Nasi Liwet Yu Sani

Jumat, 30 Oktober 2009

DIMASAK 9 JAM, “BERANI” SANTAN

Di Kota Solo banyak sekali penjual nasi liwet.Tak mengherankan karena nasi liwet memang ikon kuliner dikota ini. Masakan ini konon dulu merupakan menu khas istana Keraton Surakarta. Dari sekian banyak penjual nasi liwet, tak berlebihan bila kita menempatkan nasi liwet Yu Sani pada daftar urutan atas yang harus dikunjungi.

Warung ini berada di luar kota Solo tepatnya di kawasan pertokohan Solo Baru, daerah satelit kota Solo yang sudah masuk Kabupaten Sukoharjo. Jaraknya sekitar dua kilometer dari pusat kota Solo. Dari arah Solo, warung tenda Yu Sani berada di kiri jalan setelah bundaran air mancur. Tempat duduk lesehannya bersih dan nyaman.

Keistimewaan nasi liwet Yu Sani adalah rasanya yang super gurih, baik nasi maupun sayuran dan daging ayamnya, gurih tapi tidak enek. Kegurihan nasi liwet Yu Sani dikerenakan “keberanian“ menggunakan santan kelapa. Untuk memproses 30 kg nasi, 25 ekor ayam, dan 50 kg labu siam, Yu Sani berani mengunakan 50 butir kelapa. Itu baru gurih dari santannya, belum rasa gurihnya dari bumbunya lain seperti daun salam, bawang merah, bawang putih, dan sebagainya.

Kuah nasi liwet Yu Sani juga tidak berisi gerusan kulit cabai seperti pada umumnya nasi liwet. Ini dikerenakan Yu Sani hanya menggunakan air cabai. Saat memasak, lombok yang di ulek tangan tak ikut dimasukkan sebagai bumbu, melainkan disaring terlebih dahulu. Ini yang membuat rasa kuah sayur jepan (lubu siam) Yu Sani lebih lembut meski warnanya kuning kemerah-merahan. Kalau anda penggemar pedas, silakan ceplus saja lombok kukus yang disediakan di meja.

Selain rasanya lembut, kuah sayur jepan Yu Sani juga gurih karena berasal dari air santan ditambah kaldu ayam kampung. Pekat sekali. Labu siam ini adalah satu-satunya jenis sayuran yang tersaji di nasi liwet. Yu Sani selalu memilih jepan yang segar sebelum diiris kecil-kecil. Untuk 50 kg sayur jepan, Yu Sani menghabiskan 1,5 kg bawang merah dan bawang putih sebagai bumbu. Semuanya ditumbuk dengan cobek besar secara manual, tidak menggunakan blender.

Satu porsi nasi liwet terdiri atas nasi gurih, sayur jepan, tempe bacem, tahu bacem, telur pindang, kuning telur kukus, dan suwiran daging ayam. Isinya cukup lengkap. Tak lupa pula areh atau klumud, endapan santan campur putih telur yang kemudian dikukus setelah ditambah garam.

Jika daging ayam masih kurang, Anda bisa minta tambah. Pilihannya mulai dari dada , paha, brutu, kepala atau ampela. Daging ayamnya di jamin empuk dan gurih. Padahal ayamnya jenis ayam kampung yang terkenal alot. ”Kami memilih ayam yang masih muda/ belum bertelur,” kataYu Sani.

Selain ayamnya masih muda, cara memasaknya pun ikut menentukan keempukan daging. Yu Sani merebus ayam selama lima jam dari pukul 09.00-14.00 WIB. Ayam-ayam pilihan itu direbus dengan bumbu lengkuas, daun salam, jahe, kunyit, dan sebagainya. Setelah empuk, diangkat. Sisa air rebusan daging ayam yang sudah berbumbu itu digunakan sebagai kuah sayur jepan dengan ditambah air santan.

Yu Sani menghabiskan waktu hingga sembilan jam untuk menyelesaikan pekerjaannya membuat nasi liwet. Yang paling lama adalah proses memasak ayam. Berbeda dengan nasi uduk yang juga gurih, nasi liwet jauh lebih gurih. Selain diberih santan hingga terlihat berminyak, nasi gurih ini ditanak dengan diberi bawang merah dan putih yang diiris kecil-kecil. Semua proses memasak itu dilakukan dengan kayu bakar.

Nasi gurih ditempatkan dipanci yang dilapisi daun pisang. Bukan daun pisang segar melainkan layu oleh panasnya uap air. Baunya kas karena bekas dipakai mengukus telur dan lombok. Nasi liwet ini disajikan diatas daun pisang yang dibuat pincut. Karena belakangan daun pisang susah didapat, Yu Sani menyiasati dengan memakai piring tetapi tetap dilapisi daun pisang. ”Kalau minta pincuk, Ya dikasih pincuk,”Katanya.

Sumber :
Intisari Khusus


*****
Related Posts by Categories