajah Ancol yang tak lagi “seram” juga menarik minat kawanan burung untuk singgah.

“Dulu ada sekitar 20 jenis burung di sini (Ancol). Kami sering memberi mereka makan,” kenang pak Ci, yang selama hampir 30 tahun menjabat sebagai Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk. Meski giat membangun Ancol dengan prinsip Green architecture, tapi pak Ci tetap mempertahankan eksotisme khas pesisir: burung-burung berkeliaran, pohon kelapa berjajar, serta perahu tradisional nelayan bersauh dan berlayar, sayangnya, pak Ci tak mampu mempertahankan keberadaan burung-burung itu, karena pemda setempat tak ingin wabah flu burung semakin meluas.

Decit burung-burung pun akhirnya berganti dengan deru mobil-mobil disirkuit dan teater mobil (drive-in) yang menjadi ciri khas kawasan wisata Ancol di masa awal berdirinya pada tahun 1970-an. “Tapi tak banyak orang yang tahu, bahwa di Ancol dulu juga pernah ada arena pacuan kuda,” papar Yj. Harwanto, Kepala Departemen Korporate Plan PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk. Tapi karena dianggap bising dan menebar polusi suara, akhirnya sirkuit dan teater mobil di tiadakan, begitu juga dengan arena pacuan kuda. Berikutnya berturut-turut dibangun Gelanggang Samudera dan penginapan Putri Duyung dan tempat hiburan Copacabana yang ditutup pada April 1981 serta dijadikan hotel.

“Kami ingin menjadikan Taman Impian Jaya Ancol sebagai sarana rekreasi bagi keluarga. Karena itu, segala tempat dan kegiatan yang berkonotasi negative, kami tiadakan,” jelas Ir. Budi Kaarya Sumadi, Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk. Sarana rekreasi berikut yang dibangun semakin mempopulerkan keberadaan Taman Impian Jaya Ancol, tidak saja dikalangan masyarakat ibu kota, tetapi juga seluruh Indonesia dan bahkan Asia Tenggara. Pedagang kaki lima ditata, hotel dibangun, lapangan golf, beragam permainan dan wahana di hadirkan.

Pengunjung TIJA dapat bersantai menikmati terpaan angin laut di beberapa pantai yang tersedia di sini, seperti pantai Bina Ria yang dulu di kenal sebagai daerah Sanggerlang atau Singerland, juga yang terbaru, Pantai Karnaval. Pada tahun-tahun berikutnya pengadaan sarana rekreasi dan hiburan di arahkan pada sarana hiburan berteknologi tinggi. Hal ini telah dimulai dengan dibangunnya Dunia Fantasi tahap I pada 1985, termasuk Bianglala, Balada Kera, Istana Boneka, dan Rollercoaster Halilintar.

Dimasa sekarang TIJA yang berdiri pada lahan seluas 552 hektar, telah menjadi tempat wisata dan rekreasi terbesar dan terlengkap di Indonesia. Tidak mengherankan apabila pengelola kawasan wisata terpadu yang menggabungkan hiburan dan pendidikan ini mengubah namanya menjadi Ancol Jakarta Bay City, serta rutin menggelar berbagai kegiatan bersifat Edutainment, mulai konser hingga kemping. Selain mempertahankan bangunan bersejarah, pihak TIJA juga melestarikan budaya dan kuliner. Pada saat liburan terutama malam tahun baru, pengunjung membludak 300 ribu orang perhari.

Perjalanan dengan shutle bus akhirnya berhenti sampai di kawasan ke arah timur, dekat benteng Ancol, monument raksasa. Saya melangkahkan kaki keluar kawasan rekreasi, menuju kawasan perumahan Taman Impian Timur, di ujung jalan Pantai Sanur 5, Jakarta Utara. Di sini terdapat sebuah klenteng tertua di Jakarta, disamping klenteng besar di daerah pecinan Glodok Jakarta Barat. Klenteng Jin De Yuan. Karena terletak di daerah Ancol maka klenteng legendaries ini di kenal dengan nama klenteng Ancol atau Vihara Bahtera Bhakti.

Pada awalnya klenteng ini dibaktikan kepada Da Bo Gong (Dewa Tanah) dan Fu-de Zheng Shen (dewa bumi). Namun, lama-kelamaan hanya berfungsi sebagai tempat untuk pemujaan dewa tanah dan selanjutnya menjadi tempat untuk pemujaan juru masak Cheng Ho yang bernama Sam Po Soei Soe. Tokoh ini di duga memiliki nama asli Wu Bin, seorang pegawai Cheng Ho yang beragama Islam dan meninggal di tempat itu.

Tidak ada keterangan pasti kapan di bangunnya klenteng ini. Menurut Heuken dalam bukunya Historical Sites Of Jakarta. Mengutip Artikel Adries Teisseire, 1792 yang menuliskan,” Ini (klenteng Ancol) adalah klenteng Cina tertua yang didirikan pada pertengahan abad lalu.” Berarti sekitar 1650-an. Sumber lain menyebut klenteng Ancol berhubungan dengan kunjungan Admiral Sampo (Zheng He) dari dinasti Ming pada tahun 1371.

Kisah yang beredar di masyarakat setempat mengenai orang yang bernama Sam Po Soei ini menarik. Konon, sebuah kapal dari kekaisaran Cina, Sam Po Kong, yang rusak terpaksa berlabuh dikawasan rawa-rawa Ancol. Seorang awak kapal, juru masak kapal bernama Sam Po Soei Soe turun ke darat untuk melihat pertunjukkan ronggeng. Ia tertarik melihat pertunjukkan itu dan jatuh hati pada penari bernama Sitiwati.

Karena terpesona akan sang penari tanpa disadari kapal sudah selesai diperbaiki dan ia tertinggal di Ancol. Syahdan, karena ditinggalkan rombongan, ia mendatangi orang tua Sitiwati, seorang muslim alim yang bernama Embah Said Areli dan Ibu Enneng untuk melamar anaknya. Lamaran disetujui dan pernikahan pun di laksanakan. Namun, saat pernikahan, sebagai seorang muslimah, Sitiwati meminta suaminya untuk tidak memakan daging babi karena haram, sedang suaminya meminta Sitiwati untuk tidak memasak jengkol atau petai karena kebanyakan orang Cina tidak menyukai makanan beraroma khas ini. Dari peristiwa itu, daging babi, petai dan jengkol ditaburkan untuk sesaji di klenteng Da Bo Gong.

Dari balik teralis jendela klenteng, saya melihat awan putih pucat menggelayut. Pertanda tak lama lagi bulir-bulir hujan berjatuhan. Saya tinggalkan bangunan klasik yang di penuhi polesan warna merah itu, dan bergegas menuju di halte Trans Jakarta Busway. Menyudahi perjalanan di Ancol yang penuh warna.

Sumber :
National Geographic Traveller Indonesia




*****
Related Posts by Categories