Bak cendawan di musim hujan, sentra kerajinan dan toko batik menjamur, memadati perkampungan. Jauh dari kesan glamor, tapi tetap berdaya mantra.
Pekalongan, kota kecil seluas 836,13 km2 yang cantik dengan potensi besar sebagai produsen batik. Monumen canting dan motif batik menjadi penghias lanskap, dapat dijumpai di tiap sudut kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Tak ada lagi alasan untuk mengabaikan pesona Negeri Sejuta Batik yang berada di jalur pantura ini.
Saya mengawali perjalanan bersama rombongan Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI Sapta Nirwandar – berjumlah lebih dari 300 orang, terdiri dari pelaku promosi pariwisata Ibukota, termasuk wartawan – dari stasiun KA Gambir, Jakarta. Kami menumpang kereta wisata Nusantara, yang bergandengan dengan kereta wisata Bali serta rangkaian kereta eksekutif Argo Muria. Kereta wisata Nusantara dilengkapi sofa, bantal, 1 kamar tidur, ruang makan, mini bar, toilet, serta perangkat audio visual. Benar – benar melenakan. Perjalanan Jakarta – Pekalongan selama lima jam terasa singkat, karena kami asyik bercengkerama sambil berkaraoke dan menonton DVD Laskar Pelangi.
Menjejakan kaki di Pekalongan, terasa atmosfer kesahajaan yang menyenangkan dan mengenyahkan penat. Walikota HM Basyir Ahmad dan Wakil Walikota H. Abu Al Mufachir ramah menyambut kami di rumah dinas yang bergaya klasik. Usai bersantap siang, kami berjalan kaki menuju Museum Batik di Jalan Jetayu No. 1, yang hanya berjarak sekitar 100 m dari rumah dinas Walikota. Di Museum seluas 600 m2 ini, rombongan berpencar. Sebagian menjajali butik di sayap kanan dan memulai perburuan produk batik yang memamerkan hamparan batik dari Nusantara beraneka motif dan warna.
Meski menempati bangunan klasik buatan tahun 1906, tapi museum yang diresmikan oleh Presiden SBY, tiga tahun lalu, ini tidak memancarkan kesan usang. Sebaliknya, ruang pamer didesain dengan atmosfer kekinian, hingga seluruh karya seni pusaka yang dipamerkan justru menyemaikan kekaguman dan kebanggan. Mulai dari batik karya Wong Kalongan yang terkenal dengan motif khas Jlampang, juga batik corak keraton Solo dan Yogtakarta, serta Banyumas, Kebumen, Purworejo, Cirebon, Pekalongan, Lasem, dan Madura.
Perjalanan berlanjut menuju Kampoeng Batik kauman. Sentra kearajianan dan toko batik menjamur di perkampungan ini. Meski jauh dari kesan glamor; tapi kampung batik yang terdiri dari belasan gang ini memilik daya mantra yang snaggup mempesona para turis. Selain kami, tampak lalu lalang wisatawan berwajag bulen dan oriental. Semangat bebrbelanja batik tersulut oleh keragaman produk batik yang dibandrol harga relatif terjangkau, dalam waktu singkat berhasil menggembol 4 kantong besar berisikan lusinan produk batik. “Untuk oleh-oleh.” Ia menukas.
Esok hari, kami merambah kampung batik di kecamatan Wiradesa. Tak sekedar memburu produk abtik, kami juga menjajal kerta mini, berkeliling perkampungan hingga berhenti di ruang workshop. Tertarik membuat “batik-batikan,” sebagain dari kami coba menggoraskan malam melalui canting pada kain. Goresan abstrak, spontan mengundang gelak tawa. Tak terasa sudah tiga jam berlalu. Saatnya untuk beranjak, emlanjutkan perjalanan ke pusat grosir batik di Sentono, dan berujung ke Stasiun KA Pekalongan, kembali ke Jakarta dengan kereta wisata. Tiba di rumah, saya mendapat SMS dari Hani, berbunyi, “Alamak, satu kantong belanjaan batikku ketinggalan di kereta!”
LOGISTIK: Transportasi: Semua kereta api kelas eksekutif jurusan Jakarta – Surabaya pp berhenti di stasiun KA Pekalongan. Tips: Pelajar dan umum dapat mengikuti praktek singkat membatik di Museum Batik. Website: www.museumbatik.kotapekalongan.go.id. Penginapan: Hotel Nirwana, Jl. Dr. Wahidin 11, Pekalongan, Telepon: 0285-422446; Hotel Gren Mandarin Jl. Dr. Soetomo, Telepon: 0285-4416523; Hotel Jayadipa Jl. Raya Baros 29, Pekalongan, telepon: 0285-424938.
