Hotel yang melekat pada ingatan menampilkan sesuatu dan watak kuat, mengesahkan dengan karya seni atau benda antik bernilai sejarah dan budaya.
Paling tidak sejak paruh kedua abad ke-19, dengan munculnya Grand Hotel Du Louver di Paris, Grend Hotel Europe Di St. Petersberg, Hotel Saecher Di Vienna, Dan Hotel Savoy Di London, hotel tak jadi tempat penginapan semata, tapi sebuah tempat tinggal megah di lengkapi perabotan mebel serta barang penghias mewah, sering termasuk karya seni. Sejak itu hotel menjadi bagian bagian gaya hidup kalangan atas untuk menghabiskan waktu senggang. Berkembang hotel semacam itu di eropa, bisa jadi terinspirasi keberadaan hote-hotel di koloni-koloni Negara itu. Hotel Binenhoff di Bogor, yang didirikan pada pertengahan abad ke-19 misalnya, merupakan guest house bersuasana sepadan dengan Istana Bogor.
Pada peralihan abad ke-19 ke-20, Cezar Ritz meneruskan tradisi itu di Eropa, dan Serkies Bersaudara meneruskannya di Asia Tenggara dengan mendirikan Hotel Strand Rangoon, Hotel Eastern & Oriental Penang, Hotel Orenje Surabaya dan Hotel Kartika Wijaya di Batu, Hotel Des Indes Batavia dan The Manila dihias menjadi tempat megah mewah menimbulkan kesan berbudaya.
Sementara hotel-hotel di awal abad ke-20 cenderung dengan arsitektur bergaya revival (kebangkitan kembali), tahun 1916, Frank Lloyd Wright di percaya merancang imperial Hotel di Tokyo. Sejak itu, arsitektur modern menjadi bagian penting perancangan hotel, seperti hotel Savoy-Homann di Bandung karya Wolff Schoemarker yang bergaya Art-deco.
Setelah perang dunia II usai, hotel-hotel yang muncul cenderung dirancang lebih praktis, efesien dan ekonomis, sesuai kaidah arsitektur Modernis dan mashab Internasional Style. Di Indonesia kecenderungan semacam itu juga di rasakan di Hotel Indonesia, yang didirikan untuk menampung peserta Asian Games 1962. Namun pada rencana modernis Abel Sorensen, arsitek Amerika Serikat keturunan Denmark, di tampilkan seni rupa public karya para perupa Indonesia.
Presiden pertama Soekarno, paham betul seni rupa memiliki potensi besar mengumandangkan semangat bangsa sebuah republik muda. Selain dihadirkan menjadi landmark di titik-titik strategis ibukota, karya-karya seni publik juga menghiasi hotel-hotel yang dibangunnya. Hotel Indonesia menjadi contoh utama gagasan Soekarno, didalam hotel itu karya-karya monumental seperti mural mozaik karya Gregorius Sidharta menjadi cermin pandangan kebangsaan kita.
Gagasan hotel yang berkembang belakangan ini tek terlepas dari masa lalu - keindahan dan romantisme. Hal itu jelas terasa pada hotel-hotel seperti Tugu Park Hotel Malang, yang buka di awal 1990-an. Gagasan hotel itu, menurut pendiriannya, Anhar Setjadibrata, tak terlapas dari, ”kecintaan luar biasa terhadap barang-barang antik, benda-benda seni sejarah, romantisme dan kenangan yang tiada keindahan dan kebesaran masalalu.” Sebagai pencinta seni, ia mengaku perlu jeli melihat penampilan fisik barang, dan sebagai pengacara, ia juga perlu cermat meneliti bukti dan pengakuan narasumbernya.
Kalau Hotel Tugu Malang menampilkan ruangan “Si Raja Gula - Oei Tiong Ham”, di Bali suites dinamakan le Mayeur Suite dan Walter Spies Suite dan dilengkapi barang-barang yang ia yakini pernah dimiliki kedua perupa itu, di peroleh dari kerabat mereka. Walau yang ia lakukan dalam penelitian ini mirip pekerjaan curator museum, pada akhirnya ia menyadari yang di hasilkan bukanlah pameran museum tapi interior hotel yang boleh dan perlu menggugah romantisme dan fantasi.
