Bunaken Bebas Sampah

Jumat, 17 Juli 2009

Arus dan gelombang mengantar buangan darat dan perairan ke taman nasional laut. Perlu dipertanyakan lagi, nilai-nilai ekosIstem, etika sampai estetika.

Tengah malam menjelang perayaan Natal 2008, muka air laut di pantai Liang, Pulau Bunaken, surut Hingga jauh ke tengah. Beberapa orang menandai peringatan tibanya musim barat dan hari istimewa itu dengan membuat api unggun. Materinya diambil dari sampah-sampah yang tercecer sepanjang garis pantai. Dikumpulkan menjadi beberapa onggokan,lalu disulut korek nyala.
Toh, ketingian ’bukit sampah’ yang dihasilkan tadi belum seberapa. Sehari kemudian, hujan menderas hingga dua hari berturut-turut, Cuma reda sejenak dan sesudahnya air kembali mengguyur. Muka air laut meninggi, ombak berbuih putih kelabu, susul-menyusul menggempur pantai sembari mengirim limbah. Mulai plastik hingga potongan kayu.

Badai itu sendiri dasyat, terlebih saat perahu para penyelam tak bisa lego jangkar dipantai Liang, Juga di dermaga pintu masuk Tanaman Nasional Laut Bunaken (TNLB). Mereka mesti putar arah dan berlabuh di Alung Banua yang berhadapan dengan Manado Tua.

Hari ketiga, hujan merintik dan muka air laut berangsur normal. Kaki-kaki kami bisa kembali menjejak pasir pantai Liang – sebelumnya hanya berkelana keperkampungan tengah pulau akibat pasang naik berhari- hari. Pemandangan onggokan sampah berjejalan di pesisir, melebihi kondisi malam natal 2008.

Beberapa anggota masyarakat sekitar mulai membersihkan sampah ”Look, They put the rubbish in wheel-barrow and then dump it in the woods behind the beach!” cetus pejalan asing. ”Of course, it’s so simple,” balas Alos Aurelle, rekan pelancongan kami, dalam logat perancis kental.

Nyatanya, perkara sampah dimasukkan dalam gerobak beroda dan timbul ke rerimbunan belakang pantai tak berakhir begitu saja. ”Kami di Bunaken dan di pulau-pulau sekitar dianjurkan membakar sampah dan tidak boleh dibuang ke tepi pantai,” papar Ester Kasehung, manager Panorama Bunaken Indah Resort And Diving Center. “bila lalai, kami dikenakan denda pemerintah desa.”

Sampah telah menjadi ganjalan dan keperihatinan para pejalan sekaligus penduduk Bunaken. Tidak sedap di pandang mata, mengganggu aktivitas Snorkeling dan penyelaman, sekaligus membuat suram pesona TNLB di mata dunia.

Keresahan soal sampah tak kunjung usai ini disampaikan berbagai pihak, termasuk sekjen Depbudpar, yang kini menjabat sebagai Dirjen Pemasaran, petikan DR. sapta Nirwandar dalam situs Departemen Kebudayaan Dan Pariwisata, dua tahun silam berbunyi. ”banyak daerah kawasan wisata bahari yang dulunya menarik wisatawan, karena terumbu karang dan biotanya yang masih terjaga, kini terancam kelestarianya akibat sampah dan limbah industri. Kawasan wisata bahari di Bunaken, Manado, sebagai contoh, kini dihadapkan pada masalah sampah yang cukup memperihatinkan.”

Pembangunan yang berlangsung marak dikawasan boulevard, jalan Piere Tendean, Manado, termasuk reklamasi pantai - dengan luas mencapai 8 hektar menurut Harian Kompas - menjadi salah satu sumber permasalahan. ”Sampah-sampah di Bunaken berasal dari Manado, tidak mungkin berasal dari sini atau pulau-pulau sekitar,” tambah Ester.

Pernyataan perempuan yang bermukiman 27 tahun di desa Bunaken itu beralasan. Seperti disebut tadi, penduduk Bunaken dan sekitarnya dikenai denda bila membuang sembarangan. Tambahan lagi, “Pemerintah setempat memberikan sarana berupa tempat sampah dan penyuluhan untuk membakar sampah.”

Dari pengamatan visual saat pelancongan di pulau Bunaken. Terlihat kepedulian masyarakat setempat akan tempat bermukim mereka. Semisal, di Desa Alung Banua, jalanan disemen, rumah-rumah ditata rapi dilengkapi tempat-tempat sampah dari kayu.

Namun keelokan itu tak tertahan, ketika mendekati pesisir pantai, seperti Liang dan Pangalisang. Aneka plastik bekas makanan instant, sabun cuci , potongan sampah kayu dan dahan terlihat mengapuk di permukaan taman nasional yang luasnya mencapai 89.065 hektar.

Basis data kawasan konservasi laut Indonesia mendeskripsikan kondisi oseanografi perairan Bunaken demikian, “arus permukaan laut mengalir ke arah timur laut sepanjang tahun, sejajar dengan pantai utara Sulawesi. Arus lokal yang dimotori pasang surut dan angin sangat komplek untuk dipetakan. Pada saat dan tempat tertentu terdapat arus yang kuat dan putaran arus.”

Kuatnya arus dan adanya perubahan fisik sepanjang pantai Manado, turut memberi andil terhadap pola arus lokal yang memuluskan pengiriman sampah ke TNLB. United Nations Environment Programme (UNEP) juga menyebutkan bahwa sampah lautan bisa tertiup ke jarak yang begitu jauh oleh angin, terapung di permukaan, terhanyut di kolom air sampai ke perairan dalam akibat arus hingga akhirnya tenggelam di dasar laut.

Mengkaji ulang keberadaan TNLB yang diresmikan pada 1991, area ini merupakan satu dari kawasan laut paling strategis di dunia, menurut sigi lokasi yang di lakukan Erdmann dan Meririll, Bunaken berdekatan dengan segitiga koral Papua Nugini, Indonesia dan Filipina yang merupakan kawasan dengan keberagaman hayati lautan terkaya di pasifik barat. TNLB juga menjadi penyokong kehidupan lebih dari 30 ribu penduduk sekaligus penyumbang sekitar 4,4 juta dolar AS pertahun di bidang pariwisata Tanah Air.

Jadi alangkah ironis bila nasibnya berkhir sebagai tempat sampah raksasa.


Oleh MANGGALANI R. UKIRSARI
National Geographic Traveller Vol. 1 No. 3 2009



*****
Related Posts by Categories