KEHIDUPAN DALAM SEPOTONG CENDRAMATA

Jumat, 08 Januari 2010

Cermatlah membeli dan mencari cendramata bahari.
Oleh DANIEL ABIMANJU CARNADIE

Senja di sebuah resort kepulauan seribu, Jakarta (2001).Saya hendak kembali ke kamar selesai memberi kursus rescue bagi para pemandu selam, ketika dalam keremangan lampu teras terlihat sebuah botol plastik air mineral bergerak memotong jalan tepat di depan saya. Pikiran akan tempat tidur empuk yang menanti, hilang seketika. Otak mengambil alih, memberi pilihan : fight of flight. Belum sempat beraksi si botol sudah masuk kerimbunan pohon di sisi jalan setapak. Dengan senter selam saya periksa botol ajaib itu. Ternyata, seekor kelomang (land hemit crab) tengah memanfaatkannya sebagai rumah.

Pengalaman ini mendatangkan dua ide kepala saya. Pertama, berbagai informasi mengenai pemilihan cendara mata bahari yang ramah lingkungan dan datu lagi, menjual ide, ”botol ngesot” ke produser film horor di tanah air.

Dalam kelompok Crutacea, kelomang memakai cangkang siput (Gastropoda) sebagai bentuk perlindungan diri. Sampai dewasa, seekor kelomang dapat berganti ‘Rumah’ beberapa kali.

Saat tubuhnya berkembang dan rumah lama sudak sesak, ia akan mencari rumah baru. Kalau tak menemukan yang sesuai, hewan itu akan memakai man-made object (baca: sampah) seperti yang saya temui di kepulauan seribu tadi.

Alangkah bagusnya kelomang itu sudah menerapkan prinsip “reuse” dan “recycle”. Sayangnya, manusia telah mengganggu kelangsungan hidupnya lewat tindakan mengambil cakang siput. Akibatnya, ia mesti lebih cerdik dalam upaya mencari rumah baru.

Tiap kali pulang berwisata, kita senantiasa ingin berbagi pengalaman dan cerita. Dan menjadi makin berarti, bila diikuti sebuah benda yang bisa mewakili atau menggambarkan perjalanan itu.

Untuk wisata pantai, kegiatan mencari kerang sudah menjadi semacam acara wajib. Sementara keragaman kerang sendiri, tergantung lokasinya. Makin populer sebuah tujuan wisata pantai, makin sulit menemukan kerang dalam kodisi baik. Pantai yang masih memiliki kerang cukup banyak umumnya berada di daerah terpencil atau masuk kawasan dilindungi.

Sumber :
National Geographic Traveller Indonesia




*****
Related Posts by Categories