Nuansa yang dihadirkan Hotel Tugu Park bukanlah suatu yang baru. Hotel itu meningatkan kita pada Hotel Tanjung.
oleh AMIR SIDHARTA
National Geographic Traveller Indonesia
Paling tidak sejak paruh kedua abad ke-19, dengan munculnya Grand Hotel Du Louver di Paris, Grend Hotel Europe Di St. Petersberg, Hotel Saecher Di Vienna, Dan Hotel Savoy Di London, hotel tak jadi tempat penginapan semata, tapi sebuah tempat tinggal megah di lengkapi perabotan mebel serta barang penghias mewah, sering termasuk karya seni. Sejak itu hotel menjadi bagian bagian gaya hidup kalangan atas untuk menghabiskan waktu senggang. Berkembang hotel semacam itu di eropa, bisa jadi terinspirasi keberadaan hote-hotel di koloni-koloni Negara itu. Hotel Binenhoff di Bogor, yang didirikan pada pertengahan abad ke-19 misalnya, merupakan guest house bersuasana sepadan dengan Istana Bogor.
Pada peralihan abad ke-19 ke-20, Cezar Ritz meneruskan tradisi itu di Eropa, dan Serkies Bersaudara meneruskannya di Asia Tenggara dengan mendirikan Hotel Strand Rangoon, Hotel Eastern & Oriental Penang, Hotel Orenje Surabaya dan Hotel Kartika Wijaya di Batu, Hotel Des Indes Batavia dan The Manila dihias menjadi tempat megah mewah menimbulkan kesan berbudaya.
Sementara hotel-hotel di awal abad ke-20 cenderung dengan arsitektur bergaya revival (kebangkitan kembali), tahun 1916, Frank Lloyd Wright di percaya merancang imperial Hotel di Tokyo. Sejak itu, arsitektur modern menjadi bagian penting perancangan hotel, seperti hotel Savoy-Homann di Bandung karya Wolff Schoemarker yang bergaya Art-deco.
Setelah perang dunia II usai, hotel-hotel yang muncul cenderung dirancang lebih praktis, efesien dan ekonomis, sesuai kaidah arsitektur Modernis dan mashab Internasional Style. Di Indonesia kecenderungan semacam itu juga di rasakan di Hotel Indonesia, yang didirikan untuk menampung peserta Asian Games 1962. Namun pada rencana modernis Abel Sorensen, arsitek Amerika Serikat keturunan Denmark, di tampilkan seni rupa public karya para perupa Indonesia.
Presiden pertama Soekarno, paham betul seni rupa memiliki potensi besar mengumandangkan semangat bangsa sebuah republik muda. Selain dihadirkan menjadi landmark di titik-titik strategis ibukota, karya-karya seni publik juga menghiasi hotel-hotel yang dibangunnya. Hotel Indonesia menjadi contoh utama gagasan Soekarno, didalam hotel itu karya-karya monumental seperti mural mozaik karya Gregorius Sidharta menjadi cermin pandangan kebangsaan kita.
Gagasan hotel yang berkembang belakangan ini tek terlepas dari masa lalu - keindahan dan romantisme. Hal itu jelas terasa pada hotel-hotel seperti Tugu Park Hotel Malang, yang buka di awal 1990-an. Gagasan hotel itu, menurut pendiriannya, Anhar Setjadibrata, tak terlapas dari, ”kecintaan luar biasa terhadap barang-barang antik, benda-benda seni sejarah, romantisme dan kenangan yang tiada keindahan dan kebesaran masalalu.” Sebagai pencinta seni, ia mengaku perlu jeli melihat penampilan fisik barang, dan sebagai pengacara, ia juga perlu cermat meneliti bukti dan pengakuan narasumbernya.
Kalau Hotel Tugu Malang menampilkan ruangan “Si Raja Gula - Oei Tiong Ham”, di Bali suites dinamakan le Mayeur Suite dan Walter Spies Suite dan dilengkapi barang-barang yang ia yakini pernah dimiliki kedua perupa itu, di peroleh dari kerabat mereka. Walau yang ia lakukan dalam penelitian ini mirip pekerjaan curator museum, pada akhirnya ia menyadari yang di hasilkan bukanlah pameran museum tapi interior hotel yang boleh dan perlu menggugah romantisme dan fantasi.
Nuansa yang dihadirkan Hotel Tugu Park bukanlah suatu yang baru. Hotel itu meningatkan kita pada Hotel Tanjung.
oleh AMIR SIDHARTA
National Geographic Traveller Indonesia