Oleh VEGA PROBO
National Geographic Traveller Indonesia
Pekalongan, kota kecil seluas 836,13 km2 yang cantik dengan potensi besar sebagai produsen batik. Monumen canting dan motif batik menjadi penghias lanskap, dapat dijumpai di tiap sudut kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Tak ada lagi alasan untuk mengabaikan pesona Negeri Sejuta Batik yang berada di jalur pantura ini.
Saya mengawali perjalanan bersama rombongan Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI Sapta Nirwandar – berjumlah lebih dari 300 orang, terdiri dari pelaku promosi pariwisata Ibukota, termasuk wartawan – dari stasiun KA Gambir, Jakarta. Kami menumpang kereta wisata Nusantara, yang bergandengan dengan kereta wisata Bali serta rangkaian kereta eksekutif Argo Muria. Kereta wisata Nusantara dilengkapi sofa, bantal, 1 kamar tidur, ruang makan, mini bar, toilet, serta perangkat audio visual. Benar – benar melenakan. Perjalanan Jakarta – Pekalongan selama lima jam terasa singkat, karena kami asyik bercengkerama sambil berkaraoke dan menonton DVD Laskar Pelangi.
Menjejakan kaki di Pekalongan, terasa atmosfer kesahajaan yang menyenangkan dan mengenyahkan penat. Walikota HM Basyir Ahmad dan Wakil Walikota H. Abu Al Mufachir ramah menyambut kami di rumah dinas yang bergaya klasik. Usai bersantap siang, kami berjalan kaki menuju Museum Batik di Jalan Jetayu No. 1, yang hanya berjarak sekitar 100 m dari rumah dinas Walikota. Di Museum seluas 600 m2 ini, rombongan berpencar. Sebagian menjajali butik di sayap kanan dan memulai perburuan produk batik yang memamerkan hamparan batik dari Nusantara beraneka motif dan warna.
Meski menempati bangunan klasik buatan tahun 1906, tapi museum yang diresmikan oleh Presiden SBY, tiga tahun lalu, ini tidak memancarkan kesan usang. Sebaliknya, ruang pamer didesain dengan atmosfer kekinian, hingga seluruh karya seni pusaka yang dipamerkan justru menyemaikan kekaguman dan kebanggan. Mulai dari batik karya Wong Kalongan yang terkenal dengan motif khas Jlampang, juga batik corak keraton Solo dan Yogtakarta, serta Banyumas, Kebumen, Purworejo, Cirebon, Pekalongan, Lasem, dan Madura.
Perjalanan berlanjut menuju Kampoeng Batik kauman. Sentra kearajianan dan toko batik menjamur di perkampungan ini. Meski jauh dari kesan glamor; tapi kampung batik yang terdiri dari belasan gang ini memilik daya mantra yang snaggup mempesona para turis. Selain kami, tampak lalu lalang wisatawan berwajag bulen dan oriental. Semangat bebrbelanja batik tersulut oleh keragaman produk batik yang dibandrol harga relatif terjangkau, dalam waktu singkat berhasil menggembol 4 kantong besar berisikan lusinan produk batik. “Untuk oleh-oleh.” Ia menukas.
Esok hari, kami merambah kampung batik di kecamatan Wiradesa. Tak sekedar memburu produk abtik, kami juga menjajal kerta mini, berkeliling perkampungan hingga berhenti di ruang workshop. Tertarik membuat “batik-batikan,” sebagain dari kami coba menggoraskan malam melalui canting pada kain. Goresan abstrak, spontan mengundang gelak tawa. Tak terasa sudah tiga jam berlalu. Saatnya untuk beranjak, emlanjutkan perjalanan ke pusat grosir batik di Sentono, dan berujung ke Stasiun KA Pekalongan, kembali ke Jakarta dengan kereta wisata. Tiba di rumah, saya mendapat SMS dari Hani, berbunyi, “Alamak, satu kantong belanjaan batikku ketinggalan di kereta!”
LOGISTIK: Transportasi: Semua kereta api kelas eksekutif jurusan Jakarta – Surabaya pp berhenti di stasiun KA Pekalongan. Tips: Pelajar dan umum dapat mengikuti praktek singkat membatik di Museum Batik. Website: www.museumbatik.kotapekalongan.go.id. Penginapan: Hotel Nirwana, Jl. Dr. Wahidin 11, Pekalongan, Telepon: 0285-422446; Hotel Gren Mandarin Jl. Dr. Soetomo, Telepon: 0285-4416523; Hotel Jayadipa Jl. Raya Baros 29, Pekalongan, telepon: 0285-424938.
Oleh VEGA PROBO
National Geographic Traveller Indonesia