Konservasi Badak Jawa

Sabtu, 02 Januari 2010

“Kabar Baik “ Dari Ujung Kulon

Studi kamera dan video jebak terkini menghembus angin segar bagi upaya konservasi Badak Jawa Ujung kulon yang berada di tubir kepunahan.
Oleh FIRMAN FIRDAUS.

Siang itu mentari begitu perkasa. Namun memasuki lekuk-lekuk sungai Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), sinarnya tertahan tutupan kanopi hutan yang yang rapat. Kicau berbagai jenis burung dan kayuhan dayung memercik air, ikut meningkahi perjalanan kami dengan kano, menyusur sungai membelah hutan Cigenter, habitat utama Badak Jawa (Rhiconoceros sondaicus) terakhir – selain di Vietnam- yang berada di jurang kepunahan,

Memasuki kawasan hutan, mulai terlihat jejak-jejak kaki badak. Sumardi, salah satu salah seorang petugas lapangan, dengan sigap mengeluarkan meteran untuk mengukur dIameternya, lalu mencatat dengan teliti. Pengukuran besar, jumlah, arah, dan usia jejak kaki badak hanyalah satu dari serangkaian upaya untuk mengetahui jumlah populasi dan prilaku badak jawa. Sejak desember 2008, Tim pemantau telah memasang 34 kamera dan 30 video jebak untuk mendapatkan gambaran lebih nyata perihal prilaku hewan yang tergolong dalam binatang berkuku ganjil (perrisdactyla) itu.

Gambaran visual dari rekaman video juga bisa digunakan untuk mengidentifikasi morfologi badak ; mulai garis wajah, garis mata, bentuk cula, bentuk telinga, gelambir dan banyak lagi “Tak kalah penting, penentuan jenis kelamin, dimana pada badak betina tidak memiliki cula. Penentuan jenis kelamin berguna untuk mengetahui rasio pejantan–betina sehingga bisa diperkirakan laju reproduksinya,” jelas Iwan Podol, anggota tim pemantau badak yang sudah menjadi sekarelawan sejak 1990 dan kemudian bergabung sebagai Rhino Monitoring Officer WWf Indonesia sejak tahun 2000. WWF sendiri bersama dengan Balai Taman Nasional Ujung Kulon sudah mulai melakukan upaya konservasi badak jawa dikawasan ini sejak 1960-an.

“Langkah lain yang cukup penting dalam upaya konservasi badak jawa di TNUK adalah dengan memperluas padang pengembalaan banteng jawa (Bos javanicus),” ujar Agus Priambudi, kepala Balai TNUK. Terakhir.tim pemantau ”Rhino Monitoring and Protection Unit” telah memperluas padang penggembalaan hingga 15 hektar yang terdapat di Cidaon dan Cigenter.

Langkah ini, imbuhnya, merupakan cara untuk mengurangi kompetisi antara banteng dan badak dalam memperebutkan lahan (habitat) dan makanan. Pasalnya, pertumbuhan populasi banteng begitu cepat sehingga diperlukan usaha lebih keras untuk melokalisasi habitat banteng agar tidak mengganggu populasi badak.

Berdasarkan metode survei yang digunakan saat ini, populasi Badak Jawa diperkirakan mencapai jumlah 50 ekor. Angka ini hampir dua kali lipat dari periode 30 tahun lalu, yakni sekitar 27 ekor. Namun, ini tidak membuat tim di TNUK berpuas diri. Ancaman penyakit seperti anthrax dan penyakit-penyakit yang belum diketahui penyebabnya masih nenghantui.

Analisis terhadap perbaruan metode survei juga terus diupayakan. “Jangan-jangan malah metodenya yang ‘salah’ karena jumlahnya relative stabil selama beberapa tahun belakangan,” papar Agus setengah berseloroh.

Untuk itu, tahun ini TNUK bekerja sama dengan Laboratorium Ekologi Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) akan menguji coba metode baru survei populasi Badak Jawa. Bersama IPB, TNUK bermitra untuk menelusuri peta keturunan Badak Jawa melalui penelitian DNA menggunakan sample dari dari kotoran badak. Studi mengenai peta keturunan bertujuan mengidentifikasi individu yang sehat dan produktif, sehingga badak dengan kekerabatan yang dekat bisa “dipisahkan“ demi menjaga keanekaragaman sifat genetic.

Salah satu kendala yang saat ini tengah dirasakan dalam penelitian populasi badak jawa. Menurut Agus, adalah masih minimnya informasi akan biologi badak, baik perilaku maupun reproduksinya. ”Kedepanya, diperlukan semacam sanctuary atau suaka bagi penelitian badak agar upaya konservasi bias lebih optimal,” pungkas agus.




*****
Related Posts by Categories